Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung naik menjadi 129,90 pada Juni 2026, tertinggi sepanjang 2026. Daya tukar petani membaik, namun masih di bawah puncak Januari 2025 sebesar 132,07.
BANDAR LAMPUNG – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung kembali menguat pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat NTP mencapai 129,90, naik 1,48 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 128,01.
Capaian tersebut menjadi level tertinggi sepanjang tahun 2026 sekaligus memperpanjang tren kenaikan NTP dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini menunjukkan daya tukar petani terhadap barang dan jasa yang mereka konsumsi maupun biaya produksi semakin membaik.
Penguatan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 2,16 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya naik 0,67 persen. Dengan kata lain, pendapatan petani dari hasil produksinya tumbuh lebih cepat dibanding kenaikan pengeluaran rumah tangga dan biaya usaha.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan capaian sepanjang 2025, pemulihan tersebut belum sepenuhnya kembali ke titik tertinggi. Pada Januari 2025, NTP Lampung sempat mencapai 132,07, sebelum terus melemah hingga menyentuh titik terendah 125,15 pada Juli 2025. Setelah itu, NTP berangsur pulih hingga ditutup di level 130,15 pada Desember 2025.
Dengan posisi 129,90 pada Juni 2026, NTP Lampung kini hampir kembali ke level akhir 2025, namun masih berada 0,25 poin di bawah Desember 2025 dan 2,17 poin di bawah rekor Januari 2025. Kondisi ini menunjukkan proses pemulihan kesejahteraan petani masih berlangsung, tetapi belum sepenuhnya mengembalikan daya tukar ke posisi terbaiknya.
Kenaikan NTP Juni 2026 terutama ditopang oleh subsektor tanaman pangan yang naik 2,40 persen menjadi 110,01, didorong meningkatnya harga gabah dan ketela pohon akibat tingginya permintaan industri tapioka. Subsektor perkebunan rakyat juga menguat 2,08 persen menjadi 162,34, terutama karena kenaikan harga karet di tengah terbatasnya pasokan.
Sebaliknya, penguatan tersebut belum dirasakan merata. NTP hortikultura turun 2,34 persen, peternakan turun 2,23 persen, perikanan tangkap turun 1,11 persen, sedangkan perikanan budidaya mengalami penurunan terdalam sebesar 4,17 persen. Penurunan tersebut dipicu melemahnya harga komoditas saat pasokan meningkat pada musim panen.
Di sisi lain, tekanan biaya hidup petani masih terus berlangsung. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) naik 0,55 persen, terutama dipicu kenaikan kelompok transportasi sebesar 1,80 persen. Sementara itu, biaya produksi dan penambahan barang modal juga meningkat 1,05 persen.
Kabar positif lainnya datang dari Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) yang naik dari 133,97 menjadi 135,45 atau meningkat 1,11 persen. Kenaikan ini menunjukkan margin usaha pertanian masih membaik karena kenaikan harga hasil pertanian lebih besar dibanding peningkatan biaya produksi.
Secara keseluruhan, data Juni 2026 mengirimkan sinyal positif bahwa sektor pertanian Lampung sedang berada dalam fase pemulihan. Namun, pemulihan tersebut masih belum merata antarsubsektor dan belum mampu mengembalikan NTP ke level tertinggi yang pernah dicapai pada awal 2025. Tantangan pemerintah ke depan adalah menjaga stabilitas harga komoditas unggulan sekaligus menekan biaya produksi agar kenaikan kesejahteraan petani dapat berlangsung lebih merata dan berkelanjutan.
