Gelombang hilirisasi nasional bergerak cepat. Tiga belas proyek, Rp116 triliun, lintas sektor dari energi, tambang, hingga agroindustri. Peta mulai terbentuk. Beberapa daerah sudah berada di dalam arus. Lampung belum.
@Iwa Perkasa
Di Cilacap, Presiden Prabowo Subianto menegaskan sumber daya alam tidak cukup dijual mentah, nilai tambah harus dikunci di dalam negeri. Proyek-proyek strategis pun langsung berjalan, melibatkan pemain utama seperti Pertamina dan MIND ID. Hilirisasi, kini, bukan lagi rencana, tapi sudah menjadi kompetisi.
Di tengah arus itu, Lampung berada pada posisi yang tidak sederhana.
Secara ekonomi, kinerja daerah ini relatif solid. Pertumbuhan 2025 mencapai 5,28 persen. Namun struktur di baliknya masih bertumpu pada sektor primer, pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Artinya, Lampung kuat di produksi, tetapi belum dalam pengolahan.
Singkong keluar sebagai bahan baku. Kopi dijual dalam bentuk mentah. Sawit berhenti di tahap awal. Nilai tambah bergerak, tapi tidak menetap.
Persoalannya bukan pada potensi, melainkan pada posisi dalam rantai nilai. Lampung masih berada di hulu.
Sementara dalam peta hilirisasi nasional, yang dibutuhkan bukan sekadar bahan baku, melainkan kemampuan mengunci proses industri dari awal hingga akhir.
Daerah yang masuk dalam proyek Rp116 triliun memiliki kesamaan ekosistemnya siap. Infrastruktur industri tersedia, energi cukup, kawasan industri berjalan, dan kepastian investasi relatif terjaga.
Lampung belum sepenuhnya sampai di titik itu.
Upaya sebenarnya sudah ada.
Pengolahan singkong menjadi mocaf, penguatan ekonomi desa, hingga berbagai program hilirisasi lokal mulai berjalan. Namun skalanya masih terbatas, lokalan, belum cukup besar untuk menarik investasi industri kelas nasional.
Di sinilah jarak mulai terasa. Antara yang sudah masuk fase industrialisasi, dan yang masih memperkuat fondasi.
Jika tidak dipercepat, risiko klasik akan muncul. Ekonomi tetap tumbuh, tapi berbasis komoditas.
Nilai tambah tipis. Lapangan kerja berkualitas terbatas. Bukan stagnasi, tetapi pertumbuhan yang tidak naik kelas.
Namun ruang untuk mengejar masih terbuka. Lampung memiliki modal, komoditas kuat, posisi geografis strategis, serta konektivitas yang terus berkembang. Yang dibutuhkan adalah akselerasi, bukan sekadar wacana.
Industrialisasi berbasis komoditas. Penguatan kawasan industri. Keberanian menarik investasi besar.
Karena dalam lanskap baru ekonomi nasional, satu hal menjadi semakin jelas, bahwa yang menentukan bukan siapa yang punya sumber daya, melainkan siapa yang lebih dulu mengolahnya.
Dan bagi Lampung, waktunya bukan lagi menunggu, tetapi memastikan benar-benar menyusul.
Berikut 13 Proyek Hilirisasi Fase II:
Sektor Energi (Proyek 1 dan 2: Pembangunan Fasilitas Kilang Bensin Pertamina mengembangkan kilang gasoline di Dumai dan Cilacap dengan kapasitas 62.000 barel per hari. Proyek ini mampu mensubstitusi impor bensin hingga 2 juta kiloliter per tahun.
Proyek 3, 4, dan 5: Pembangunan Tangki Operasional untuk Fasilitas Penyimpanan BBM Pertamina mengembangkan terminal BBM di Palaran, Biak, dan Maumere dengan kapasitas 153.000 kiloliter untuk meningkatkan 3,1% kapasitas bahan bakar nasional.
Proyek 6: Fasilitas Pengolahan Batu Bara menjadi Dimethyl Ether (DME) MIND ID bersama Pertamina mengembangkan fasilitas DME di Tanjung Enim berkapasitas 1,4 juta ton per tahun. Proyek ini bertujuan mendukung substitusi impor LPG, mengingat sekitar 80% kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor.
Sektor Pertambangan & Logam (Proyek 7): Pengembangan Fasilitas Manufaktur Baja Nirkarat dari Nikel Kerja sama strategis antara Danantara, Krakatau Steel, dan mitra strategis untuk pengembangan hilirisasi nikel di Morowali dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun.
Proyek 8: Pengembangan Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon dari Bijih Besi Lokal Melalui pemanfaatan bijih besi lokal, Krakatau Steel bekerja sama dengan mitra strategis membangun fasilitas produksi steel slab berkapasitas 1,5 juta ton per tahun.
Proyek 9: Hilirisasi Tembaga dan Emas MIND ID bersama PT Pindad membangun fasilitas Brass Mill dan Brass Cups di Gresik, Jawa Timur, dengan kapasitas 10.000 ton per tahun.
Sektor Infrastruktur & Konstruksi (Proyek 10): Pengembangan Ekosistem dan Fasilitas Produksi Aspal Buton Indonesia Wijaya Karya dan Jasa Marga menginisiasi pembentukan pasar Aspal Buton didukung sinergi ekosistem Danantara yang bertujuan mengoptimalkan potensi sumber daya lebih dari 100 juta ton di Pulau Buton.
Sektor Agroindustri (Proyek 11): Pengolahan Minyak Sawit menjadi Produk Hilir Oleofod dan Biodiesel Melalui PT Perkebunan Nusantara, hilirisasi sawit di KEK Sei Mangkei menghadirkan fasilitas oleofood, CBE/CBS, dan biodiesel.
Proyek 12: Fasilitas Pengolahan Pala menjadi Oleoresin PT Perkebunan Nusantara mengembangkan fasilitas pengolahan pala menjadi oleoresin di Kebun Awaya, Maluku Tengah, berkapasitas 2.560 ton biji pala kering per tahun.
Proyek 13: Fasilitas Terpadu Kelapa Terintegrasi untuk MCT, Tepung, dan Arang Aktif (Activated Carbon) PT Perkebunan Nusantara di Maluku Tengah membangun fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi berkapasitas 300.000 butir kelapa per hari.
