Mesuji Tak Lagi Menjemur Harapan di Bawah Matahari

Selama bertahun-tahun, petani di Mesuji menggantungkan nasib panennya pada cuaca. Ketika matahari bersinar terik, mereka bisa tersenyum karena gabah dapat dijemur hingga kering dan dijual dengan harga yang baik. Namun ketika hujan turun berhari-hari, tumpukan gabah berubah menjadi kecemasan. Kadar air tinggi membuat kualitas menurun, harga jatuh, bahkan tak jarang petani merugi.

Bagi petani padi, panen ternyata tidak berakhir ketika gabah dipotong dari sawah. Ada satu tahapan yang tak kalah menentukan, yaitu proses pengeringan.

Di tengah persoalan itulah, secercah harapan baru hadir di Desa Tanjung Mas Makmur, Kecamatan Mesuji Timur.

Pemerintah Provinsi Lampung resmi meluncurkan program Bed Dryer Tahun Anggaran 2026, sebuah fasilitas pengering gabah modern yang diharapkan menjadi titik balik bagi pertanian di Kabupaten Mesuji.

Peluncuran yang dilakukan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Rabu (24/6/2026), merupakan bagian dari program prioritas Desaku Maju, yang mendorong hilirisasi pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai tambah hasil panen.

Bagi sebagian orang, mesin pengering itu mungkin hanya seperangkat alat.

Namun bagi petani Mesuji, ia adalah jawaban atas persoalan yang selama ini menggerus hasil kerja mereka.

“Saya ingat betul pesan yang pernah saya sampaikan, Mesuji sudah capek tertinggal dari daerah-daerah lain di Provinsi Lampung. Hari ini saya kembali hadir untuk memastikan bahwa kemajuan itu benar-benar hadir di Kabupaten Mesuji,” kata Mirza.

Kabupaten Mesuji sendiri merupakan salah satu sentra pangan penting di Lampung dengan luas tanam mencapai sekitar 56 ribu hektare. Potensi besar itu selama ini ditopang oleh kerja keras para petani yang setiap musim tanam berhadapan dengan berbagai tantangan, mulai dari benih, pupuk, hingga persoalan pascapanen.

Menurut Mirza, pemerintah kini tidak hanya berfokus meningkatkan produksi, tetapi juga mulai membenahi rantai pascapanen yang selama ini menjadi titik lemah sektor pertanian.

“Kalau gabah dijemur secara tradisional membutuhkan waktu berhari-hari dan kualitasnya menurun. Akibatnya harga jual menjadi rendah. Karena itu kami menghadirkan teknologi bed dryer agar gabah bisa dikeringkan lebih cepat dan kualitasnya terjaga,” ujarnya.

Bantuan bed dryer berkapasitas 20 ton tersebut diberikan kepada Gapoktan Makarti Jaya Abadi.

Bupati Mesuji Elfianah mengatakan keberadaan fasilitas itu sangat strategis karena mampu memangkas waktu pengeringan gabah menjadi hanya sekitar 10 hingga 12 jam.

“Bantuan ini sangat penting karena petani tidak lagi bergantung pada cuaca saat mengeringkan gabah. Kualitas hasil panen lebih terjaga, harga jual lebih baik, dan kerugian pascapanen dapat ditekan,” katanya.

Sebelumnya, petani di Mesuji membutuhkan waktu hingga tujuh hari untuk mengeringkan gabah secara konvensional.

Bahkan, karena keterbatasan fasilitas, tidak sedikit petani yang terpaksa membawa gabah ke Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, untuk mendapatkan layanan pengeringan yang lebih baik.

Kini keadaan mulai berubah.

Anggota Gapoktan Makarti Jaya Abadi, Misnatun, mengaku kehadiran bed dryer membawa harapan baru bagi para petani.

Menurutnya, hasil uji coba menunjukkan gabah yang dikeringkan menggunakan mesin menghasilkan kualitas beras yang lebih baik dibandingkan metode penjemuran tradisional.

“Sekarang dengan adanya bed dryer di Tanjung Mas Makmur, kondisinya justru berbalik,” ujarnya.

Bagi para petani, kehadiran mesin pengering itu bukan sekadar soal teknologi. Ia juga berarti kepastian.

Kepastian bahwa panen tidak lagi ditentukan oleh cerah atau mendungnya langit.

Kepastian bahwa gabah tidak lagi menumpuk di halaman rumah menunggu matahari.

Dan kepastian bahwa kerja keras selama berbulan-bulan di sawah memiliki peluang lebih besar untuk dihargai dengan harga yang lebih baik.

Di Mesuji, modernisasi pertanian kini tidak datang dalam bentuk gedung megah atau proyek besar.

Ia hadir dalam sebuah mesin pengering gabah.

Mesin yang memungkinkan petani berhenti menjemur harapan mereka di bawah matahari dan mulai menyimpannya dalam teknologi yang menjanjikan masa depan yang lebih pasti.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *