JAKARTA – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk tidak melarang ekspor solar dinilai membawa kabar yang relatif baik bagi Indonesia sebagai negara importir energi, meski kelegaan ini diperkirakan hanya bersifat sementara.
Trump menyampaikan keputusan itu kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat (2/10), tak lama setelah negara-negara Kelompok Tujuh (G-7) dan mitranya sepakat melepas hingga 100 juta barel minyak dan solar dari cadangan darurat. Pelepasan yang dikoordinasikan Badan Energi Internasional (IEA) itu akan berlangsung selama empat bulan, dengan prioritas awal pada solar. Bagi Trump, langkah tersebut menjadi alasan untuk menutup pintu pembatasan ekspor.
Bagi Indonesia, dampak yang paling terasa adalah terjaganya pasokan di pasar global. Eropa dan Amerika Latin sangat bergantung pada solar dari AS. Seandainya larangan ekspor diberlakukan, negara-negara itu berpotensi mencari pasokan pengganti dari Asia, sehingga persaingan memperebutkan solar meningkat dan harga di kawasan ikut terdorong naik. Indonesia yang masih mengimpor solar maupun minyak mentah tentu ikut terpapar risiko tersebut. Dengan ekspor AS tetap berjalan, tekanan tambahan terhadap pasar Asia bisa dihindari.
Dampak itu juga merambat ke keuangan negara. Harga Biosolar di dalam negeri selama ini ditahan pemerintah, sehingga kenaikan harga dunia tidak langsung dirasakan konsumen, melainkan ditanggung lewat subsidi dan kompensasi kepada badan usaha, terutama Pertamina. Harga dunia yang tidak melonjak lebih jauh membantu menjaga beban anggaran. Karena solar adalah bahan bakar utama sektor logistik dan transportasi barang, harga energi yang stabil turut menahan laju inflasi, sementara impor energi yang tidak membengkak mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski begitu, keringanan ini tidak berlangsung lama. Penyebab utama tingginya harga, yakni perang di Rusia dan Timur Tengah yang mengganggu pengilangan serta distribusi energi lewat jalur laut, belum terselesaikan. Menurut American Automobile Association (AAA) harga rata-rata solar konsumen di AS mencapai rekor US$6,37 per galon pada Jumat. Pelepasan cadangan darurat pun membuat penyangga global menipis, sehingga dunia lebih rentan bila terjadi guncangan baru setelah periode empat bulan berakhir. Di sisi lain, larangan ekspor AS sebenarnya bisa mendongkrak permintaan komoditas energi lain seperti batu bara, peluang yang kini tertutup bagi eksportir Indonesia, meski dampaknya dinilai kecil dibanding manfaat stabilitas harga bagi perekonomian nasional.
Karena itu, keputusan ini lebih tepat dibaca sebagai pencegahan kenaikan harga yang lebih tinggi, bukan sinyal penurunan harga. Indonesia dinilai perlu memanfaatkan jeda ini untuk memperkuat cadangan energi, mengoptimalkan program biodiesel, dan menjaga ruang fiskal untuk subsidi.
Di Amerika Serikat sendiri, keputusan Trump bernuansa politik. Ia menolak desakan sejumlah politisi Partai Republik dari wilayah pedesaan dan Midwest, termasuk Senator Chuck Grassley dan Dan Sullivan, yang meminta pembatasan ekspor menjelang pemilihan paruh waktu November. Para pemimpin industri minyak dan pakar energi sebelumnya memperingatkan bahwa pembatasan semacam itu hanya akan meredakan harga sesaat, lalu berisiko memicu lonjakan baru karena produsen dan kilang bisa memangkas produksi.(iwa)
