Krisis Minyak: G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan, Harga BBM di Indonesia Masih Bertahan

G7 sepakat lepas 100 juta barel cadangan minyak dan batalkan larangan ekspor diesel AS. Harga BBM di Indonesia tak berubah, tapi tekanan subsidi membesar.

NOMICS.ID – Negara-negara G7 sepakat melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan strategis mereka untuk meredam gejolak harga energi. Kesepakatan yang dicapai Jumat (2/10) itu sekaligus mencegah Amerika Serikat menerapkan larangan ekspor diesel yang sempat diancamkan Presiden Donald Trump. Di Indonesia, harga BBM per Oktober 2026 masih bertahan, meski tekanan dari pasar global terus membesar.

Pelepasan cadangan dikoordinasikan lewat Badan Energi Internasional (IEA), dimulai segera dan berlangsung selama empat bulan. Porsi diesel yang besar didahulukan dalam 20 hari pertama. Dalam pernyataan bersama yang dirilis kantor Presiden Prancis Emmanuel Macron, para pemimpin G7 juga sepakat tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi di antara anggota dan mendorong negara produsen lain melakukan hal serupa.

Kesepakatan ini lahir dari tarik-ulur politik. Trump sebelumnya mengancam menghentikan seluruh ekspor diesel AS jika negara-negara Eropa tidak melepas stok dieselnya. Uni Eropa menolak keras ancaman itu, dan IEA mencatat AS memasok sekitar separuh impor diesel Uni Eropa pada Agustus. Setelah G7 sepakat, Trump menyatakan larangan ekspor tidak akan dilakukan dan tidak pernah benar-benar dipertimbangkan, padahal sepekan sebelumnya ia mengakui telah menyerukan langkah itu.

Pelepasan terbaru ini merupakan kelanjutan dari upaya yang dimulai Maret lalu, saat IEA menyepakati pelepasan cadangan darurat 400 juta barel, rekor terbesar dalam sejarah lembaga itu, untuk meredam lonjakan harga akibat perang AS-Israel dengan Iran. Saat itu, IEA menyebut volume ekspor minyak mentah dan produk olahan global anjlok hingga kurang dari 10% level sebelum perang. Per 2 Oktober, IEA mengatakan sekitar 325 juta barel dari komitmen tersebut sudah dilepas.

Dampak kesepakatan terbaru masih dipertanyakan. Dua diplomat menyebut pengumuman itu mungkin hanya mengulang janji sebelumnya, sementara 100 juta barel setara kira-kira satu hari konsumsi minyak dunia. Pembagian jatah antaranggota dan mitra juga masih akan dibahas melalui IEA.

Di Indonesia, Pertamina mempertahankan harga BBM pada Oktober 2026. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter, sedangkan Pertamax Rp15.950 per liter. Pemerintah sebelumnya menyatakan harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan hingga akhir 2026, sementara harga BBM nonsubsidi masih sama dengan penyesuaian terakhir pada 2 September. Pertamina menyebut keputusan itu mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat.

Namun tekanan di belakang layar terus meningkat. Sejumlah laporan menyebut harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel, jauh di atas asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Selisih harga bensin olahan di Singapura terhadap Brent juga disebut sekitar US$25 per barel, hampir tiga kali lipat kondisi normal sebelum perang. Dalam kondisi itu, menurut seorang analis, Pertamax di harga saat ini baru mencapai titik impas jika Brent berada di kisaran US$80 hingga US$85. Jika harga tinggi bertahan hingga akhir tahun, pemerintah dinilai akan menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga BBM atau memperbesar beban subsidi dalam APBN.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *