Puso Padi Lampung 2026 Tembus 9.879 Hektare, Mayoritas Akibat Banjir, Bukan Kekeringan

Puso padi Lampung 2026 tembus 9.879 hektare, mayoritas akibat banjir 8.013 hektare, bukan kekeringan. Dinas Pangan usulkan pola tanam tiga musim.

BANDAR LAMPUNG – Lahan padi yang mengalami gagal panen atau puso di Provinsi Lampung pada 2026 tercatat seluas 9.879,52 hektare, berdasarkan data terbaru. Angka itu setara 1,70 persen dari total luas panen Januari-November 2026 yang mencapai 581.933 hektare.

Berdasarkan data terbaru puso padi Provinsi Lampung tahun 2026, banjir menjadi penyebab terbesar dengan luasan 8.013 hektare, atau sekitar 81 persen dari total puso. Kekeringan menyusul dengan 1.724 hektare (sekitar 17 persen). Sisanya akibat organisme pengganggu tanaman (OPT) akibat tikus 138 hektare, wereng batang cokelat 3 hektare, dan blas 1 hektare.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Elvira Umihanni menyampaikan, persentase puso berbeda jika menggunakan pembanding lain. Dibandingkan dengan luas tanam padi sampai September 2026 sebesar 501.951,03 hektare, puso mencapai 1,97 persen.

Irigasi Perpompaan Dinilai Sangat Membantu

Ditanya apakah irigasi perpompaan (irpom) cukup membantu upaya Lampung mengantisipasi dampak musim kemarau, Elvira menyebut irpom sangat membantu.

Menurutnya, pemerintah daerah terus memastikan irpom, irigasi perpipaan (irpip), dan bangunan konservasi air berfungsi dengan baik. Pemerintah juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWS SS) untuk menyediakan air bagi penyelamatan pertanaman hingga panen.

“Kami berterima kasih kepada BBWS SS yang sudah kolaboratif dalam upaya penyelamatan pertanaman di musim kemarau ini, walaupun masih ada beberapa lokasi yang tidak bisa diselamatkan,” ujarnya.

Usulan Tiga Musim Tanam

Dari sisi ketersediaan air, Elvira menjelaskan bahwa pola tanam yang direncanakan di Lampung saat ini masih terbagi dua, yakni musim tanam (MT) I dan MT II. Pemerintah berharap pola itu bisa disesuaikan menjadi tiga musim tanam: Oktober-Januari, Februari-Mei, Juni-September.

Penyesuaian ini terutama diarahkan ke wilayah beririgasi, meski pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi iklim.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *