LAMPUNG SELATAN – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi dua kali dalam selang sekitar 15 menit pada Senin malam (5/10/2026). Tinggi kolom erupsi tidak teramati. Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan status gunung tetap Level II (Waspada).
Menurut laporan pengamatan Badan Geologi, erupsi pertama terjadi pukul 20.13 WIB dan terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 55 milimeter. Durasi sementara erupsi itu sekitar 6 menit 29 detik, karena aktivitas masih berlangsung saat laporan disusun. Erupsi kedua tercatat pukul 20.28 WIB.
Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Andi Suwardi, membenarkan adanya dua erupsi tersebut. Ketinggian kolom abu tidak dapat diukur dari pos pengamatan sehingga hingga kini belum ada angka resmi. Secara visual, gunung sempat terpantau jelas, kemudian tertutup kabut. Cuaca di sekitar gunung cerah hingga mendung, dengan angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut, barat, dan barat laut.
Erupsi ini menjadi yang pertama sejak letusan terakhir pada 10 September 2026 pukul 09.10 WIB. Dengan demikian, gunung sempat tenang sekitar 25 hari.
Andi menduga erupsi tersebut dipicu energi yang masih tersimpan di tubuh gunung. Menurutnya, aktivitas semacam ini bisa berhenti lagi setelah energinya habis. Soal kemungkinan kenaikan status, ia menyebut belum ada indikasi perubahan. “Kalau cuma malam ini saja sih tidak akan naik,” ujarnya, Selasa (6/10/2026). Namun, jika erupsi terus berulang, kata dia, itu bisa menandakan masih ada sisa energi yang belum keluar.
Badan Geologi menurunkan status Anak Krakatau dari Level III (Siaga) ke Level II (Waspada) pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB. Sebelumnya, gunung berada di Level III sejak 2 Juli 2026. Pada level saat ini, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak boleh mendekati atau beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.
Pada 4-6 September 2026, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam, diikuti semburan lava pijar. Badan Geologi kemudian menyebut karakter erupsinya kembali menjadi Strombolian. Dalam periode itu, sebaran abu dilaporkan mencapai sekitar 15 kilometer di atas permukaan laut. Erupsi tersebut juga dilaporkan mengganggu ratusan penerbangan serta aktivitas sekolah dan nelayan. Sejak Juli 2026, PVMBG mencatat sekitar 240 kali erupsi.
Pengamatan Anak Krakatau dilakukan dari dua pos, yaitu di Kalianda, Lampung Selatan, dan di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Masyarakat dapat memantau perkembangan melalui aplikasi dan situs MAGMA Indonesia, serta kanal resmi Kementerian ESDM dan Badan Geologi.
