Jembatan Garuda Resmi Dibuka, Menyatukan Dua Tepian dan Membuka Harapan Baru di Mesuji

Bertahun-tahun lamanya, sungai bukan hanya membelah wilayah di Desa Pangkal Mas, Kecamatan Mesuji Timur. Ia juga membatasi mobilitas warga, memperpanjang perjalanan, dan menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.

Kini, sekat itu mulai runtuh.

MESUJI – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meresmikan Jembatan Garuda di Desa Pangkal Mas, Kabupaten Mesuji, Rabu (24/6/2026), sebuah infrastruktur yang tidak sekadar menghubungkan dua tepian sungai, tetapi juga membuka akses dan harapan baru bagi masyarakat.

Berdiri dengan warna merah putih yang mencolok, jembatan tersebut menjadi simbol hadirnya negara di daerah-daerah yang selama ini masih terkendala keterbatasan akses.

“Tadi baru saja kita melihat peresmian Jembatan Garuda. Ini merupakan program Bapak Presiden yang ditugaskan kepada rekan-rekan TNI untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan masyarakat membangun jembatan-jembatan seperti ini. Fungsinya untuk menghubungkan daerah-daerah yang selama ini terpisah karena sungai,” ujar Gubernur Mirza.

Pembangunan Jembatan Garuda merupakan bagian dari program pemerintah pusat yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara TNI dan masyarakat untuk membuka keterisolasian wilayah.

Menurut Mirza, masih banyak daerah di Indonesia yang menghadapi persoalan serupa, sementara pemerintah daerah kerap terbentur keterbatasan anggaran untuk membangun infrastruktur penghubung.

Karena itu, kehadiran program tersebut menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

“Alhamdulillah negara hadir untuk menghubungkan masyarakat. Program seperti ini tidak hanya ada di Mesuji, tetapi juga dibangun di Tanggamus, Lampung Tengah, dan saat ini sedang dibangun di Lampung Timur,” katanya.

Bagi masyarakat di sekitar Pangkal Mas, kehadiran jembatan ini berarti lebih dari sekadar infrastruktur fisik.

Ia berarti perjalanan yang lebih singkat. Akses lebih mudah menuju sekolah, pasar, lahan pertanian, dan pusat pelayanan. Pun, berarti peluang ekonomi yang semakin terbuka.

“Semoga dengan adanya jembatan ini hubungan antara dua wilayah yang terhubung menjadi lebih baik, ekonomi masyarakat semakin berkembang, dan berbagai urusan kehidupan menjadi lebih mudah,” kata Mirza.

Namun, Gubernur mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada saat peresmian.

Jembatan yang telah dibangun harus dijaga bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Jembatannya sudah dibangun, mari kita jaga bersama-sama supaya awet dan tetap baik. Kalau ada kerusakan kecil, mari kita perbaiki bersama-sama,” pesannya.

Bupati Mesuji Elfianah juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI, khususnya Kodim 0426/Tulang Bawang, yang telah memfasilitasi pembangunan jembatan hingga dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Kami berterima kasih kepada Pak Dandim beserta jajaran yang telah memfasilitasi sehingga Jembatan Garuda atau Jembatan Merah Putih ini dapat berdiri dan dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Elfianah, semangat gotong royong yang melahirkan jembatan tersebut juga harus menjadi semangat dalam merawatnya.

“Jembatan ini harus disyukuri dan dirawat. Jangan menunggu rusak parah baru diperbaiki. Jika ada kerusakan kecil, masyarakat bersama pemerintah desa dapat segera bergotong royong memperbaikinya agar tidak membutuhkan biaya besar di kemudian hari,” tegasnya.

Di banyak tempat, sebuah jembatan hanya dipandang sebagai tumpukan besi dan beton yang membentang di atas sungai.

Namun di Pangkal Mas, Jembatan Garuda memiliki arti yang lebih dalam.

Ia menjadi penghubung antarwilayah, pemersatu masyarakat, dan penanda bahwa pembangunan akhirnya menjangkau mereka yang selama ini berada di seberang.

Karena sesungguhnya, ketika sebuah jembatan dibangun, yang disambungkan bukan hanya dua tepian sungai.

Tetapi juga harapan, kesempatan, dan masa depan masyarakat yang hidup di kedua sisinya.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *