Di politik lokal, tidak banyak tokoh yang datang dengan dua bekal sekaligus. Berpengalaman membaca konflik di ruang sidang dan keberanian bertarung di arena kekuasaan. Ia adalah Resmen Kadapi yang kini membawa dua dunia itu ke dalam satu ambisi besar, mengubah peta politik Way Kanan.
@Iwa Perkasa
Baru saja dilantik sebagai Ketua DPD PAN Way Kanan, Resmen Kadapi langsung bergerak cepat. Tidak ada jeda konsolidasi, tidak ada fase adaptasi. Ia memilih langsung menata struktur partai hingg ke anak ranting.
“Struktur harus solid dari DPD, ranting sampai anak ranting. Itu fondasi utama sebelum bicara kemenangan,” tegasnya, Sabtu (2/5).
Langkah ini bukan sekadar rutinitas organisasi. Di tangan Resmen, konsolidasi tampak sebagai strategi sadar, membangun kendali penuh dari atas hingga ke titik paling bawah, hingga tempat suara benar-benar berproduksi.
Anak muda ini juga langsung tancap gas memanaskan mesin politik jauh sebelum kontestasi dimulai. Karakternya yang ulet, langsung memasang target, membentuk sekitar 5.000 relawan yang akan ditempatkan di seluruh Tempat Pemungutan Suara (TPS).
“Ujung pertempuran itu di TPS. Jadi kita siapkan betul kekuatan di sana,” ujarnya.
Pendekatan ini mencerminkan pemahaman bahwa politik elektoral bukan hanya soal popularitas, tetapi tentang kontrol di titik krusial, di TPS, di mana kemenangan benar-benar ditentukan. Di hilir itulah suara yang mengalir dipastikan aman.
Namun, untuk memahami arah kepemimpinan Resmen hari ini, latar belakangnya tidak bisa diabaikan.
Ia bukan sekadar politisi. Resmen pernah berada di pusaran kasus besar sebagai kuasa hukum mantan Rektor Universitas Lampung, Karomani, sebuah pengalaman yang menempatkannya di ruang dengan tekanan tinggi, konflik kepentingan, dan pertarungan narasi publik. Dunia hukum membentuk cara berpikir sistematis, taktis, dan terbiasa membaca celah dalam situasi kompleks.
Jejak itu berlanjut ke politik praktis saat ia maju sebagai calon Bupati Way Kanan. Di fase ini, Resmen tidak lagi berada di belakang layar, melainkan langsung berhadapan dengan realitas elektoral, peta kekuatan, karakter pemilih, hingga kerasnya kompetisi di tingkat lokal.
Hebatnya, dua pengalaman itu, hukum dan kontestasi, kini bertemu dalam satu pola kepemimpinan yang terlihat:, terstruktur, agresif, dan berbasis kontrol lapangan.
Resmen juga mencoba membawa PAN keluar dari sekadar mesin politik. Ia menegaskan partai harus hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di sektor ekonomi dan kesehatan.
“PAN harus hadir nyata, membantu masyarakat. Kita ingin meringankan beban warga sampai ke desa-desa,” katanya.
Namun, di balik semua itu, satu target besar menjadi pusat gravitasi adalah : 12 kursi DPRD Way Kanan.
“Target kita 12 kursi. Ini bukan main-main, kita serius,” tegasnya.
Ini berat, tetapi ia yakin bisa.
Saat ini, PAN hanya memiliki 3 kursi di DPRD Way Kanan. Artinya, target tersebut bukan sekadar kenaikan, melainkan lompatan empat kali lipat dalam satu siklus pemilu. Sebuah ambisi yang dalam praktik politik lokal tergolong sangat agresif dan jarang terjadi tanpa gelombang perubahan besar.
Meski demikian, membaca Resmen hanya dari angka akan menyederhanakan persoalan. Dalam banyak kasus politik lokal, lonjakan elektoral tidak selalu lahir dari kekuatan partai semata, melainkan dari figur yang mampu mengonsolidasikan jaringan, mengunci basis, dan memanfaatkan momentum.
Resmen memiliki modal yang tidak bisa diabaikan. Ia dikenal sebagai figur yang cerdas dan energik, dengan kemampuan membaca situasi serta kecenderungan bekerja cepat dan terukur. Kombinasi pengalaman hukum dan politik memberinya keunggulan dalam merancang strategi sekaligus mengeksekusi di lapangan.
Karena itu, langkah membangun struktur hingga anak ranting dan menyiapkan ribuan relawan bukan sekadar program organisasi, melainkan bagian dari desain besar untuk mempercepat ekspansi kekuatan PAN.
Namun, politik tidak pernah hanya soal kapasitas individu.
Tantangan terbesar tetap berada pada medan yang lebih keras, memecah dominasi partai-partai yang telah lebih dulu mapan di tiap daerah pemilihan, sekaligus mengubah kekuatan personal menjadi mesin kolektif yang bekerja serentak.
Di sinilah ambisi 12 kursi akan diuji secara nyata, bukan hanya oleh seberapa kuat Resmen sebagai figur, tetapi oleh seberapa jauh ia mampu mentransformasikan energi personalnya menjadi kekuatan struktural yang merata di seluruh dapil.
Dengan kata lain, pertarungan PAN Way Kanan ke depan bukan sekadar soal menang atau kalah. Ini adalah ujian apakah kepemimpinan yang cepat, cerdas, dan agresif bisa benar-benar mengubah peta kekuatan politik lokal, atau justru terbentur realitas elektoral yang selama ini sulit digeser.
Catatan penting Nomics tentang dirinya adalah Resmen pasti akan berusaha mewujudkan ambisinya di balik ketenangan khas dirinya.*****
