Daya tukar petani di Lampung terus melemah sejak awal 2026, bukan lagi sekadar fluktuasi musiman, melainkan sinyal tekanan struktural dari sisi harga jual yang turun dan biaya produksi yang naik dalam waktu yang sama.
@Iwa Perkasa
BANDARLAMPUNG – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung mengalami penurunan beruntun selama empat bulan sejak awal 2026, dari 130,15 pada Desember 2025 menjadi 123,93 pada April 2026. Penurunan ini menunjukkan pelemahan daya tukar petani yang bersifat konsisten, bukan sekadar fluktuasi bulanan.
Pada April 2026, NTP kembali turun 0,80 persen seiring melemahnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,49 persen dan naiknya Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,31 persen.
Kondisi ini menegaskan tekanan ganda pada petani, yakni harga jual yang melemah diikuti kenaikan biaya konsumsi dan produksi. Sejalan dengan itu, NTUP juga turun 1,12 persen menjadi 129,21 yang mengindikasikan turunnya efisiensi usaha pertanian.
Secara subsektor, tekanan terbesar berasal dari hortikultura yang turun 5,25 persen, disusul perkebunan rakyat 1,69 persen dan perikanan budidaya 1,55 persen, sementara kenaikan pada tanaman pangan, peternakan, dan perikanan tangkap belum mampu mengimbangi penurunan agregat. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan terutama terjadi pada komoditas yang rentan terhadap surplus musiman dan lemahnya pengendalian pasokan, seperti cabai dan kopi.
Dalam situasi ini, pemutusan tren penurunan NTP memerlukan intervensi struktural, bukan sekadar stabilisasi jangka pendek. Penguatan kelembagaan ekonomi petani menjadi kunci untuk memperpendek rantai tata niaga dan meningkatkan posisi tawar melalui koperasi, kemitraan industri, dan akses pasar digital.
Di sisi lain, pengendalian biaya produksi perlu diperkuat melalui distribusi pupuk, benih, dan pakan yang lebih efisien untuk menahan kenaikan Ib.
Pada level produksi, perbaikan koordinasi pola tanam dan sistem informasi panen penting untuk mengurangi risiko kelebihan pasokan yang menekan harga.
Untuk komoditas perkebunan rakyat seperti kopi, percepatan hilirisasi dan peningkatan kualitas menjadi krusial agar petani tidak sepenuhnya terpapar fluktuasi harga bahan mentah. Tanpa perbaikan struktur tersebut, penurunan NTP berpotensi terus berulang mengikuti siklus produksi tanpa peningkatan berarti pada kesejahteraan petani.
