Tragedi Bintaro pada 19 Oktober 1987 menjadi pengingat betapa mahalnya harga sebuah kegagalan keselamatan transportasi. Hampir empat dekade kemudian, ancaman asap yang mengurangi jarak pandang di jalan raya kembali menguji kesiapsiagaan pengelola infrastruktur, petugas, pemerintah, dan pengguna jalan. Keselamatan tidak cukup dijaga dengan imbauan. Risiko harus dicegah sebelum jatuh korban.
@Iwa Perkasa
Senin pagi, 19 Oktober 1987, dua kereta api bertabrakan di kawasan Pondok Betung, Bintaro, Tangerang. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Bintaro itu menewaskan banyak orang dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban. Hingga kini, tragedi tersebut menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah transportasi Indonesia.
Mengenang Bintaro bukan sekadar mengulang tanggal dan jumlah korban. Yang lebih penting adalah memahami pelajaran di baliknya. Keselamatan tidak boleh bergantung pada keberuntungan, kewaspadaan individu, atau harapan bahwa semua prosedur akan selalu berjalan sempurna.
Sistem transportasi harus dirancang untuk mengantisipasi risiko, mendeteksi bahaya, dan mencegah kesalahan berkembang menjadi bencana. Prosedur harus jelas, komunikasi harus andal, pengawasan harus berjalan, dan setiap kelemahan harus diperbaiki.
Prinsip yang sama relevan ketika asap kebakaran menyelimuti jalan raya dan mengurangi jarak pandang.
Ketika asap menutup sebagian pandangan pengemudi, risiko perjalanan berubah secara nyata. Kendaraan di depan menjadi lebih sulit dikenali, jarak antarkendaraan lebih sulit diperkirakan, dan waktu untuk bereaksi terhadap hambatan semakin pendek.
Dalam kondisi seperti itu, mempertahankan kecepatan normal dapat berakibat fatal. Satu kendaraan yang mengerem mendadak bisa memicu rangkaian tabrakan apabila kendaraan di belakang melaju terlalu dekat atau terlambat menyadari bahaya.
Karena itu, imbauan untuk mengurangi kecepatan secara bertahap, menyalakan lampu utama, menjaga jarak aman, dan tidak memaksakan perjalanan ketika jarak pandang sangat terbatas harus dipahami sebagai langkah keselamatan yang mendasar.
Namun, meminta pengendara berhati-hati saja tidak cukup.
Pengelola jalan dan petugas terkait perlu memantau kondisi lapangan, menyampaikan informasi secara cepat dan akurat, serta mengatur lalu lintas ketika asap membahayakan perjalanan. Jika jarak pandang sudah tidak memungkinkan perjalanan yang aman, penghentian sementara lalu lintas perlu dipertimbangkan sesuai kondisi dan kewenangan petugas.
Keselamatan publik tidak boleh hanya menjadi urusan orang yang berada di balik kemudi. Mereka memang bertanggung jawab atas perilaku berkendara, tetapi perlindungan yang memadai juga bergantung pada kesiapan sistem dan kecepatan respons pihak terkait.
Persoalan asap juga tidak dapat dipisahkan dari sumber kebakaran yang menyebabkannya. Selama penanganan hanya berfokus pada dampak terhadap perjalanan, akar masalah berisiko terus berulang.
Pemadaman, pemantauan, penyelidikan penyebab kebakaran, dan penegakan aturan harus berjalan sesuai kewenangan masing-masing pihak. Jika kebakaran terjadi berulang di wilayah yang sama, evaluasi tidak boleh berhenti pada laporan kejadian. Harus ada upaya untuk mengetahui penyebab, memperbaiki pengawasan, dan mengurangi kemungkinan terulangnya kebakaran.
Di sinilah pelajaran Tragedi Bintaro menjadi relevan. Bukan karena kecelakaan kereta api pada 1987 sama dengan bahaya asap hari ini, melainkan karena keduanya menegaskan pentingnya mencegah risiko sebelum manusia menjadi korban.
Bencana sering kali dikenang melalui angka korban. Padahal, ukuran keberhasilan sistem keselamatan justru terletak pada kemampuannya mencegah korban berikutnya.
Ingatan harus menjadi tindakan
Hampir empat dekade setelah Tragedi Bintaro, keselamatan transportasi tetap membutuhkan perhatian yang tidak boleh kendur. Infrastruktur yang memadai, prosedur yang jelas, informasi yang cepat, pengawasan yang konsisten, dan tindakan tepat saat kondisi memburuk merupakan bagian dari perlindungan masyarakat.
Ketika asap mengurangi jarak pandang, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar peringatan agar berhati-hati. Mereka membutuhkan informasi yang dapat dipercaya dan tindakan yang sesuai dengan tingkat bahaya.
Tentu, tidak semua risiko dapat dihilangkan. Namun, risiko yang bisa dikenali harus dikelola, dan kelemahan yang bisa diperbaiki tidak boleh dibiarkan berulang.
Tragedi Bintaro mengajarkan bahwa harga kegagalan keselamatan dapat sangat mahal. Asap yang mengganggu perjalanan hari ini mengingatkan bahwa kewaspadaan dan kesiapsiagaan tidak boleh datang terlambat.
Jangan menunggu kecelakaan berikutnya untuk memperbaiki sistem. Jangan menunggu korban berjatuhan untuk menganggap keselamatan sebagai prioritas. Sebab, ukuran keberhasilan bukan seberapa cepat kita bereaksi setelah tragedi, melainkan seberapa baik kita mencegahnya.*****
