Karhutla Way Kambas masih ditangani setelah 24 hari. Sekitar 30 hektare masih terindikasi terbakar atau berasap, dengan 350 personel gabungan dikerahkan.
LAMPUNG TIMUR — Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih menjadi pekerjaan berat bagi tim gabungan. Hingga 18 Oktober 2026, penanganan telah berlangsung selama 24 hari, tetapi sekitar 30 hektare area masih terindikasi terbakar atau berasap.
Berdasarkan laporan Pemerintah Provinsi Lampung, pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan melibatkan sekitar 350 personel gabungan. Mereka berasal dari BPBD, pemadam kebakaran, TNI, Polri, BNPB, BMKG, tim Satgas Darat TNWK, BPBD kabupaten/kota, serta mitra swasta.
Operasi pemadaman menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Vegetasi yang rapat menghambat air dari helikopter water bombing mencapai permukaan lahan secara optimal. Sementara itu, sumber air terdekat berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik api. Keterbatasan peralatan dan logistik turut menyulitkan upaya pemadaman.
Pada 18 Oktober, empat tim darat melakukan pemantauan menggunakan drone, memadamkan api di sejumlah titik, dan membuka jalur menuju lokasi kebakaran. Pemantauan drone pada pukul 17.00 WIB memperkirakan sekitar 30 hektare area masih terindikasi terbakar atau berasap.
923 kali penyiraman dari udara
Dukungan pemadaman udara dilakukan menggunakan helikopter water bombing. Hingga 18 Oktober, tercatat sedikitnya 923 kali penyiraman sejak awal operasi, dengan estimasi area yang terkena siraman sekitar 124 hektare. Sementara itu, penanganan melalui jalur darat secara akumulatif mencapai sekitar 192 hektare.
Pemprov Lampung menyebut akumulasi luas penanganan melalui jalur darat dan udara mencapai sekitar 315 hektare. Angka ini merupakan cakupan penanganan, bukan angka total luas lahan yang terbakar. Data tersebut juga tidak bisa langsung dijumlahkan karena cakupan pemadaman darat dan udara berpotensi bersinggungan.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta seluruh jajaran tetap siaga hingga musim hujan tiba. Penanganan, menurut dia, harus dilakukan cepat dan terpadu, disertai pemetaan wilayah rawan, pemantauan titik panas, serta edukasi masyarakat untuk mencegah kebakaran berulang.
“Sampai musim hujan tiba, kondisi kita harus tetap siaga dan waspada. Penanganan bencana tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri, semangat kolaborasi harus kita dorong bersama TNI, Kepolisian, relawan, hingga masyarakat,” tegas Gubernur.
Pemprov juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat. Setiap kebakaran diminta segera ditangani agar tidak meluas.
Tantangan berikutnya bukan hanya memadamkan titik api yang masih aktif, tetapi juga memastikan api tidak kembali muncul di area yang telah ditangani. Kondisi vegetasi, akses menuju sumber air, serta ketersediaan peralatan menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas pemadaman.
Selama api belum sepenuhnya terkendali, pemantauan dan kesiapsiagaan perlu terus dilakukan. Pencegahan kebakaran baru juga penting agar tenaga dan sumber daya yang dikerahkan tidak terus terserap untuk menangani kejadian berulang.(iwa)
