BANDARLAMPUNG — Perkembangan tiga kandidat vaksin tuberkulosis (TBC) yang dipantau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membawa harapan baru bagi upaya pengendalian penyakit yang masih menjadi beban besar Indonesia. Bagi Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, kabar ini datang ketika pemerintah provinsi tengah berupaya mempercepat pencegahan dan penemuan kasus TBC.

BPOM melaporkan satu kandidat vaksin telah memasuki uji klinis fase III. Kandidat vaksin inhalasi yang dikembangkan CanSino bersama Etana bersiap menuju fase II, sedangkan kandidat yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) masih dalam proses evaluasi.
Meski menjanjikan, kandidat-kandidat tersebut belum bisa dianggap sebagai vaksin yang siap digunakan secara luas. Keamanan dan efektivitasnya masih harus dibuktikan melalui tahapan penelitian dan evaluasi yang diperlukan.
Harapan ilmiah itu penting. Namun, Lampung tidak bisa menunggu vaksin baru untuk memperkuat langkah pencegahan sekarang.
Dalam rapat koordinasi penanggulangan TBC di Pesawaran pada 20 Oktober 2026, Jihan menyoroti masih rendahnya capaian program di Lampung. Hingga Oktober, notifikasi kasus baru mencapai 44 persen, jauh dari target nasional 90 persen. Sementara pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) hingga 16 Oktober baru mencapai 14 persen, dibandingkan target 80 persen.
Angka tersebut menunjukkan besarnya pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Penemuan kasus perlu diperluas melalui skrining aktif dan investigasi kontak, terutama terhadap orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC. Mereka yang teridentifikasi berisiko harus memperoleh pemeriksaan dan tindak lanjut sesuai kebutuhan medis.
Jihan telah mendorong pemerintah kabupaten dan kota memperkuat upaya tersebut, termasuk memanfaatkan Website Peduli TB Lampung untuk membantu menjangkau masyarakat berisiko. Namun, keberhasilan tidak cukup diukur dari tersedianya sistem, rapat koordinasi, atau instruksi kepada daerah. Ukurannya adalah semakin banyak kasus ditemukan, pasien segera mendapat pengobatan, dan kelompok berisiko memperoleh terapi pencegahan.
Kemajuan riset vaksin menjadi kabar baik bagi masa depan. Sementara itu, bagi Lampung, tantangan hari ini adalah memastikan setiap instrumen yang sudah tersedia benar-benar bekerja hingga ke tingkat puskesmas, desa, keluarga, dan masyarakat.
Harapan terhadap vaksin baru harus berjalan beriringan dengan kerja nyata di lapangan. Sebab, menekan TBC bukan hanya soal menunggu terobosan medis, tetapi juga memastikan orang yang sakit ditemukan dan diobati, serta orang yang berisiko tidak luput dari pencegahan.(iwa)
