JAKARTA — Penemuan jenazah di Pulau Enggano, Bengkulu, akhirnya memberi kepastian identitas sekaligus membuka kembali pertanyaan mengenai nasib rombongan wartawan yang hilang kontak di Selat Sunda. Polisi memastikan jenazah tanpa identitas tersebut adalah Surakman, salah satu anak buah kapal KM Arupadatu I yang membawa lima jurnalis menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan identitas Surakman dipastikan melalui pemeriksaan dan pencocokan DNA oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri. Sampel genetik jenazah yang ditemukan di Enggano dinyatakan identik dengan data biologis keluarga Surakman.
Jenazah sebelumnya ditemukan pada 12 September 2026 di kawasan pesisir Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano. Karena tidak diketahui identitasnya, jenazah sempat menjadi mister X sebelum kemudian dievakuasi ke Bengkulu untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kepastian tersebut sekaligus menguatkan bahwa salah satu dari delapan orang yang hilang kontak dari KM Arupadatu I telah ditemukan. Namun, tujuh orang lainnya yang terdiri dari lima jurnalis dan dua kru kapal masih belum diketahui keberadaannya.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah operasi pencarian akan kembali dibuka.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan Basarnas belum berencana membuka kembali operasi SAR gabungan. Menurutnya, operasi sebelumnya telah berlangsung selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang tiga hari sehingga total pencarian mencapai 10 hari.
Dalam masa perpanjangan tersebut, tim tidak menemukan tanda-tanda lain yang berkaitan dengan korban. Karena itu, operasi gabungan dihentikan dan penanganan dilanjutkan melalui pemantauan serta penyebaran informasi kepada unsur pelayaran dan masyarakat pesisir.
Basarnas, kata Amrad, tetap berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung. Pemantauan juga dilakukan melalui VTS, stasiun radio pantai, nelayan, masyarakat pesisir serta kapal-kapal yang melintas di sekitar Selat Sunda. Jika ditemukan objek atau informasi yang berkaitan dengan korban, temuan tersebut dapat ditindaklanjuti.
Sikap Basarnas tersebut muncul di tengah desakan agar pencarian kembali dilakukan. Keluarga salah satu jurnalis yang masih hilang meminta operasi dibuka lagi setelah identitas Surakman terungkap. Pewarta Foto Indonesia juga mendesak Basarnas melakukan pencarian lanjutan terhadap lima jurnalis dan dua kru kapal yang belum ditemukan.
Penemuan Surakman di Enggano memang belum menjawab seluruh misteri hilangnya KM Arupadatu I. Namun, secara faktual temuan tersebut menunjukkan bahwa salah satu korban dari kapal yang hilang di Selat Sunda dapat terbawa hingga wilayah yang jauh dari lokasi terakhir kapal dilaporkan.
Karena itu, perkembangan terbaru ini tidak serta-merta berarti operasi SAR harus dibuka kembali, tetapi memberikan informasi baru yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak berwenang. Basarnas menyatakan pemantauan tetap berlangsung, sementara keluarga korban berharap temuan Surakman menjadi petunjuk untuk mengetahui keberadaan tujuh korban lainnya.
Jenazah Surakman dijadwalkan diberangkatkan dari Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis, 24 September 2026, sebelum diserahkan kepada keluarga.
Hilangnya KM Arupadatu I sejak 7 September lalu kini menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar. Satu korban telah teridentifikasi. Tujuh lainnya masih menjadi misteri.(IWA)
