BANDARLAMPUNG — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada April 2026 sebesar 125,24, turun 0,09 persen dibandingkan Maret 2026. Penurunan ini terjadi karena kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,16 persen tidak mampu mengimbangi kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,24 persen.
Secara struktur, tekanan NTP nasional terutama berasal dari subsektor hortikultura, peternakan, dan perikanan yang mengalami penurunan, sementara tanaman pangan dan perkebunan rakyat masih mencatatkan pertumbuhan. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbaikan harga komoditas belum merata dan masih sangat bergantung pada subsektor tertentu.
Di tingkat daerah, Lampung mencatat NTP sebesar 123,93, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Angka ini juga turun 0,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi seiring melemahnya Indeks Harga yang Diterima Petani sebesar 0,49 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani justru naik 0,31 persen.
Dengan struktur tersebut, posisi Lampung menunjukkan tekanan ganda pada sisi produksi dan konsumsi. Di satu sisi, harga komoditas pertanian yang diterima petani mengalami pelemahan, sementara di sisi lain biaya input dan konsumsi rumah tangga perdesaan masih meningkat.
Secara nasional, hanya 15 provinsi yang mengalami penurunan NTP pada April 2026. Penurunan terdalam terjadi di DI Yogyakarta, sedangkan kenaikan tertinggi dicatat Provinsi Riau yang ditopang oleh penguatan subsektor perkebunan, khususnya kelapa sawit. Dalam konteks ini, Lampung berada pada kelompok provinsi dengan tekanan moderat namun konsisten, di mana pelemahan tidak bersifat ekstrem tetapi berlangsung pada beberapa komoditas utama.
Jika dilihat lebih dalam, tekanan di Lampung mencerminkan karakter ekonomi perdesaan yang masih sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas dan biaya produksi. Ketika harga jual tidak menguat sejalan dengan kenaikan biaya input, maka ruang daya beli petani menjadi terbatas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pertanian Lampung tidak semata pada produksi, tetapi juga pada stabilitas nilai tukar usaha tani, terutama dalam menjaga keseimbangan antara harga output dan tekanan biaya produksi yang terus meningkat.(IWA)
