Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak 4 September 2026 sudah jelas menyebarkan abu vulkanik ke lima provinsi, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bengkulu. Dan berbarengan dengan itu, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di berbagai daerah tercatat melonjak. Tapi ada satu pertanyaan besar yang jawabannya masih belum jelas adalah apakah abu vulkanik ini benar-benar penyebab langsung lonjakan ISPA tersebut, atau cuma kebetulan bertepatan waktu saja?
@Iwa Perkasa
Datanya Memang Naik, dan Cukup Konsisten
Berikut angka lonjakan ISPA yang tercatat di beberapa daerah terdampak:
| Wilayah | Data Lonjakan ISPA |
|---|---|
| Kota Bandar Lampung | 527 kasus (4/9) → 632 kasus (5/9) → 716 kasus (7/9) |
| Kabupaten Tanggamus | 46 kasus (5/9) → 76 kasus (6/9), kunjungan faskes naik dari 52 ke 158 |
| Kabupaten Lampung Selatan | rata-rata 25 kasus/hari → melonjak jadi 337 kasus dalam dua hari |
| Kabupaten Pandeglang | 1.861 kasus (pekan ke-34) → 2.107 kasus (pekan ke-35, berjalan) |
Empat daerah berbeda, semuanya menunjukkan kenaikan tajam persis di periode yang sama dengan erupsi. Sekilas, ini terlihat seperti bukti yang cukup kuat untuk menyimpulkan abu vulkanik sebagai biang keladinya.
Tapi ini sebabnya belum bisa dipastikan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, sendiri menegaskan bahwa berdasarkan data jangka pendek ini, pihaknya belum bisa menyatakan secara pasti bahwa abu vulkanik adalah penyebab langsungnya. Ada empat alasan konkret kenapa klaim sebab-akibat ini masih menggantung.
- Datanya belum divalidasi penuh. Dinkes Bandar Lampung sedang melakukan validasi berlapis untuk memastikan tidak ada duplikasi atau salah input pada angka ISPA yang masuk. Artinya angka yang beredar sekarang masih “data mentah”, belum data final.
- Ada faktor lain yang ikut berperan. Di Pandeglang, dinas kesehatan setempat mengakui ISPA juga dipicu kualitas udara buruk secara umum dan infeksi virus musiman, bukan abu vulkanik semata. ISPA sendiri memang selalu masuk 10 besar penyakit tersering di puskesmas, dengan atau tanpa erupsi.
- Penyakit yang lebih serius justru masih normal. Kementerian Kesehatan mencatat penyakit yang lebih berat dan lebih spesifik terkait paparan abu, seperti pneumonia, asma, dan PPOK, sampai saat ini masih stabil. Kalau abu vulkanik benar-benar penyebab dominan, biasanya penyakit yang lebih berat ini ikut naik juga, bukan cuma ISPA ringan (batuk-pilek) saja.
- Tidak ada kelompok pembanding. Untuk membuktikan abu vulkanik sebagai penyebab, idealnya pola ISPA di daerah terdampak dibandingkan dengan daerah serupa yang tidak kena abu, pada periode yang sama. Data pembanding seperti ini belum tersedia di laporan manapun.
Penerbangan: Angka Dasarnya Saja Sudah Simpang Siur
Ternyata bukan cuma soal ISPA, di sektor penerbangan pun ketidakjelasan muncul, tapi bentuknya beda. Kalau di ISPA masalahnya soal sebab-akibat, di penerbangan masalahnya soal angka dasar yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan sumber ke sumber, sehingga sulit menilai skala dampak yang sebenarnya:
| Sumber & Waktu | Jumlah Penerbangan Terdampak | Penumpang |
|---|---|---|
| Ditjen Hubud, 6 September (10.35 WIB) | 373 penerbangan | — |
| Media nasional, sekitar 7 September | 467 penerbangan batal | 150.000 |
| Menhub Dudy Purwagandhi, sekitar 8 September | 2.961 penerbangan | 341.000 |
Angka-angka ini melonjak drastis dari hari ke hari, dari 373 menjadi hampir 3.000 dalam waktu kurang dari dua hari. Sebagiannya masuk akal karena situasi memang berkembang (jumlah bandara yang ditutup bertambah dari 3, ke 6, ke 8), tapi lompatan hampir 8 kali lipat ini juga bisa disebabkan perbedaan metode hitung antar lembaga, apakah yang dihitung cuma penerbangan yang batal, atau juga termasuk yang delay, dialihkan, atau sekadar terpengaruh rute.
Soal kerugian finansial, ketidakjelasannya malah lebih terang-terangan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pada 6 September mengatakan pemerintah belum melakukan perhitungan kerugian sama sekali, karena maskapai masih fokus menangani penumpang. Tapi di hari yang hampir sama, asosiasi maskapai (INACA) sudah merilis estimasi kerugian Rp10-19 miliar per hari, atau Rp70-130 miliar kalau gangguan berlangsung seminggu. Angka INACA ini sendiri berstatus proyeksi/simulasi, bukan kerugian riil yang sudah terjadi, dihitung dari asumsi 30-50 penerbangan batal per hari dengan keterisian 80 persen, bukan dari laporan keuangan maskapai yang sebenarnya.
Jadi ada dua pihak yang punya pernyataan berbeda pada saat bersamaan. Pemerintah bilang belum ada angka, asosiasi industri sudah punya angka spesifik dalam miliaran rupiah. Ini bukan berarti salah satu berbohong, kemungkinan besar keduanya benar, hanya beda basis. Pemerintah bicara soal kerugian resmi yang terverifikasi, sementara INACA bicara soal estimasi kasar berbasis asumsi industri.
Kesimpulanya, baik soal ISPA maupun soal penerbangan, pola masalahnya sebenarnya mirip, yakni dampaknya nyata dan terdokumentasi, tapi skala pastinya masih belum bisa dipegang sebagai angka final. Untuk ISPA, masalahnya soal sebab-akibat yang belum terbukti secara epidemiologis. Untuk penerbangan, masalahnya soal angka dasar dan kerugian finansial yang masih berupa estimasi kasar, berbeda-beda tergantung siapa yang menghitung dan kapan dihitungnya.*****
