Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional selalu mengingatkan pada satu gagasan mendasar yang diwariskan Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan bukan sekadar proses belajar, melainkan upaya menuntun manusia menuju kemerdekaan berpikir dan masa depan yang lebih baik.
@Iwa Perkasa
Di Lampung, jalan menuju sekolah kini semakin terbuka. Partisipasi meningkat, ruang-ruang kelas terisi, dan negara hadir dengan dukungan anggaran yang tidak kecil. Secara kasat mata, pendidikan bergerak ke arah yang lebih inklusif. Namun di balik capaian itu, muncul pertanyaan yang mendasar, apakah perluasan akses ini sudah benar-benar diikuti oleh peningkatan kualitas?
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, melihat bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak lagi berada pada persoalan membuka akses. Hampir semua anak, menurutnya, sudah memiliki kesempatan untuk bersekolah. Persoalan yang kini mengemuka justru terletak pada kualitas pembelajaran dan kemampuan sistem pendidikan dalam menghasilkan lulusan yang kompeten.
“Sekarang kita tidak hanya bicara akses. Tantangannya adalah bagaimana memastikan pembelajaran benar-benar berkualitas dan lulusan memiliki kompetensi,” ujarnya.
Pergeseran ini menandai fase baru yang jauh lebih kompleks. Jika sebelumnya keberhasilan pendidikan diukur dari seberapa banyak anak masuk sekolah, kini ukuran itu bergeser pada seberapa dalam mereka memahami apa yang dipelajari. Di titik ini, kemajuan tidak lagi cukup dilihat dari angka partisipasi atau lama sekolah, melainkan dari kualitas pengetahuan dan keterampilan yang terbentuk.
Indikator pembangunan memang menunjukkan tren yang membaik. Rata-rata lama sekolah meningkat dan Indeks Pembangunan Manusia terus bergerak naik. Namun capaian statistik kerap menyisakan ruang sunyi yang tidak sepenuhnya tertangkap angka. Di banyak ruang kelas, proses belajar masih bertumpu pada hafalan, sementara pemahaman konseptual dan kemampuan berpikir kritis belum berkembang merata. Pendidikan hadir secara luas, tetapi dampaknya belum selalu terasa dalam kualitas.
Kondisi ini menjadi semakin nyata ketika lulusan memasuki dunia kerja. Setiap tahun, sekolah dan perguruan tinggi menghasilkan ribuan anak muda dengan harapan yang sama mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun realitas tidak selalu berjalan seiring. Kebutuhan industri berkembang cepat, sementara kompetensi yang dihasilkan sistem pendidikan belum sepenuhnya mampu mengimbangi. Kesenjangan ini menciptakan situasi di mana lulusan tersedia, tetapi tidak selalu relevan.
Thomas Amirico menilai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh sektor pendidikan semata. Ia menekankan pentingnya keterhubungan dengan dunia usaha dan industri agar proses pembelajaran lebih adaptif terhadap kebutuhan nyata.
“Kita harus memperkuat link and match. Dunia pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada keterlibatan industri agar lulusan kita sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja,” katanya.
Di saat yang sama, ketimpangan antarwilayah masih menjadi lapisan persoalan yang belum sepenuhnya terurai. Di wilayah perkotaan, sekolah dengan fasilitas lebih baik dan akses teknologi yang lebih memadai menjadi gambaran kemajuan. Sebaliknya, di sejumlah daerah lain, keterbatasan sarana dan distribusi tenaga pendidik masih menjadi tantangan. Perbedaan ini bukan sekadar variasi kondisi, melainkan turut menentukan kualitas hasil pendidikan yang diterima siswa.
Komitmen negara terhadap pendidikan sebenarnya tidak diragukan. Amanat Undang-Undang Dasar 1945 memastikan sektor ini mendapatkan alokasi anggaran besar. Namun pada tahap ini, persoalan tidak lagi berhenti pada besaran dana, melainkan pada efektivitas penggunaannya. Pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak yang dibelanjakan, tetapi dari apa yang benar-benar terjadi dalam proses belajar, interaksi antara guru dan siswa yang membentuk pemahaman.
Lampung saat ini berada pada titik yang menentukan. Di satu sisi, peluang terbuka melalui bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi yang terus berjalan. Di sisi lain, kualitas sumber daya manusia masih harus diperkuat agar mampu menopang lompatan yang lebih besar. Tanpa perbaikan yang mendasar, pendidikan berisiko hanya menjadi sistem yang berjalan rutin, tanpa daya dorong yang cukup untuk mengubah arah pembangunan.
Thomas Amirico menegaskan bahwa arah kebijakan ke depan akan difokuskan pada penguatan kualitas dan relevansi pendidikan agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Kita ingin pendidikan di Lampung benar-benar menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi perubahan,” ujarnya.
Maka, Thomas mengajak Hari Pendidikan Nasional diperingati lebih dari sekadar seremoni, dengan menghadirkan refleksi bahwa pekerjaan rumah pendidikan belum selesai. Akses yang luas adalah langkah awal, tetapi bukan tujuan akhir. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana memastikan setiap proses belajar memiliki makna dan dampak.
Sebagaimana diajarkan Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah proses menuntun. Dan di tengah perubahan yang terus berlangsung, arah tuntunan itulah yang akan menentukan seperti apa masa depan Lampung dibentuk.*****
