BANDAR LAMPUNG — Aktivitas penerbangan mulai bergerak menuju pemulihan setelah delapan bandara yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali dibuka. Namun, hingga Rabu sore, 9 September 2026, kondisi belum sepenuhnya dapat disebut normal.
Faktor utama yang masih menjadi perhatian adalah perubahan arah sebaran abu vulkanik GAK.
Jika pada Selasa (8/9) abu cenderung bergerak ke selatan-barat daya sehingga menjauh dari Lampung, pada Rabu pagi analisis citra satelit Himawari-9 menunjukkan sebaran abu bergerak ke arah barat laut dan sebagian memasuki wilayah Teluk Lampung.
Perubahan arah tersebut membuat pemantauan ruang udara tetap menjadi bagian penting dalam pengoperasian penerbangan, khususnya di sekitar Lampung dan Selat Sunda.
Sebelumnya, dampak erupsi GAK membuat sejumlah bandara harus menghentikan sementara operasionalnya. Gangguan tersebut bahkan berdampak pada ribuan penerbangan domestik dan internasional.
Kementerian Perhubungan mencatat hingga Senin (7/9) sore sebanyak 2.961 penerbangan terdampak perubahan operasional bandara akibat sebaran abu vulkanik. Dari jumlah tersebut, 2.339 merupakan penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional.
Situasi kemudian membaik pada Selasa.
Delapan bandara yang sebelumnya terdampak mulai kembali dibuka, termasuk Bandara Internasional Radin Inten II Lampung dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Pembukaan kembali bandara tersebut menjadi titik penting bagi pemulihan konektivitas udara Lampung dengan Jakarta maupun daerah lain.
Namun, pembukaan bandara tidak otomatis berarti seluruh penerbangan langsung kembali ke pola normal.
Maskapai dan operator penerbangan masih harus menyesuaikan jadwal, posisi armada, pemeriksaan pesawat serta kondisi ruang udara.
Bagaimana rute Lampung–Jakarta?
Untuk rute Radin Inten II–Soekarno-Hatta, jadwal penerbangan untuk Rabu, 9 September masih tercantum pada sejumlah layanan maskapai.
Batik Air, misalnya, masih mencantumkan penerbangan Bandar Lampung–Jakarta pada Rabu, termasuk jadwal keberangkatan sekitar pukul 11.40 dan 12.35 WIB. Lion Air juga mencantumkan jadwal rute Soekarno-Hatta–Radin Inten II pada hari yang sama.
Tetapi ada hal penting yang perlu digarisbawahi, jadwal penerbangan tidak sama dengan konfirmasi penerbangan telah berangkat atau tiba.
Setelah gangguan besar akibat abu vulkanik, jadwal penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi ruang udara, hasil pemantauan abu dan keputusan keselamatan penerbangan.
Karena itu, penumpang Lampung–Jakarta yang hendak terbang pada Rabu sore hingga malam tetap perlu melakukan pengecekan langsung kepada maskapai sebelum menuju Bandara Radin Inten II.
Dampak erupsi juga sebelumnya menjalar ke penerbangan internasional.
Kementerian Perhubungan mencatat sejumlah penerbangan internasional terdampak, termasuk rute menuju dan dari Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, Amsterdam dan Kuala Lumpur.
Setelah bandara kembali dibuka, maskapai mulai mengaktifkan kembali penerbangan.
Indonesia AirAsia, misalnya, menyatakan pada Selasa (8/9) bahwa penerbangan kembali beroperasi setelah sebelumnya terdampak erupsi GAK.
Artinya, jaringan penerbangan internasional dari Jakarta mulai memasuki fase pemulihan.
Namun pemulihan tersebut tetap berlangsung bertahap karena sejumlah penerbangan sebelumnya mengalami pembatalan, penundaan, pengalihan maupun perubahan jadwal.
Abu kembali menjadi faktor penentu
Yang membuat situasi penerbangan pada Rabu sore belum dapat dianggap sepenuhnya normal adalah perkembangan terbaru sebaran abu.
GAK kembali mengalami erupsi pada 00.47 WIB, dengan amplitudo maksimum 51 mm dan durasi 28 detik. Kemudian sekitar pukul 07.00 WIB, analisis citra Himawari-9 menunjukkan abu bergerak ke barat laut dan sebagian memasuki Teluk Lampung.
Sekitar pukul 10.00 WIB, pengamatan dari KRI Lepu-861 juga masih menunjukkan adanya asap/abu dari kawah dengan ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer.
Dengan kondisi tersebut, ruang udara Lampung tidak bisa hanya dinilai berdasarkan status bandara yang sudah dibuka.
Arah dan konsentrasi abu tetap menjadi faktor yang menentukan keselamatan penerbangan.
Kementerian Perhubungan sebelumnya juga menegaskan bahwa penanganan dampak abu vulkanik dilakukan dengan mengutamakan keselamatan penerbangan dan mengikuti perkembangan kondisi ruang udara.
Pulih, tetapi belum sepenuhnya normal
Dengan demikian, gambaran penerbangan Lampung pada Rabu sore dapat dirumuskan sebagai pulih, tetapi masih dinamis.
Bandara sudah kembali beroperasi. Jadwal penerbangan Lampung–Jakarta kembali tersedia. Penerbangan internasional juga mulai bergerak menuju normal.
Tetapi aktivitas GAK belum berhenti dan arah sebaran abu kembali berubah.
Kondisi inilah yang membuat maskapai, pengelola bandara dan AirNav Indonesia tetap harus melakukan pemantauan secara berkala.
Bagi masyarakat yang memiliki penerbangan dari atau menuju Lampung, kondisi paling aman bukan hanya melihat apakah bandara berstatus buka, tetapi memastikan status penerbangan secara langsung kepada maskapai pada hari keberangkatan.
Sebab dalam situasi erupsi, status penerbangan dapat berubah lebih cepat daripada jadwal yang tercantum dalam sistem pemesanan.
Untuk sore hingga malam 9 September 2026, posisi yang paling tepat adalah penerbangan sudah kembali berjalan, tetapi normalisasi belum sepenuhnya selesai dan potensi gangguan masih terbuka apabila sebaran abu kembali melintasi jalur penerbangan.(iwa)
