Pagi itu, Bu Pipit berdiri sedikit lebih lama dari biasanya di depan rak minyak goreng. Tangannya sempat mengambil satu botol, lalu meletakkannya lagi. Bukan karena bingung memilih merek, tapi karena harga yang terasa berubah terlalu sering. “Perasaan kemarin nggak segini,” gumamnya.
@Iwa Perkasa
Ia tetap membeli, tentu saja. Dapur harus tetap mengepul. Tapi sejak beberapa waktu terakhir, ada satu perasaan yang makin sering datang tentang uang belanja cepat sekali habis, padahal yang dibeli rasanya itu-itu saja.
Cerita Bu Pipit bukan cerita satu orang. Banyak yang mulai merasakan hal serupa. Uang seperti menyusut pelan-pelan, tanpa suara. Tidak ada lonjakan besar, tapi cukup untuk membuat orang berpikir dua kali sebelum mengambil sesuatu dari rak.
Di televisi dan media sosial, orang-orang bicara soal rupiah yang melemah terhadap dolar. Terdengar jauh, seperti urusan ekonomi tingkat tinggi. Tapi diam-diam, efeknya merembes sampai ke dapur rumah.
Sebagian bahan yang kita konsumsi sehari-hari ternyata bergantung pada impor. Gandum untuk mi instan, kedelai untuk tahu dan tempe, sampai bahan baku pupuk untuk petani. Semua dibeli dengan dolar. Ketika rupiah melemah, harga beli ikut naik. Dari importir ke distributor, lalu ke pedagang, sampai akhirnya tiba di tangan pembeli dengan angka yang sedikit lebih tinggi.
Sedikit demi sedikit sih, tapi terasa.
Itulah kenapa sekarang banyak orang mulai berhitung ulang. Bukan sekadar memilih merek, tapi memilih apakah perlu membeli atau tidak. Ada yang mulai mengurangi jajan, ada yang mengganti menu, ada juga yang diam-diam menahan keinginan demi memastikan kebutuhan utama tetap aman.
Bagi sebagian keluarga, ini bukan soal gaya hidup. Ini soal bertahan.
Di sisi lain, para pelaku usaha juga tidak benar-benar tenang. Ketika bahan baku naik, mereka dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Menaikkan harga dan berisiko kehilangan pembeli, atau tetap menjual dengan keuntungan yang makin tipis. Tidak sedikit yang akhirnya memilih menahan ekspansi, bahkan mengurangi aktivitas.
Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tapi pelan-pelan bisa merambat ke lapangan kerja.
Namun, seperti banyak hal dalam ekonomi, tidak semua sisi gelap. Ada juga celah yang justru terbuka. Ketika rupiah melemah, produk lokal menjadi lebih murah di mata pembeli luar negeri. Bagi petani atau pelaku usaha yang terhubung dengan pasar ekspor, ini bisa jadi peluang.
Masalahnya, tidak semua orang punya akses ke peluang itu.
Bagi kebanyakan orang, yang lebih dekat adalah kenyataan sehari-hari, bagaimana mengatur uang agar cukup sampai akhir bulan. Dan di sinilah banyak keluarga mulai beradaptasi. Kembali memasak di rumah, mengurangi pengeluaran kecil yang dulu terasa sepele, atau mencari tambahan penghasilan walau tidak besar.
Pelan, sederhana, tapi penting.
Karena isu besar seperti nilai tukar tidak benar-benar diukur dari angka di layar. Ia terasa dari hal-hal kecil, dari isi kantong belanja, dari keputusan yang ditunda, dari kalimat “nanti saja dulu” yang makin sering diucapkan.
Rupiah boleh melemah di pasar global. Tapi di rumah-rumah, yang sedang diuji adalah daya tahan.
Dan seperti biasanya, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling cepat menyesuaikan diri. ***
