@Iwa Perkasa
Ada sesuatu yang mengganggu dari berita kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Sulawesi Tenggara. Bukan karena Sulawesi Tenggara mendapatkan jutaan bibit kelapa dan kakao. Bukan pula karena pemerintah pusat menyiapkan Rp9,5 triliun untuk pengembangan perkebunan nasional.
Yang mengganggu adalah satu pertanyaan sederhana, “Mengapa Lampung tidak berada di tengah cerita besar itu?”
Padahal kalau bicara perkebunan, Lampung bukan pemain figuran. Lampung adalah raksasa.
Produksi singkong Lampung mencapai sekitar 7,9 juta ton atau lebih dari separuh produksi nasional.
Lampung merupakan produsen kopi terbesar kedua Indonesia dengan areal lebih dari 152 ribu hektare dan produksi sekitar 120 ribu ton per tahun. Lampung juga menjadi salah satu basis utama tebu nasional.
Kalau pemerintah pusat berbicara hilirisasi perkebunan, secara logika Lampung seharusnya berada di ruang utama. Tetapi kenyataannya tidak demikian.
Dan mungkin masalahnya bukan di Jakarta. Mungkin masalahnya ada di Lampung sendiri.
Selama bertahun-tahun sektor perkebunan Lampung terlihat terlalu sibuk mengurus kebun.
Produktivitas naik. Bibit dibagikan. Panen meningkat. Luas tanam bertambah.
Tetapi dunia sudah berubah.
Jakarta tidak lagi terpesona oleh angka produksi. Jakarta sekarang terpesona oleh hilirisasi. Mereka mencari daerah yang menawarkan industri. Mereka mencari daerah yang menawarkan investasi. Mereka mencari daerah yang menawarkan lapangan kerja. Mereka mencari daerah yang menawarkan masa depan.
Pertanyaannya, “Apa yang sedang ditawarkan Lampung?”
Mari jujur.
Lampung adalah produsen singkong terbesar Indonesia. Tetapi belum menjadi pusat bioindustri singkong nasional. Lampung adalah salah satu produsen kopi terbesar Indonesia. Tetapi belum menjadi pusat industri kopi nasional. Lampung memiliki tebu. Tetapi belum menjadi episentrum bioetanol nasional.
Artinya ada sesuatu yang terputus. Komoditas ada. Industri belum tumbuh secepat potensinya. Bahan baku melimpah. Nilai tambah masih banyak dinikmati di luar daerah.
Karena itu pekerjaan Dinas Perkebunan hari ini seharusnya bukan sekadar meningkatkan produksi. Itu pekerjaan penting, tetapi tidak cukup.
Yang lebih penting adalah membawa Lampung masuk ke dalam agenda besar nasional. Masuk ke pusaran, memperjuangkan Lampung sebagai pusat hilirisasi singkong. Memperjuangkan Lampung sebagai pusat bioetanol. Memperjuangkan Lampung sebagai pusat industri kopi. Memperjuangkan investasi yang membuat hasil kebun tidak lagi keluar sebagai bahan mentah.
Karena kalau pekerjaan dinas hanya berhenti pada urusan kebun, maka Lampung akan terus memproduksi bahan baku sementara daerah lain menikmati nilai tambah.
Sulawesi Tenggara mungkin tidak memiliki singkong sebesar Lampung. Tidak memiliki kedekatan dengan pasar Jawa seperti Lampung. Tidak memiliki industri tapioka sebanyak Lampung. Tetapi mereka berhasil masuk ke dalam narasi masa depan yang sedang dibangun pemerintah pusat.
Dan dalam politik pembangunan, perhatian tidak diberikan kepada daerah yang paling kaya komoditas. Perhatian diberikan kepada daerah yang paling mampu menjelaskan apa yang akan dilakukan terhadap komoditas tersebut.
Maka pertanyaan untuk Dinas Perkebunan Lampung hari ini bukan lagi Berapa ton kopi yang diproduksi? Bukan pula Berapa hektare tebu yang ditanam?
Tetapi, “Apa proyek besar yang sedang diperjuangkan sehingga Jakarta melihat Lampung sebagai pusat hilirisasi perkebunan Indonesia?”
Kalau pertanyaan itu belum punya jawaban yang jelas, maka mungkin memang sudah waktunya Dinas Perkebunan berhenti sekadar mengurus kebun dan mulai mengurus masa depan.*****
