BANDAR LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau (GAK) belum sepenuhnya mereda. Setelah episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam berakhir pada Minggu (6/9/2026), aktivitas vulkanik masih berlanjut dalam bentuk erupsi-erupsi susulan.
Pada Rabu (9/9/2026) pukul 00.47 WIB, GAK kembali mengalami erupsi. Berdasarkan laporan pemantauan PVMBG, letusan tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan berlangsung selama 28 detik. Tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati karena kondisi gunung tertutup kabut. Status GAK tetap Level III atau Siaga.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa berakhirnya erupsi menerus pada 6 September bukan berarti aktivitas vulkanik GAK telah selesai. Gunung api di Selat Sunda itu masih berada dalam fase aktif dan tetap berpotensi mengalami erupsi berikutnya. Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung juga masih dilarang mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Abu Kembali Mengarah ke Lampung
Perubahan arah sebaran abu menjadi perhatian utama pada Rabu. Analisis citra satelit Himawari-9 pukul 07.00 WIB menunjukkan abu vulkanik GAK terpantau hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer dan bergerak ke arah barat laut, dengan sebagian sebarannya memasuki kawasan Teluk Lampung.
Kondisi ini berbeda dengan pemantauan Selasa pagi ketika sebaran abu bergerak ke arah selatan-barat daya dan cenderung menjauh dari daratan Lampung.
Dengan demikian, narasi bahwa abu sudah sepenuhnya menjauh dari Lampung tidak lagi sesuai dengan perkembangan terbaru. Pergerakan abu sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin sehingga kondisi dapat berubah dalam waktu relatif singkat.
Pemantauan dari KRI Lepu-861 sekitar pukul 10.00 WIB juga menunjukkan aktivitas visual masih berlangsung. Asap dan abu masih terlihat keluar dari kawasan kawah, dengan sebaran mencapai sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer.
Lampung Kembali Berhadapan dengan Dampak Abu
Dampak erupsi juga masih dirasakan masyarakat Lampung. Bahkan, data kesehatan menunjukkan persoalan tidak berhenti pada debu yang terlihat di permukaan.
Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat 2.416 kasus ISPA yang terhimpun hingga Selasa (8/9/2026). Selain ISPA, tercatat 23 kasus pneumonia, 68 influenza, 67 asma, 79 penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta sejumlah keluhan kesehatan lainnya. Data tersebut masih diperbarui secara berkala.
Pemerintah Provinsi Lampung meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak, menggunakan masker ketika berada di luar rumah, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi ketika terjadi paparan abu.
Fasilitas kesehatan di wilayah terdampak juga disiapkan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan jumlah pasien. Pemprov Lampung telah mengantisipasi tambahan obat-obatan, masker, serta bahan medis habis pakai apabila kebutuhan di fasilitas pelayanan kesehatan meningkat.
Sekolah dan Penerbangan
Perkembangan situasi juga membuat kebijakan pendidikan kembali disesuaikan. Pemprov Lampung memutuskan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada 9–10 September 2026, setelah pada awalnya pembelajaran tatap muka direncanakan kembali pada Rabu.
Keputusan tersebut diambil setelah pada Selasa sore aktivitas GAK kembali meningkat. Pada pukul 17.56 WIB, tercatat erupsi dengan durasi 31 detik dan amplitudo seismogram 54 milimeter. Arah angin juga dinilai berpotensi membawa abu kembali ke wilayah daratan Lampung.
Di sektor penerbangan, situasinya jauh lebih baik dibandingkan saat puncak gangguan pada 6–7 September. Delapan bandara yang sebelumnya terdampak telah kembali dibuka setelah pemeriksaan menunjukkan kondisi aman dari paparan abu vulkanik. BMKG menyatakan pengujian paper test di sejumlah bandara menunjukkan hasil negatif.
Bandara Radin Inten II Lampung juga telah kembali beroperasi setelah pemeriksaan paparan abu dinyatakan negatif. Namun, pemantauan terhadap sebaran abu tetap dilakukan karena kondisi atmosfer dapat berubah mengikuti arah angin.
Episode erupsi menerus selama 25 jam memang telah berakhir. Dampak terhadap penerbangan juga mulai pulih dan intensitas erupsi susulan cenderung lebih pendek dibanding episode utama.
Namun, perkembangan Rabu menunjukkan bahwa GAK belum dapat dianggap benar-benar tenang.
Erupsi masih terjadi. Abu masih terbentuk. Dan arah sebarannya kembali membawa material vulkanik menuju kawasan Teluk Lampung.
Karena itu, situasi GAK saat ini lebih tepat disebut fase penurunan dari episode erupsi besar, tetapi masih disertai aktivitas vulkanik dan potensi perubahan sebaran abu.
Bagi Lampung, persoalannya bukan hanya apakah GAK masih meletus, tetapi ke mana abu bergerak setelah setiap erupsi.
Dan pada Rabu, 9 September 2026, jawabannya kembali mengarah ke Lampung.(iwa)
