Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menawarkan perpaduan pembangkit surya terapung dan tenaga angin lepas pantai sebagai alternatif listrik bagi masyarakat pesisir dan nelayan. Gagasan itu bersifat nasional dan tidak menyebut lokasi tertentu, tetapi bersinggungan dengan sejumlah rencana energi yang sedang berjalan di Lampung.
@Iwa Perkasa
PII menyampaikan gagasan tersebut dalam webinar Badan Keahlian Teknik Kelautan PII, Jumat (2/10/2026), bagian dari rangkaian menuju CAFEO 44 di Bandung pada 20-22 Oktober 2026. Ketua Badan Keahlian Teknik Kelautan PII, Ady Candra, menyebut kebutuhan listrik di kampung nelayan dan pulau kecil masih terbatas. Di sejumlah wilayah, warga masih mengandalkan energi konvensional seperti diesel. Listrik itu dibutuhkan untuk menggerakkan kapal, pabrik es, dan pengolahan hasil laut.
Para pembicara menekankan bahwa potensi belum otomatis menjadi proyek yang layak. Peneliti kebijakan energi LAPI ITB, Fuad Afif Herya, menyebut tantangannya mencakup perencanaan, koneksi ke jaringan listrik, dan tata kelola wilayah pesisir dan laut. “Kalau bicara potensi energi, potensinya ada. Tetapi bagaimana kita memanfaatkan itu, beda cerita,” katanya.
Ketua Pelaksana CAFEO 44 sekaligus Direktur Eksekutif PII, Santhi H. Serad, mengingatkan agar pembangunan memperhatikan jalur nelayan, keselamatan pelayaran, dan kelestarian ekosistem pesisir, serta melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
Rencana energi di Lampung
Pemprov Lampung menyatakan bauran energi terbarukan di daerahnya sudah sekitar 30 persen, di atas target nasional 23 persen. Pemprov berencana mengembangkan PLTS terapung di sejumlah bendungan dengan memanfaatkan 20 persen luas bendungan untuk panel surya. Dalam pemetaan Pemprov, Bendungan Batutegi di Tanggamus seluas 2.100 hektare disebut berpotensi menghasilkan sekitar 420 megawatt. Proyek ini berada di waduk, bukan di laut.
Pada Agustus 2026, Pemprov juga mengkaji PLTS berkapasitas 200 megawatt senilai Rp3,22 triliun. Rencana itu didasarkan pada kesepakatan bersama dengan PT Nusantara Plastik Energi yang diteken 17 Juni 2026. Pendanaan dan peran kontraktor utamanya diproyeksikan didukung konsorsium asal Hungaria, Merlion Tech Group.
Untuk wilayah kepulauan, PLN UID Lampung menargetkan PLTS di Pulau Sebesi, Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, mulai dibangun pada 2027 melalui Program Listrik Desa. General Manager PLN UID Lampung, Noer Suratmoko, menyampaikan target itu pada 21 September 2026. Pemkab Lampung Selatan tengah menyiapkan lahan.*****
