TEI 2026 Membuka Panggung Global untuk Kopi Lampung

BANDAR LAMPUNG — Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang, menjadi peluang penting bagi Lampung untuk memperkuat posisi kopi daerah di pasar global.

Kementerian Perdagangan menyiapkan Zona Kopi, Teh, dan Kakao (KoTeKa) di Hall 3A. Dari empat daerah yang secara khusus disebut mewakili potensi kopi Indonesia di zona tersebut, Lampung berada di antara Aceh, Sumatra Utara, dan Jawa Timur. Pelaku usaha yang tampil terdiri atas perusahaan eksportir hingga koperasi petani.

Bagi Lampung, kesempatan ini penting karena kopi bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi salah satu penopang ekspor daerah. Data BPS menunjukkan kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah menyumbang US$1,58 miliar atau 26,44 persen terhadap ekspor Lampung pada Januari–November 2025.

Kemendag sebelumnya juga menggelar CEO Gathering sektor kopi di Lampung. Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra internasional, termasuk importir kopi dari Mesir, sekaligus mendorong eksportir Lampung memanfaatkan TEI untuk memperluas pasar.

Momentum tersebut datang ketika ekspor kopi Indonesia sedang mencatat kinerja kuat. Pada 2025, nilainya mencapai rekor US$2,51 miliar dengan volume 510.759 ton, meningkat 53,2 persen dibandingkan 2024. Indonesia kini menjadi eksportir kopi terbesar kedelapan dunia dengan pangsa 3,50 persen.

TEI 2026 juga telah mencatat 6.597 buyer dari 113 negara hingga akhir September. India, China, Nigeria, dan Malaysia menjadi sejumlah negara dengan pendaftar terbanyak. Kemendag menargetkan 8.000 buyer dan transaksi US$17,5 miliar.

Namun, peluang terbesar Lampung bukan sekadar meningkatkan volume penjualan. Tantangannya adalah mengubah posisi sebagai pemasok komoditas menjadi pemasok produk bernilai tambah.

Buyer global kini tidak hanya melihat volume, tetapi juga kualitas, konsistensi, ketertelusuran, sertifikasi, keberlanjutan, hingga kemampuan memenuhi kontrak jangka panjang. Karena itu, keberhasilan Lampung di TEI seharusnya diukur dari kontrak yang tercipta, pasar baru yang ditembus dan nilai tambah yang kembali ke daerah.

TEI 2026 dengan tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing” pada akhirnya bukan sekadar panggung promosi. Bagi Lampung, ini adalah kesempatan menguji apakah kekuatan kopi daerah mampu diterjemahkan menjadi ekspor bernilai lebih tinggi.

Lampung sudah memiliki kopi, sentra produksi dan pengalaman ekspor. Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin besar nilai ekonomi dari kopi tersebut yang tinggal di Lampung.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *