Situasi Terkini: GAK Masih Erupsi, Abu Menjauh dari Lampung; 8 Bandara Kembali Dibuka, Penerbangan Mulai Pulih

BANDAR LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau (GAK) belum sepenuhnya tenang. Hingga Selasa (8/9/2026) pukul 15.30 WIB, aktivitas vulkanik masih berlangsung meski intensitas erupsi telah menurun dibanding episode erupsi menerus sebelumnya.

Perubahan paling penting terjadi pada pola sebaran abu. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik yang sebelumnya menyebar luas ke sejumlah wilayah kini bergerak ke arah selatan-barat daya, sehingga cenderung menjauh dari daratan Lampung.

Kondisi tersebut turut membuka jalan bagi pemulihan transportasi udara. Delapan bandara yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik GAK telah kembali beroperasi, termasuk Bandara Radin Inten II Lampung. Di sisi lain, penerbangan internasional melalui Bandara Soekarno-Hatta mulai dipulihkan, meski belum seluruhnya kembali normal.

GAK masih erupsi

Aktivitas GAK belum berhenti.

Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang dikutip BMKG, pada Selasa pukul 07.49 WIB terjadi erupsi dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik.

Erupsi tersebut dikategorikan sebagai erupsi Strombolian kecil.

Data itu menjadi penanda bahwa meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, sumber abu vulkanik belum sepenuhnya berhenti.

Episode erupsi menerus sebelumnya berlangsung sekitar 25 jam, sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.

Setelah fase tersebut berakhir, aktivitas GAK beralih menjadi erupsi-erupsi singkat dengan intensitas lebih rendah.

Karena itu, kondisi terkini lebih tepat disebut aktivitas vulkanik yang melandai, bukan GAK telah berhenti erupsi.

Abu mulai menjauh dari Lampung

Perubahan arah sebaran abu menjadi perkembangan penting bagi Lampung.

Dalam pembaruan BMKG pukul 09.00 WIB, abu vulkanik teramati hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,13 kilometer.

Pada lapisan tersebut, abu bergerak ke arah selatan-barat daya dengan kecepatan angin sekitar 5–10 knot.

Pola tersebut membuat sebaran abu cenderung bergerak menjauh dari wilayah daratan Lampung dan mengarah ke kawasan selatan-barat daya, termasuk perairan.

Situasi ini berbeda dengan fase sebelumnya ketika abu vulkanik GAK menyebar lebih luas dan mengganggu ruang udara di sekitar Lampung, Banten, Jawa Barat hingga wilayah lainnya.

Bagi Lampung, perubahan pola angin tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan aktivitas penerbangan kembali dibuka.

Namun, kondisi ini tidak berarti ancaman abu telah hilang.

Selama GAK masih mengalami erupsi, material vulkanik tetap dapat kembali masuk ke atmosfer. Perubahan arah angin juga dapat mengubah jalur sebaran abu dalam waktu relatif singkat.

Dengan demikian, arah angin menjadi faktor kunci untuk menentukan wilayah yang berpotensi terdampak berikutnya.

Delapan bandara kembali beroperasi

Pemulihan penerbangan berlangsung setelah pemantauan menunjukkan kondisi ruang udara di sekitar sejumlah bandara kembali memungkinkan untuk operasional.

Bandara Soekarno-Hatta kembali beroperasi sejak 00.30 WIB, disusul Halim Perdanakusuma pukul 00.40 WIB dan Husein Sastranegara pukul 00.42 WIB.

Dua bandara lainnya, Budiarto Curug dan Pondok Cabe, masing-masing kembali beroperasi pada 01.25 WIB dan 01.28 WIB.

Sementara tiga bandara yang sebelumnya masih terdampak kemudian menyusul dibuka pada pagi hari.

Muhammad Taufiq Kiemas kembali beroperasi pukul 09.31 WIB, Radin Inten II pukul 09.45 WIB, dan Salakanagara Tanjung Lesung pukul 09.50 WIB.

Dengan demikian, pada Selasa pagi seluruh delapan bandara yang sebelumnya ditutup akibat dampak abu vulkanik GAK telah kembali beroperasi.

Untuk Radin Inten II, pembukaan kembali menjadi perkembangan penting bagi konektivitas Lampung-Jakarta.

Penerbangan kemudian kembali bergerak setelah ruang udara dan area bandara diperiksa.

BMKG sebelumnya menyatakan pemeriksaan paper test di bandara-bandara terdampak menunjukkan tidak adanya paparan abu vulkanik yang menghalangi pembukaan kembali operasional.

Pemulihan juga terjadi pada penerbangan internasional melalui Soekarno-Hatta.

Bandara utama Jakarta tersebut kembali dibuka pada dini hari setelah sebelumnya mengalami gangguan akibat sebaran abu vulkanik GAK.

Pembukaan kembali bandara membuat sejumlah penerbangan internasional mulai dijalankan kembali.

Namun, pembukaan bandara tidak serta-merta berarti seluruh penerbangan internasional kembali normal.

Sejumlah maskapai masih melakukan penyesuaian jadwal akibat gangguan penerbangan pada hari-hari sebelumnya.

AirAsia, misalnya, menyatakan penerbangan menuju dan dari Jakarta mulai kembali beroperasi. Namun, pada Selasa (8/9) masih terdapat penyesuaian pada sejumlah penerbangan, termasuk rute Jakarta-Bandar Lampung.

Dua penerbangan AirAsia, QZ178 Jakarta-Bandar Lampung dan QZ179 Bandar Lampung-Jakarta, masih belum beroperasi pada hari tersebut.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pemulihan penerbangan berlangsung bertahap.

Dampak erupsi terhadap penerbangan sebelumnya cukup besar. Sekitar 2.961 penerbangan dan 341 ribu penumpang tercatat terdampak.

Soekarno-Hatta termasuk yang mengalami gangguan besar, dengan penerbangan domestik maupun internasional terdampak selama abu berada di ruang udara sekitar Jakarta.

Pesawat terdampak masih diperiksa

Pemulihan penerbangan juga tidak hanya bergantung pada status bandara.

Pesawat yang sebelumnya terkena dampak abu vulkanik perlu diperiksa sebelum kembali beroperasi.

Reuters melaporkan sekitar 178 pesawat yang sebelumnya terdampak masih menjalani pemeriksaan terkait kelayakan operasional.

Hal ini penting karena abu vulkanik dapat menjadi persoalan serius bagi mesin pesawat apabila masuk ke dalam jalur penerbangan.

Karena itu, meskipun kondisi di sekitar bandara telah membaik, maskapai tetap harus memperhitungkan kondisi rute dan ruang udara yang akan dilalui.

Inilah sebabnya bandara dibuka lebih dulu, sementara normalisasi seluruh jaringan penerbangan membutuhkan waktu lebih panjang.

Lampung memasuki fase lebih aman, tetapi belum bebas risiko

Hingga pukul 15.30 WIB, perkembangan situasi GAK memberikan ruang yang lebih baik bagi Lampung.

Erupsi menerus telah berhenti. Intensitas erupsi menurun. Sebaran abu yang dipantau BMKG pada pagi hari bergerak ke selatan-barat daya dan menjauh dari daratan Lampung. Radin Inten II pun telah kembali beroperasi sejak pukul 09.45 WIB.

Namun, satu fakta tetap menjadi garis bawah adalah GAK masih erupsi.

Erupsi kecil yang tercatat pukul 07.49 WIB menunjukkan aktivitas vulkanik belum berhenti. Karena itu, potensi terbentuknya abu baru tetap ada.

Perubahan arah angin juga tidak bersifat permanen.

Jika arah dan kecepatan angin berubah, jalur sebaran abu dapat kembali bergeser dan berpotensi memasuki ruang udara yang berbeda.

Bagi dunia penerbangan, persoalannya bukan semata-mata apakah GAK sedang erupsi atau tidak, melainkan di mana abu berada, pada ketinggian berapa, seberapa luas sebarannya, dan ke arah mana angin membawanya.

Bandara menuju pemulihan

Situasi GAK pada Selasa sore menunjukkan pergeseran dari fase gangguan penerbangan menuju fase pemulihan.

GAK masih aktif, tetapi erupsi menerus telah berakhir. Abu masih dipantau, tetapi pola sebarannya saat ini lebih menguntungkan bagi Lampung. Delapan bandara telah kembali beroperasi dan penerbangan internasional melalui Jakarta mulai dipulihkan.

Meski demikian, belum ada alasan untuk menganggap persoalan sepenuhnya selesai.

Selama GAK masih menghasilkan erupsi, kondisi ruang udara tetap harus dipantau secara dinamis. Bagi maskapai dan operator penerbangan, keputusan terbang tetap bergantung pada kondisi abu vulkanik dan keselamatan jalur penerbangan.

Dengan demikian, krisis abu vulkanik GAK mulai surut, tetapi belum sepenuhnya berakhir.

Bagi Lampung, kabar baiknya adalah abu saat ini bergerak menjauh dan Radin Inten II telah kembali melayani penerbangan.

Bagi penerbangan nasional dan internasional, kabar baiknya adalah delapan bandara yang terdampak telah kembali dibuka.

Tetapi bagi GAK sendiri, aktivitas belum selesai.

Gunung itu masih berbicara, hanya saja suaranya kini jauh lebih kecil dibanding beberapa hari sebelumnya.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *