Abu vulkanik selalu datang bersama keluhan. Mengotori rumah dan kendaraan, mengganggu aktivitas warga, menghambat penerbangan, membuat nelayan harus berhitung ulang dengan keselamatan, bahkan dapat mengganggu tanaman dan kesehatan. Dalam situasi Gunung Anak Krakatau kembali aktif seperti sekarang, menggerutu karena abu adalah hal yang sangat manusiawi. Tetapi jangan buru-buru membencinya.
@Iwa Perkasa
Sebab di balik material yang hari ini dianggap mengganggu, ada proses alam yang jauh lebih panjang. Abu vulkanik tidak selamanya menjadi debu yang beterbangan. Ia dapat mengalami pelapukan, bercampur dengan bahan organik, berinteraksi dengan air dan mikroorganisme, lalu perlahan menjadi bagian dari tanah.
Di situlah Gunung Anak Krakatau menarik dilihat dari sudut yang berbeda. Bukan hanya sebagai ancaman, melainkan juga sebagai laboratorium alam yang terus bekerja.
Penelitian terhadap material erupsi Gunung Anak Krakatau pada Desember 2018 memberi petunjuk penting. Studi yang diterbitkan dalam Geoderma Regional pada 2021 meneliti material vulkanik yang dikumpulkan 63 dan 82 hari setelah erupsi. Penelitian itu menemukan bahwa material GAK berupa abu dan lapili (pecahan material vulkanik berukuran sekitar 2–64 milimeter) yang terlontar saat gunung api meletus.memiliki komposisi basalt hingga basaltik-andesit dengan mineral dominan berupa plagioklas dan gelas vulkanik. Kandungan SiO₂ pada dua kelompok material yang diteliti masing-masing rata-rata sekitar 39 persen dan 54,9 persen. Basalt adalah jenis batuan vulkanik yang terbentuk dari lava yang mendingin dan membeku. Warnanya umumnya gelap atau hitam, dan kaya akan mineral seperti besi dan magnesium.,
Yang menarik bukan hanya kandungannya, tetapi apa yang terjadi setelah material itu jatuh ke permukaan.
Para peneliti menemukan bahwa material vulkanik baru tersebut segera mengalami remobilisasi oleh air. Hujan membentuk alur-alur erosi dan membawa sebagian material ke tempat lain. Proses semacam ini merupakan bagian dari tahapan awal pembentukan tanah atau pedogenesis. Karena usia materialnya diketahui dengan cukup tepat dan Anak Krakatau relatif terisolasi dari aktivitas manusia, kawasan itu menjadi semacam laboratorium alami untuk mempelajari bagaimana tanah terbentuk dari material vulkanik baru.
Artinya, abu bukan material yang berhenti bekerja setelah jatuh.
Ia justru baru memulai perjalanan.
Air bekerja lebih dahulu. Mineral mulai mengalami pelapukan. Sebagian unsur larut dan berpindah. Organisme kemudian datang. Tumbuhan mulai tumbuh. Bahan organik bertambah. Sedikit demi sedikit, material yang semula hanya berupa endapan vulkanik berubah menjadi bagian dari sistem tanah.
Prosesnya tidak instan.
Karena itu, keliru jika abu vulkanik disebut sebagai pupuk yang langsung membuat tanah subur. Penelitian GAK 2018 justru menunjukkan bahwa material awal tersebut memiliki kapasitas tukar kation (ion bermuatan listrik positif) yang relatif rendah dan sejumlah kation mudah terlindi. Rata-rata pH material yang diteliti sekitar 5,9.
Kesuburan adalah hasil perjalanan, bukan hadiah yang langsung turun bersama abu.
Di banyak kawasan vulkanik dunia, perjalanan itu kemudian menghasilkan tanah yang bernilai bagi pertanian. USGS mencatat bahwa endapan abu yang mengalami pelapukan dapat menjadi bagian dari tanah dan bahkan menopang kegiatan pertanian. Di Hawaii, misalnya, lapisan abu yang telah mengalami pelapukan menjadi bagian penting dari perkembangan tanah pertanian di sejumlah kawasan.
Tetapi abu mempunyai dua wajah.
Dalam jumlah dan kondisi tertentu, ia bisa bermanfaat dalam proses pembentukan tanah. Dalam kondisi lain, terutama jika endapannya tebal, abu dapat menekan tanaman, mengganggu fotosintesis, mengubah sifat kimia tanah, bahkan menyebabkan kerusakan serius pada pertanian. Dampaknya bergantung pada komposisi abu, ketebalan endapan, jenis tanaman, fase pertumbuhan, hujan dan kondisi lingkungan.
Karena itu, jangan benci abu bukan berarti menganggap abu tidak berbahaya.
Justru sebaliknya. Abu harus diperlakukan sebagai material yang perlu dipahami.
Dan di sinilah muncul pertanyaan apakah material yang dimuntahkan Gunung Anak Krakatau juga bisa mempunyai nilai ekonomi?
Jawabannya belum boleh dipastikan sekarang. Tetapi pertanyaannya sangat layak diteliti.
Studi terhadap material GAK 2018 menunjukkan kandungan silika yang cukup berarti. Kelompok material basaltik-andesitik yang lebih umum dalam penelitian tersebut memiliki rata-rata SiO₂ sekitar 54,9 persen. Ada pula kandungan aluminium, besi, kalsium, kalium, fosfor dan sejumlah unsur lainnya.
Data itu menarik bagi dunia industri.
Silika, misalnya, merupakan bahan penting dalam berbagai industri. Tetapi keberadaan SiO₂ di dalam abu tidak otomatis membuat abu GAK layak menjadi bahan baku kaca. Industri kaca membutuhkan persyaratan komposisi dan kemurnian tertentu. Kandungan pengotor, jenis mineral, ukuran butir serta karakter fisik dan kimianya harus diketahui.
Karena itu, jika ingin berbicara tentang investasi dari gunung, langkah pertamanya bukan membangun pabrik.
Langkah pertamanya adalah penelitian.
Abu dari erupsi GAK 2026 perlu diambil sebagai sampel yang representatif. Laboratorium dapat menguji komposisi kimianya melalui XRF atau spektrometri fluoresensi sinar-X, mengidentifikasi mineral melalui XRD, mengukur ukuran butir, tingkat keasaman, unsur hara, unsur jejak, serta berbagai karakteristik lain yang diperlukan untuk mengetahui kemungkinan pemanfaatannya.
Dari sana baru bisa diketahui apakah material tersebut memiliki nilai komersial. Dari sana akan dapat jawabannya. Dapat digunakan untuk campuran bahan konstruksi apa atau mungkin juga tidak ekonomis sama sekali.
Semua kemungkinan itu harus dibuka oleh penelitian, bukan ditentukan oleh asumsi.
USGS sendiri mencatat bahwa abu vulkanik dalam kondisi tertentu dapat dimanfaatkan dengan cara dicampurkan ke tanah maupun digunakan sebagai komponen mortar atau beton, tetapi kelayakannya sangat bergantung pada sifat fisik dan kimia abu serta ketebalan endapannya.
Di sinilah konsep investasi dari gunung menjadi menarik.
Investasi tidak selalu dimulai dengan uang yang masuk ke sebuah proyek. Investasi bisa dimulai dengan pengetahuan.
Satu sampel abu yang diteliti hari ini dapat menjadi data bagi penelitian bertahun-tahun. Data itu bisa menjadi dasar inovasi. Inovasi dapat melahirkan produk. Produk dapat melahirkan industri. Dan industri, jika memang layak secara ekonomi dan lingkungan, dapat menciptakan nilai tambah.
Itulah rantai yang sering luput ketika bencana hanya dilihat sebagai urusan tanggap darurat.
Gunung Anak Krakatau telah menyediakan kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang sangat langka tentang bagaimana material baru dari gunung berubah, berpindah, melapuk dan berinteraksi dengan lingkungan tropis dari waktu ke waktu.
Karena itu, setiap erupsi seharusnya tidak hanya menghasilkan laporan tentang tinggi kolom abu dan arah sebarannya. Semestinya juga menghasilkan pengetahuan tentang komposisi materialnya, apa manfaatnya, dan seberapa nilainya.
Dan, yang tidak kalah penting, apakah pemanfaatannya secara ekonomi benar-benar aman bagi lingkungan?
Pertanyaan-pertanyaan itu dapat menjadi agenda riset bersama perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, lembaga geologi dan dunia usaha.
Lampung tidak harus menunggu gunung berhenti meletus untuk belajar dari gunung. Justru selama proses alam berlangsung, data harus dikumpulkan.
Sebab sumber daya alam tidak selalu hadir dalam bentuk minyak, gas, emas atau batu bara. Kadang ia hadir dalam bentuk yang pada awalnya justru dianggap sebagai gangguan.
Abu adalah salah satunya.
Hari ini ia mungkin membuat rumah kotor, penerbangan terganggu dan aktivitas masyarakat tersendat. Tetapi dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang, sebagian material itu dapat menjadi bagian dari tanah. Sebagian lainnya mungkin memiliki nilai material yang baru diketahui setelah diuji.
Tentu tidak semua abu akan menjadi kekayaan. Dan tidak setiap kandungan mineral akan menjadi komoditas. Tetapi justru karena itulah penelitian diperlukan.
Jangan sampai kita hanya sibuk membersihkan abu, lalu membuang kesempatan untuk mengetahui apa sebenarnya yang terkandung di dalamnya.
Gunung Anak Krakatau sudah bekerja dengan caranya sendiri. Tugas manusia bukan mengubah letusan menjadi sesuatu yang romantis. Tugas kita adalah memahami prosesnya, mengurangi risikonya, melindungi masyarakat, lalu mencari pengetahuan dan peluang yang mungkin lahir dari sana.
Jadi, boleh menggerutu. Boleh mengeluh. Boleh merasa terganggu. Tetapi jangan buru-buru membenci abu.
Sebab sesuatu yang hari ini tampak seperti gangguan, dalam perjalanan alam yang panjang dapat menjadi bagian dari tanah. Dan sesuatu yang kita anggap sebagai material sisa, setelah diteliti dengan benar, mungkin saja menyimpan nilai ekonomi.
Gunung bisa membawa bencana. Tetapi gunung juga dapat mengajarkan bahwa investasi terbaik kadang dimulai dari sesuatu yang belum kita pahami nilainya.****
