Lampung Kalah Saing? Kenapa Kerja Masih Sulit dan Anak Muda Memilih Pergi

Sore itu, di sebuah warung kopi di pinggir jalan di Bandar Lampung, Rudi menatap layar ponselnya cukup lama. Lowongan kerja yang ia lihat hampir semuanya dari luar daerah. Jakarta, Bekasi, bahkan Kalimantan.

@Iwa Perkasa

“Di sini susah,” katanya pelan. “Kalau mau cepat dapat kerja, ya harus keluar.”

Di meja sebelah, seorang sopir angkutan ikut menimpali. Ia mengeluh soal sepi penumpang dan harga kebutuhan yang terus naik. “Kerja ada, tapi penghasilan nggak nambah,” ujarnya.

Cerita seperti ini bukan satu dua. Ia berulang, dari kota sampai ke kabupaten di Lampung. Anak muda pergi, usaha kecil jalan di tempat, dan banyak orang merasa ekonomi tidak benar-benar bergerak cepat.

Sekilas, ini terlihat seperti masalah masing-masing orang. Tapi kalau ditarik lebih jauh, ada satu hal yang jarang dibicarakan secara terbuka tentang daya saing daerah.

Lampung sebenarnya bukan daerah kecil. Letaknya strategis, jadi pintu gerbang Pulau Sumatra. Hasil buminya kuat, kopi, singkong, sawit, jagung. Tapi kekuatan itu belum sepenuhnya berubah jadi peluang besar bagi warganya.

Kenapa?

Karena daya saing bukan cuma soal potensi, tapi soal kesiapan.

Ketika jalan distribusi belum optimal, biaya logistik jadi mahal. Ketika industri pengolahan belum berkembang, hasil pertanian dijual mentah tanpa nilai tambah. Ketika keterampilan tenaga kerja belum merata, perusahaan berpikir dua kali untuk masuk.

Akhirnya, ekonomi tetap berjalan, tapi tidak melompat.

Itulah kenapa banyak anak muda Lampung memilih pergi. Yang di desa pergi ke kota, bahkan nyeberang ke pulau lain.  Bukan karena tidak cinta daerah, tapi karena peluang di luar terasa lebih nyata.

Dan ini bukan sekadar perasaan. Dalam berbagai pengukuran nasional, posisi daya saing Lampung masih tertinggal dibanding beberapa provinsi lain di Sumatra, apalagi Jawa.

Masalahnya, hal ini jarang dibicarakan dengan bahasa yang mudah dipahami. Data ada, laporan ada, tapi tidak sampai ke obrolan sehari-hari.

Padahal dampaknya sangat dekat. Kenapa gaji di Lampung cenderung lebih rendah? Kenapa industri besar belum banyak tumbuh? Kenapa usaha kecil sulit naik kelas?

Jawabannya sering berujung di hal yang sama, ya daya saing itu.

Namun cerita ini tidak sepenuhnya gelap. Di tengah berbagai keterbatasan, Lampung mulai bergerak. Lumayan masif. Upaya hilirisasi pelan-pelan dijalankan, terutama pada komoditas seperti kopi dan singkong, agar tidak lagi hanya dijual mentah, tetapi diolah dan memberi nilai tambah lebih besar.

Di saat yang sama, pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan juga terus digenjot, membuka akses antarwilayah yang selama ini menjadi hambatan ekonomi. Perubahannya mungkin belum terasa besar hari ini, tapi arahnya mulai jelas. Jika langkah ini konsisten, Lampung punya peluang untuk tidak sekadar tumbuh, tapi benar-benar mengubah cerita dari daerah yang ditinggalkan, menjadi daerah yang memberi alasan untuk tetap tinggal.

Kembali ke soal daya saing, memang bukan soal angka di laporan pemerintah. Ia adalah soal pilihan hidup. Apakah anak muda Lampung bisa membangun masa depan di tanah sendiri…
atau harus terus mencarinya di tempat lain.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *