Setelah SAR Angkat Tangan

Sepuluh hari dianggap cukup oleh otoritas keselamatan untuk menyisir perairan Selat Sunda. Pada 17 September 2026, bendera putih dikibarkan. Operasi SAR gabungan mencari kapal cepat Arupadhatu I resmi dihentikan. Alasannya terukur secara prosedural. Nihil tanda fisik kapal, tidak ada logistik mengapung, dan pencarian dinilai sudah tidak lagi efektif. Negara, melalui tim Penyelamatnya, resmi angkat tangan.

Nomics – Namun, bagi keluarga lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang sejak Senin, 7 September 2026, penutupan dokumen operasi itu justru menjadi awal dari babak ketidakpastian yang menyiksa. Mereka dipaksa menerima kenyataan bahwa orang-orang tercinta mereka ditinggalkan di tengah luasnya samudra, terkubur bersama asumsi-asumsi birokrasi.

Tepat ketika keputusasaan mulai menebal, sebuah kejutan medis dari pantai barat Sumatra menjungkirbalikkan seluruh premis awal tim penyelamat.

Sabtu, 12 September 2026, seorang nelayan di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, menemukan jasad pria terdampar. Pekan lalu, Tim DVI Polri merilis hasil uji DNA, memastikan jasad itu adalah Sukarman, anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I.

Penemuan ini seharusnya jadi tamparan keras bagi evaluasi tim SAR.

Enggano terletak lebih dari 300 kilometer ke arah barat laut dari titik perkiraan awal hilangnya kapal di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK). Jika jasad Sukarman bisa terbawa sedemikian jauh oleh anomali arus Samudra Hindia, maka asumsi bahwa radius pencarian hanya berkutat di sekitar Selat Sunda adalah kekeliruan fatal sejak hari pertama.

Fakta medis ini menjadi senjata baru bagi keluarga korban untuk bersuara. Jika satu korban bisa terdampar di pulau terluar, besar kemungkinan korban lainnya, termasuk lima jurnalis yang membawa perlengkapan keselamatan juga terombang-ambing atau terdampar di gugusan pulau tak berpenghuni di sepanjang pesisir Lampung hingga Bengkulu.

Bertahan dengan Doa di Depok

Rabu (23/9/2026) malam, lantunan ayat-ayat suci bergema dari sebuah rumah di kawasan Depok, Jawa Barat. Di sana, Rodiyah Nasution, istri dari pewarta foto iNews Yudistiro Pranoto (Yudis), duduk bersimpuh bersama kerabat dan tetangga. Pengajian malam itu adalah ikhtiar batin sekaligus bentuk perlawanan terhadap kepasrahan yang dipaksakan oleh otoritas.

“Saat SAR mengatakan operasi dihentikan, dunia kami runtuh,” kenang Rodiyah dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi penemuan Pak Sukarman di Bengkulu mengubah segalanya. Itu bukti fisik pertama. Mereka tidak hilang ditelan kawah krakatau, mereka terbawa arus. Kami menuntut pemerintah membuka mata, pencarian ini belum selesai!”

Bagi Rodiyah dan keluarga korban lainnya, keputusan SAR untuk menyudahi pencarian hanya dalam waktu 10 hari terasa terlalu terburu-buru, terutama ketika nyawa para pekerja media yang sedang bertugas dipertaruhkan.

Menanti Solidaritas dan Sonar Laut Dalam

Hilangnya M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis lepas) bukan sekadar kecelakaan pelayaran biasa. Mereka adalah garis depan informasi yang sedang merekam denyut vulkanik Anak Krakatau. Nomics sepakat dengan itu.

Kini, setelah tim SAR resmi menarik diri, desakan mulai bergeser kepada asosiasi profesi jurnalis dan korporasi media tempat mereka bernaung. Investigasi di lapangan menunjukkan belum ada tekanan politik yang cukup kuat untuk memaksa Basarnas mengerahkan teknologi sonar pemindai laut dalam (Multi-Beam Echo Sounder) guna melacak bangkai kapal Arupadhatu I di sepanjang jalur arus menuju Bengkulu.

Negara mungkin telah menghitung biaya dan efektivitas berdasarkan lembar operasional standar. Namun bagi seorang istri di Depok, seorang ibu di Pandeglang, dan anak-anak yang terus menatap pintu rumah, hitungan itu tidak akan pernah berlaku. Selama samudra belum mengembalikan jurnalis-jurnalis mereka, bagi keluarga, operasi pencarian tidak akan pernah ditutup.(iwa)

 

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *