Siang ini, Jumat (11/09/2026), dermaga Pelabuhan Bakauheni tampak bersahabat. Langit cerah, angin bertiup normal, dan gelombang di Selat Sunda tak lebih dari riak biasa.

Kapal-kapal feri keluar-masuk dermaga dengan ritme yang tenang, mengangkut penumpang dan kendaraan dalam jumlah yang wajar untuk hari kerja. Tidak padat, tidak pula lengang.
Di tengah arus penyeberangan yang lancar itu, seorang perempuan asal Lampung, Fitri, menaiki salah satu kapal menuju Merak. Tujuannya bukan sekadar Jakarta. Dari ibu kota, perjalanannya akan berlanjut lewat udara, menembus batas negara menuju Bangkok, Thailand, untuk sebuah urusan bisnis yang menantinya keesokan hari.
Perjalanan darat-laut-udara semacam ini bukan hal asing bagi warga Lampung yang hendak bepergian jauh.
Namun ada konteks yang membuat penyeberangan hari ini terasa lebih berarti dari biasanya.
Beberapa hari sebelumnya, aktivitas vulkanik Anak Krakatau sempat melumpuhkan sejumlah penerbangan dari Bandara Radin Inten II, memaksa banyak calon penumpang pesawat beralih ke jalur laut Bakauheni–Merak sebagai alternatif menuju Jawa.
Kala itu, meski lalu lintas menuju pelabuhan lebih ramai dari biasanya, arus kendaraan dan proses menaiki kapal tetap berjalan tanpa hambatan berarti.
Kini, situasi berangsur normal. Cuaca cerah yang menaungi dermaga siang ini sejalan dengan prakiraan BMKG yang mencatat kondisi maritim Selat Sunda dalam kategori aman untuk pelayaran.
Meski begitu, BMKG Lampung pagi tadi juga mengingatkan potensi hujan di sejumlah wilayah provinsi ini, ltermasuk terdeteksinya lebih dari seratus titik panas di sejumlah kabupaten yang menjadi pengingat bahwa cuaca di wilayah ini bisa berubah cepat, sekalipun langit tampak bersahabat di satu titik seperti Bakauheni.
Bagi perempuan yang tengah menyeberang ini, kelancaran pelayaran siang ini adalah modal penting.
Setiap jam berarti, mengingat rute panjang yang harus ia tempuh: menyeberang laut, melanjutkan perjalanan darat ke Jakarta, lalu terbang ke Bangkok esok hari.
Sepotong laporan sederhana tentang cuaca cerah dan ombak normal ini, bukan sekadar informasi cuaca, melainkan penanda bahwa satu babak perjalanan lintas negara bisa dimulai dengan tenang, dari sebuah dermaga di ujung selatan Sumatra.(Iwa)
