Sore itu, Riki duduk di warung kopi pinggir jalan. Bukan lagi ngobrol santai, tapi lebih banyak mengeluh. Sudah tiga bulan kirim lamaran kerja, belum juga ada panggilan.
@Iwa Perkasa
“Di sini susah cari kerja,” katanya pendek.
Di sudut lain, Pak Dedi, ojek harian, ikut nimbrung. “Bukan cuma kerja, cari penumpang juga makin sepi. Jalan rusak, orang malas keluar.”
Obrolan seperti ini bukan hal baru. Hampir di banyak tempat, ceritanya mirip. Susah kerja, usaha seret, penghasilan terasa segitu-segitu saja.
Kelihatannya seperti masalah masing-masing orang. Tapi sebenarnya, ada satu benang merah yang jarang dibicarakan, yaitu soal daya saing daerah.
Istilahnya memang terdengar berat. Tapi maknanya sederhana, seberapa kuat sebuah daerah memberi peluang hidup yang layak untuk warganya.
Kalau sebuah daerah punya jalan bagus, listrik stabil, internet lancar, dan urusan izin usaha tidak berbelit, biasanya ekonomi bergerak lebih cepat. Investor datang, usaha tumbuh, lapangan kerja terbuka.
Sebaliknya, kalau jalan rusak, logistik mahal, birokrasi rumit, dan kualitas tenaga kerja tertinggal, pelaku usaha akan berpikir dua kali untuk masuk.
Dan ketika mereka tidak datang, yang terasa bukan di kantor pemerintahan, tapi di warung kopi, di pasar, di dompet masyarakat.
Itulah kenapa ada daerah yang terlihat “hidup”, banyak proyek, banyak usaha, banyak peluang. Sementara daerah lain terasa jalan di tempat.
Bukan karena warganya malas. Tapi karena “mesin ekonominya” tidak bekerja optimal.
Masalahnya, ini jarang dibahas dengan bahasa sederhana. Pemerintah punya ukuran yang disebut Indeks Daya Saing Daerah. Angkanya ada, datanya lengkap. Tapi sering berhenti di laporan.
Padahal kalau diterjemahkan, isinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kenapa anak muda lebih memilih merantau? Kenapa usaha kecil sulit naik kelas? Kenapa gaji di satu daerah bisa jauh tertinggal dari daerah lain?
Jawabannya sering berujung di sana, ya didaya saing itu.
Dan ini bukan sekadar urusan pemerintah. Dampaknya langsung ke masyarakat. Ketika daya saing rendah, pilihan hidup jadi sempit. Mau kerja sulit, mau usaha berat, mau berkembang terasa jauh.
Sebaliknya, ketika daya saing naik, efeknya pelan tapi pasti terasa. Jalan diperbaiki, investasi masuk, usaha tumbuh, dan kesempatan kerja ikut terbuka.
Mungkin tidak langsung dalam semalam. Tapi arahnya jelas.
Yang jadi pertanyaan sekarang bukan lagi “apa itu daya saing daerah”, tapi kita mau tetap begini, atau mulai memperbaiki?
Karena daya saing bukan soal angka di laporan. Ia adalah cerita tentang apakah seseorang seperti Riki harus terus menunggu… atau akhirnya mendapat kesempatan.
