Penduduk Lampung 2025 Capai 9,53 Juta, Pertumbuhan Melambat dan Struktur Usia Mulai Menua

Jumlah penduduk Provinsi Lampung mencapai 9,53 juta jiwa pada 2025, namun laju pertumbuhannya terus melambat menjadi 1,18 persen per tahun. Dalam periode 2010–2025, penduduk tetap bertambah dari 7,61 juta jiwa, tetapi akselerasinya melemah seiring perubahan struktur demografi yang semakin jelas.

@Iwa Perkasa

Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS 2025) yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan Lampung kini berada pada fase transisi demografi, ketika perubahan tidak hanya terjadi pada jumlah penduduk, tetapi juga pada komposisi umur dan kualitas demografisnya.

Penduduk usia produktif (15–64 tahun) masih mendominasi sebesar 68,13 persen, namun tekanan penuaan mulai terlihat. Penduduk usia 65 tahun ke atas meningkat menjadi 7,25 persen, dan secara total penduduk lansia (60 tahun ke atas) telah mencapai 11,39 persen, menandakan arah menuju ageing population atau kondisi ketika struktur penduduk mulai didominasi kelompok usia lanjut.

Di sisi lain, kelompok usia anak (0–14 tahun) turun menjadi 24,62 persen, sehingga rasio ketergantungan berada pada angka 46,79. Rasio ketergantungan adalah perbandingan antara jumlah penduduk nonproduktif (anak dan lansia) terhadap penduduk usia produktif. Artinya, setiap 100 penduduk usia kerja menanggung sekitar 47 penduduk nonproduktif. Angka ini masih relatif moderat, tetapi arah perubahannya menunjukkan beban demografi ke depan akan semakin bergeser ke kelompok lansia.

Perubahan struktur ini sejalan dengan penurunan tingkat kelahiran. Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya (usia 15–49 tahun) turun menjadi 2,23, dari 2,45 pada 2010. Meski menurun, angka ini masih sedikit di atas replacement level atau tingkat penggantian penduduk, yaitu kondisi ketika satu generasi cukup menggantikan generasi sebelumnya tanpa pertumbuhan atau penurunan populasi jangka panjang.

Namun disparitas antarwilayah masih terlihat.Kota Metro sudah berada di bawah level tersebut dengan 2,04, sementara Pesisir Barat masih tertinggi di 2,52, mencerminkan perbedaan pola keluarga, pendidikan, dan urbanisasi.

Dari sisi kelahiran tahunan, Crude Birth Rate (CBR) atau angka kelahiran kasar, yaitu jumlah kelahiran hidup per 1.000 penduduk, tercatat sebesar 16,84, turun dari periode sebelumnya. Pola kelahiran juga lebih jelas terlihat melalui Age Specific Fertility Rate (ASFR) atau angka kelahiran menurut kelompok umur perempuan, yang menunjukkan bahwa puncak kelahiran terjadi pada usia 25–29 tahun, yaitu 126,68 per 1.000 perempuan.

Sementara itu, indikator kesehatan menunjukkan perbaikan yang konsisten. Infant Mortality Rate (IMR) atau angka kematian bayi, yaitu jumlah bayi yang meninggal sebelum usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup, turun menjadi 13,53, jauh lebih rendah dibanding 23,05 pada 2010. Penurunan juga terjadi pada kematian anak dan balita, yang menunjukkan peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak.

Secara umum, Crude Death Rate (CDR) atau angka kematian kasar, yaitu jumlah kematian per 1.000 penduduk, berada pada 6,28, mencerminkan tingkat kematian yang relatif stabil di tengah perubahan struktur umur.

Dinamika penduduk juga dipengaruhi mobilitas. Migrasi neto atau selisih antara penduduk yang masuk dan keluar suatu wilayah, tercatat positif sebesar 0,58 persen, yang berarti Lampung masih menjadi daerah tujuan migrasi. Wilayah seperti Tulang Bawang Barat, Pesawaran, dan Pesisir Barat menunjukkan arus masuk yang lebih tinggi dibanding arus keluar, sementara Bandar Lampung dan beberapa wilayah lain mencatat kecenderungan sebaliknya, menunjukkan pergeseran penduduk ke wilayah penyangga dan daerah dengan peluang ekonomi baru.

Ketimpangan antarwilayah masih cukup jelas. Rasio ketergantungan tertinggi berada di Pesisir Barat (52,07), sementara terendah di Bandar Lampung (44,51). Pola serupa juga terlihat pada fertilitas dan migrasi, menunjukkan bahwa transisi demografi di Lampung tidak berlangsung seragam, melainkan sangat dipengaruhi oleh tingkat urbanisasi, struktur ekonomi, dan akses layanan dasar masing-masing wilayah.

Secara keseluruhan, SUPAS 2025 menggambarkan Lampung berada pada fase transisi demografi yang semakin matang: pertumbuhan melambat, fertilitas menurun, kualitas kesehatan membaik, dan mobilitas penduduk semakin dinamis. Bonus demografi masih terbuka karena dominasi penduduk usia produktif, namun peningkatan proporsi lansia menjadi sinyal bahwa jendela peluang ini akan semakin sempit jika tidak diikuti peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia.****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *