Nishfu Sya’ban dan Tanggung Jawab Zaman

@i-nomics

Setiap tahun, Nishfu Sya’ban datang nyaris tanpa hiruk-pikuk. Ia bukan perayaan megah, bukan tontonan publik, dan bukan bahan kompetisi moral. Justru karena sunyinya, malam ini terasa semakin penting di tengah dunia yang kian berisik.

Di zaman kita, yang diperebutkan bukan hanya perhatian, tetapi cara kita memaknai hidup, rezeki, dan keadilan. Sistem ekonomi modern mendorong manusia untuk terus mengejar lebih banyak, lebih cepat, lebih terlihat, lebih menguntungkan yang sering kali dengan mengorbankan ketenangan batin, solidaritas sosial, dan keberlanjuran alam. Politik, iklan, dan pasar membentuk hasrat kita, sementara ketimpangan membuat sebagian orang bekerja sampai lelah dan sebagian lain menumpuk kekayaan tanpa empati.

Di tengah tekanan material inilah Nishfu Sya’ban hadir sebagai anomali spiritual sekaligus sosial: sebuah malam yang mengajak kita berhenti sejenak, menimbang ulang cara kita mencari rezeki, memperlakukan sesama, dan memandang kekayaan bukan sebagai dominasi, melainkan amanah.

Secara tradisi, malam ini dipahami sebagai waktu “pengangkatan amal”. Namun maknanya tak berhenti pada ritual pribadi. Dalam konteks hari ini, ia adalah panggilan untuk pertobatan struktural: memperbaiki cara kita bekerja, berbisnis, berkuasa, dan berbagi. Doa tidak cukup hanya memohon ampun untuk diri sendiri, tetapi juga keadilan bagi yang tertindas dan ruang hidup bagi alam yang terus dieksploitasi.

Menjelang Ramadan, Nishfu Sya’ban menjadi semacam ruang pemanasan moral. Puasa kelak tidak hanya melatih menahan lapar, tetapi menata ulang relasi dengan uang, kekuasaan, dan sesama manusia. Tanpa refleksi ini, Ramadan mudah tereduksi menjadi ritual individual, saleh di sajadah, tetapi abai terhadap ketimpangan.

Bayangkan jika spirit malam ini menetes ke kehidupan ekonomi, maka pengusaha lebih adil pada buruh, pejabat lebih jujur mengelola anggaran, dan masyarakat lebih peduli pada yang rentan. Bukan karena takut diawasi, melainkan karena sadar bahwa kesejahteraan sejati lahir dari keadilan bersama.

Pertanyaan paling relevan di Nishfu Sya’ban bukan sekadar “sudahkah kita berdoa?”, tetapi “sudahkah kita siap berubah?”

Di dunia yang bergerak makin cepat, keberanian untuk berhenti, merenung, dan memperbaiki arah adalah bentuk kebijaksanaan paling langka dan paling dibutuhkan.

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *