Oleh: Iwa Perkasa
Semua siswa diuji dengan cara yang sama. Namun tidak semua berangkat dari tempat yang sama. Di layar komputer, mereka tampak setara. Soal yang sama. Waktu yang sama. Penilaian yang sama. Tetapi ada kenyataan yang tidak ikut tampil di layar. Keadilan, untuk pertama kalinya, dibuat sangat terukur. Tetapi justru di situlah ia mulai terasa tidak sepenuhnya sama.
Computer Assisted Test dirancang untuk menutup satu hal yang selama ini sulit diberantas, yaitu intervensi.
Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi. Tidak ada lagi celah untuk “menitipkan” nama.
Tidak ada lagi tangan yang bisa diam-diam mengubah hasil. Sistem ini, yang juga digunakan oleh Badan Kepegawaian Negara, bekerja dalam satu bahasa, yaitu angka.
Nilai muncul seketika. Peringkat tersusun otomatis. Hasilnya terbuka. Yang tersisa hanya satu hal.
Kemampuan.
Selama bertahun-tahun, penerimaan siswa baru selalu memiliki dua cerita.
Yang pertama adalah cerita resmi, tentang nilai dan kuota. Yang kedua adalah cerita yang hidup di balik layar, tentang kedekatan dan akses.
“Coba titip saja.”
“Nanti saya telepon kepala sekolahnya.”
“Atau langsung ke dinas.”
Kalimat-kalimat itu bukan sekadar percakapan. Terlalu akrab dan bekerja diam-diam. Karena celahnya ada.
Aturan yang lentur membuka tafsir. Verifikasi yang lemah membuka peluang.
Sistem yang belum sepenuhnya transparan membuka ruang kompromi.
Zonasi berbasis jarak, misalnya, tidak selalu berarti siapa yang paling dekat. Ia bisa berubah menjadi siapa yang dibuat terlihat paling dekat. Di situlah titipan menemukan jalannya.
Tahun 2026 menjadi titik patah.
Pemerintah Provinsi Lampung tidak lagi sekadar memperbaiki aturan. Ia mengubah fondasi.
Jalur domisili dipadukan dengan capaian akademik, melalui nilai rapor dan Tes Potensi Akademik berbasis CAT.
Perubahan ini bukan sekadar teknis. Ia mengubah sifat seleksi itu sendiri. Dari yang sulit diverifikasi menjadi terukur. Dari yang bisa dinegosiasikan menjadi terkunci. Untuk pertama kalinya, hasil seleksi benar-benar berdiri di atas sistem.
Di titik ini, kekuasaan kehilangan ruang kerjanya.
Selama ini, pengaruh bekerja di ruang abu-abu. Di antara aturan dan tafsir. Kini ruang itu menyempit.
Nama besar tidak menambah skor. Kedekatan tidak mengubah hasil. Latar belakang keluarga tidak lagi menjadi penentu. Sebuah perubahan yang selama ini terdengar ideal, kini dipaksakan menjadi nyata.
Ironi CAT
Namun perubahan besar selalu membawa konsekuensi. Ketika ruang titipan ditutup, sistem menjadi bersih. Tetapi ketika sistem menjadi bersih, ia juga menjadi kaku.
CAT tidak mengenal cerita di balik peserta. Ia tidak membaca asal sekolah. CAT tidak memahami keterbatasan fasilitas. Ia hanya membaca hasil.
Di sinilah ironi itu berdiri.
Seorang siswa di kota mungkin sudah terbiasa menggunakan komputer sejak awal. Sementara siswa lain baru benar-benar beradaptasi menjelang ujian.
Yang satu fokus pada soal. Yang lain masih beradaptasi dengan alat. Namun keduanya dinilai dengan standar yang sama.
Jika tidak disertai intervensi yang cukup, seperti simulasi, pelatihan, dan pemerataan fasilitas, maka CAT berisiko hanya memindahkan ketimpangan.
Dari relasi menjadi akses. Dari kedekatan menjadi kesiapan.
Sistemnya bersih. Tetapi titik berangkatnya tetap berbeda.
Kesadaran atas hal ini menjadi kunci. Keberhasilan SPMB 2026 tidak berhenti pada hilangnya titipan. Ia ditentukan oleh apa yang terjadi sebelum ujian dimulai.
Apakah semua siswa benar-benar diberi kesempatan yang sama untuk siap. Jika tidak, maka yang berubah hanya mekanismenya. Bukan keadilannya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, memahami bahwa perubahan ini bukan hanya teknis, tetapi juga keberanian.
Ia tidak hanya memperkenalkan sistem baru. Ia menutup ruang lama.
“Kami pastikan tak ada lagi titipan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi konsekuensinya panjang.
Menutup titipan berarti menutup kompromi. Menutup kompromi berarti siap menghadapi tekanan.
Dari relasi. Dari kekuasaan. Dari kebiasaan lama. Sebuah garis batas kini ditarik dengan jelas.
Masuk sekolah tidak lagi ditentukan oleh siapa yang dikenal. Bahkan anak pejabat tidak memiliki jalur khusus. Jika tidak lolos, maka gugur.
Di depan sekolah, antrean tetap ada. Harapan tetap menggantung. Kecemasan tetap terasa.
Namun satu hal berubah secara mendasar. Tidak ada lagi yang berbisik. Tidak ada lagi yang menawarkan jalan pintas. Bukan karena semua orang berubah. Tetapi karena sistem tidak lagi memberi ruang.
Dan di situlah kita tiba pada pertanyaan yang lebih dalam.
Keadilan memang telah dibuat transparan. Tetapi apakah ia sudah dibuat setara sejak awal.
Jika belum, maka persoalan belum selesai. Ia hanya berubah bentuk.
Lebih sunyi.
Lebih rapi.
Tetapi tetap nyata.*****
