Lampung tidak lagi sekadar menanam singkong, tetapi mulai mengubahnya menjadi energi.
@Iwa Perkasa
Dorongan PT Pertamina (Persero) dalam pengembangan bioetanol mulai menggeser posisi Lampung dari sekadar produsen komoditas menjadi simpul penting energi nasional. Di tengah target E20 pada 2028, provinsi ini kini masuk dalam peta utama penyedia bioetanol berbasis singkong.
Target mandatori E20, bahan bakar dengan campuran 20 persen bioetanol, menuntut pasokan dalam skala besar, diperkirakan mencapai 3 hingga 5 juta kiloliter per tahun. Angka ini bukan sekadar ambisi teknis, melainkan lompatan dalam sistem energi nasional yang membutuhkan penguatan produksi dari berbagai daerah.
Dari angka itu, Lampung tentu saja berada di barisan depan.
Sebagai produsen singkong terbesar di Indonesia, provinsi ini memiliki fondasi bahan baku yang sulit ditandingi. Dalam perhitungan kasar, potensi produksi bioetanol dari singkong Lampung dapat mendekati 1 juta kiloliter per tahun. Meski realitas di lapangan tentu jauh lebih kompleks.
Sebab, sebagian besar produksi singkong masih terserap ke industri tapioka dan pakan ternak. Di sisi lain, kapasitas industri bioetanol belum sepenuhnya siap menyerap lonjakan produksi dalam skala besar. Karena itu, dalam skenario realistis, kontribusi Lampung diperkirakan berada di kisaran 10 hingga 25 persen dari kebutuhan nasional.
Angka ini menempatkan Lampung bukan sebagai satu-satunya penopang, tetapi sebagai salah satu kekuatan utama dalam rantai pasok bioetanol Indonesia.
Dampak paling nyata akan terasa di tingkat petani.
Jika sekitar 20 hingga 30 persen produksi singkong mulai dialihkan ke bioetanol, tekanan kelebihan pasokan yang selama ini kerap terjadi berpotensi berkurang. Kehadiran industri energi sebagai offtaker baru membuka peluang stabilisasi harga dan kepastian pasar. Dua hal yang selama ini menjadi persoalan klasik petani.
Namun, manfaat itu tidak datang otomatis.
Tanpa skema kemitraan yang kuat dan transparan, petani tetap berisiko berada di posisi tawar yang lemah. Industri dapat menyerap dalam jumlah besar, tetapi tetap menentukan harga. Bahkan dalam kondisi tertentu, kompetisi bahan baku antara industri tapioka dan bioetanol dapat memicu ketidakseimbangan baru di pasar.
Dengan kata lain, keuntungan di tingkat petani sangat bergantung pada bagaimana rantai nilai ini diatur.
Di sisi yang lebih luas, bioetanol membuka peluang perubahan struktural bagi ekonomi Lampung.
Selama ini, persoalan utama daerah ini bukan pada produksi, melainkan pada nilai tambah. Komoditas melimpah, tetapi sebagian besar dijual dalam bentuk mentah. Hilirisasi berjalan lambat, dan dampak ekonominya terbatas.
Bioetanol menawarkan jalan keluar.
Industri ini berpotensi mendorong peningkatan nilai tambah, memperkuat sektor manufaktur, serta menciptakan efek berganda ke berbagai sektor lain, dari logistik hingga tenaga kerja. Dalam jangka menengah, ini bisa menggeser struktur ekonomi Lampung dari dominasi pertanian menuju agroindustri berbasis energi.
Jika berhasil, bioetanol bukan hanya soal energi. Ini adalah jalan tercepat Lampung keluar dari jebakan ekonomi bahan mentah.
Namun, tantangan tetap besar.
Ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan, kesiapan infrastruktur distribusi, serta kepastian regulasi akan menjadi faktor penentu. Tanpa itu, proyek ini berisiko terjebak pada pola lama, potensi besar, tetapi eksekusi yang tersendat.
Momentum ini tidak datang dua kali. Jika mampu dimanfaatkan, Lampung bisa melompat menjadi pusat energi berbasis pertanian dan memainkan peran penting dalam kemandirian energi nasional. Jika tidak, ia akan kembali pada cerita lama, kaya sumber daya, tetapi miskin nilai tambah.*****
