Lampung Kuat di Pertanian, Tapi Bergantung pada Perkakas dari Luar

Di tengah posisinya sebagai salah satu lumbung pertanian dan perkebunan, Lampung justru belum mampu membangun industri perkakas tangan sebagai penopang utamanya. Ketika produksi hasil bumi terus berjalan, alat yang digunakan sebagian besar masih datang dari luar daerah.

@Iwa Perkasa


Paradoks ini memperlihatkan wajah lain dari struktur ekonomi Lampung. Di satu sisi, sektor pertanian dan perkebunan menjadi tulang punggung daerah, dengan komoditas seperti kopi, singkong, dan kelapa sawit yang terus berkembang. Namun di sisi lain, industri pendukung berbasis manufaktur sederhana, seperti perkakas tangan, belum tumbuh signifikan.

Padahal, secara nasional, sektor ini tengah didorong sebagai bagian dari strategi hilirisasi berbasis baja. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa industri perkakas tangan memiliki potensi besar karena ditopang kebutuhan tinggi dari sektor agraris.

Dengan kebutuhan yang bersifat rutin dan luas, perkakas tangan menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas produksi, khususnya dalam proses panen di sektor pertanian dan perkebunan.

Data Kementerian Perindustrian mencatat, terdapat sekitar 123 unit IKM perkakas tangan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia hingga 2025. Namun, sentra produksinya terkonsentrasi di daerah seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, bukan di Lampung.

Ketiadaan Lampung dalam peta utama tersebut menjadi sinyal bahwa pengembangan industri daerah masih bertumpu pada sektor hulu dan pengolahan berbasis pangan. Sementara manufaktur logam sebagai bagian dari industrialisasi ringan belum menjadi prioritas.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menyebut bahwa penguatan sektor ini membutuhkan dukungan ekosistem, mulai dari bahan baku, teknologi, hingga kemitraan industri. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi daerah yang belum memiliki basis industri logam.

Sebagai daerah agraris, Lampung memiliki pasar internal yang kuat untuk pengembangan IKM perkakas tangan. Kebutuhan yang selama ini dipasok dari luar dapat menjadi pintu masuk untuk membangun industri lokal yang lebih mandiri dan bernilai tambah.

Selain itu, sektor ini berpotensi menyerap tenaga kerja, memperkuat rantai pasok daerah, serta menjadi jembatan menuju industrialisasi yang lebih luas.

Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari, bahkan menilai IKM perkakas tangan dapat menjadi mitra strategis bagi industri besar dan BUMN, termasuk dalam skema kemitraan produksi.

Jika kondisi ini terus berlanjut, Lampung akan tetap berada pada posisi yang sama. Kuat sebagai produsen komoditas, tetapi lemah dalam mengendalikan rantai nilai. Di tengah dorongan hilirisasi nasional, pertanyaannya menjadi lebih tajam, apakah Lampung akan terus menjadi pasar bagi industri daerah lain, atau mulai membangun industrinya sendiri?

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *