
BANDAR LAMPUNG — Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai mengubah aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Lampung. Selain hujan abu yang dilaporkan terjadi di sejumlah daerah, Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah khusus di sektor pendidikan dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar seluruh jenjang pendidikan ke sistem daring.
Kebijakan itu dituangkan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melalui Surat Edaran Nomor 150 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Akibat Dampak Abu Vulkanik, yang ditetapkan di Bandar Lampung pada 6 September 2026.
Dalam surat tersebut, seluruh aktivitas belajar mengajar jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK dan SLB dialihkan menjadi pembelajaran secara daring atau online dari rumah.
Kebijakan berlaku mulai Senin, 7 September hingga Selasa, 8 September 2026, sambil pemerintah terus memantau perkembangan kondisi berdasarkan informasi dari otoritas berwenang.
Gubernur juga meminta kepala satuan pendidikan dan guru tetap menjalankan tugas dari sekolah serta memastikan seluruh materi pembelajaran tersampaikan melalui platform digital yang tersedia.
Orang tua diminta mengawasi dan mendampingi anak selama pembelajaran dari rumah.
Keputusan pemerintah mengalihkan KBM bukan tanpa alasan. Abu vulkanik dari aktivitas GAK telah dilaporkan menyebar ke seluruh wilayah Lampung.
Laporan warga menyebutkan paparan abu telah menimbulkan keluhan seperti mata perih, tenggorokan tidak nyaman dan gangguan pernapasan ketika warga beraktivitas di luar rumah.
Di Bandar Lampung, dampak abu terlihat secara fisik. BPBD dan Damkarmat melakukan penyemprotan sejumlah ruas jalan yang tertutup abu vulkanik pada Minggu pagi.
Kondisi tersebut membuat persoalan erupsi tidak lagi semata menyangkut aktivitas gunung api, tetapi telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat, mobilitas dan pelayanan publik.
BMKG memperkuat gambaran mengenai luasnya dampak erupsi.
Berdasarkan analisis citra satelit Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten serta Jawa Barat.
Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda dan Samudra Hindia.
Pergerakan abu pada ketinggian tersebut menjadi persoalan serius bagi penerbangan.
BMKG menyebut telah menerbitkan 50 SIGMET secara berkala untuk mendukung keselamatan navigasi udara. Sejumlah bandara juga mengalami penutupan sementara berdasarkan perkembangan sebaran abu dan pertimbangan keselamatan penerbangan, termasuk Bandara Radin Inten II Lampung.
Penerbangan Lampung-Jakarta terdampak
Di Lampung, dampak langsung terlihat pada konektivitas udara. Sejumlah penerbangan dari Lampung menuju Jakarta dan sebaliknya di Bandara Radin Inten II dibatalkan akibat penyebaran abu vulkanik GAK.
Dengan demikian, erupsi GAK mulai memberikan efek berantai. Abu mengganggu kualitas lingkungan, masyarakat mengurangi aktivitas luar rumah, sekolah dialihkan ke pembelajaran daring dan penerbangan terganggu.
Dampaknya bahkan telah meluas ke luar Lampung.
Reuters melaporkan erupsi menyebabkan penghentian sementara penerbangan di sejumlah bandara dan mengganggu ratusan penerbangan. Abu vulkanik juga berdampak pada aktivitas sekolah dan perikanan di wilayah yang terkena sebaran abu.
Pemprov Lampung meminta masyarakat tetap tenang tetapi meningkatkan kewaspadaan. Imbauan serupa juga telah disampaikan oleh Walikota Bandar Lampung Eva Dwiana melalui pelantang suara di masjid dan musala.
Imbauan serupa disampaikan Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi. Masyarakat diminta tidak panik dan mengurangi aktivitas di luar rumah menyusul peningkatan aktivitas GAK yang masih berstatus Level III atau Siaga.
Surat edaran Gubernur juga secara khusus meminta siswa, guru dan orang tua mengurangi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker apabila harus keluar untuk menghindari risiko ISPA, iritasi mata dan iritasi kulit akibat abu vulkanik.
Tidak ada indikasi tsunami
Di tengah meluasnya dampak abu, aspek yang juga menjadi perhatian adalah kemungkinan tsunami.
Namun berdasarkan pemantauan BMKG terhadap 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB, tidak ditemukan anomali muka air laut.
Analisis HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan probabilitas tsunami berada pada tingkat rendah, yakni di bawah 40 persen, dengan tinggi gelombang laut sekitar satu meter.
BMKG tetap melakukan pemantauan terpadu selama 24 jam bersama PVMBG-Badan Geologi.(iwa)
