BANDAR LAMPUNG – Ekspor Lampung mencatat bulan terbaiknya dalam hampir dua tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan nilai ekspor Agustus 2026 sebesar US$706,77 juta, naik 3,44 persen dari Agustus 2025 yang sebesar US$683,27 juta. Dibanding Juli 2026 (US$582,54 juta), kenaikannya mencapai 21,33 persen. Angka ini tertinggi dalam grafik BPS yang membentang sejak Januari 2025, dan seluruhnya berasal dari ekspor nonmigas karena Lampung tidak punya ekspor migas. Nilai impor Agustus tercatat US$101,74 juta, sehingga ekspor hampir tujuh kali lipat impor dengan selisih sekitar US$605 juta.
Pertumbuhan Lampung masih tertinggal dari nasional. Secara nasional, BPS mencatat ekspor Agustus 2026 sebesar US$26,61 miliar, naik 6,72 persen dari tahun lalu, dengan impor US$23,06 miliar yang melonjak 19,09 persen. Neraca perdagangan nasional surplus US$3,55 miliar pada Agustus dan US$7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus. Untuk periode itu, ekspor nasional mencapai US$193,64 miliar, naik 4,74 persen. Lampung hanya tumbuh 0,42 persen, dari US$4.280,56 juta menjadi US$4.298,58 juta atau bertambah US$18,02 juta. Lampung menyumbang sekitar 2,2 persen ekspor nasional. Rincian impor Lampung belum tersedia di rilis ini, jadi belum bisa dibandingkan dengan lonjakan impor nasional.
Angka kumulatif yang nyaris datar menyembunyikan perbaikan di pertengahan tahun. Ekspor bulanan Lampung bergerak naik-turun: US$500,14 juta pada Januari, US$492,31 juta pada Februari, anjlok ke titik terendah US$388,42 juta pada Maret, lalu US$504,59 juta pada April dan US$477,52 juta pada Mei. Sepanjang Januari–Mei, ekspor masih tertinggal sekitar 5 persen dari periode sama tahun lalu. Kemudian ekspor melompat ke US$646,28 juta pada Juni, US$582,54 juta pada Juli, dan US$706,77 juta pada Agustus. Dalam tiga bulan terakhir, ekspor Lampung sekitar 8 persen lebih tinggi dari Juni–Agustus 2025. Dari delapan bulan tahun ini, lima bulan lebih tinggi dari bulan yang sama tahun lalu, termasuk tiga bulan terakhir secara berturut-turut.
Struktur ekspor Lampung sangat terkonsentrasi. Tiga golongan barang, yaitu lemak dan minyak nabati (43,76 persen), kopi, teh, dan rempah-rempah (15,84 persen), serta bahan bakar mineral (15,06 persen), menguasai sekitar tiga perempat total ekspor. Lemak dan minyak nabati bernilai US$1.881,13 juta sepanjang Januari–Agustus, naik 3,34 persen. Pada Agustus saja nilainya US$295,12 juta, melonjak 27,04 persen dari Juli, tetapi masih 4,61 persen di bawah Agustus 2025. Dari sepuluh golongan barang utama, delapan naik, dengan total US$4.070,39 juta atau 94,69 persen dari ekspor nonmigas. Total sepuluh golongan itu turun tipis 0,23 persen.
Penarik pertumbuhan terbesar adalah bahan bakar mineral yang naik 32,28 persen menjadi US$647,31 juta, tambahan sekitar US$158 juta. Pulp dan kertas naik 46,62 persen menjadi US$176,96 juta, ikan dan krustasea 28,53 persen menjadi US$86,04 juta, dan olahan sayuran serta buah 17,56 persen menjadi US$226,11 juta. Bahan kimia organik melonjak 115,39 persen menjadi US$66,78 juta, tetapi dari basis kecil dan hanya 1,55 persen dari total ekspor. Di sisi lain, kopi, teh, dan rempah-rempah anjlok 34,30 persen, dari US$1.036,24 juta menjadi US$680,76 juta, atau hilang sekitar US$355 juta. Karet dan barang daripadanya turun 34,37 persen menjadi US$59,22 juta. Kopi menunjukkan tanda pulih bulanan, dari US$131,90 juta pada Juli menjadi US$148,18 juta pada Agustus, tetapi masih 18,54 persen di bawah Agustus 2025.
Pola itu terlihat jelas dari sisi sektor. Industri pengolahan tetap tulang punggung dengan ekspor US$2.959,51 juta, naik 7,98 persen dan menyumbang 68,85 persen. Sektor pertambangan dan lainnya naik 32,28 persen menjadi US$647,42 juta, hampir seluruhnya karena bahan bakar mineral. Sektor pertanian turun 34,15 persen, atau US$358,62 juta, menjadi US$691,64 juta. Porsinya dalam struktur ekspor menyusut dari 24,54 persen menjadi 16,09 persen. Penurunan kopi, teh, dan rempah-rempah hampir sebesar penurunan seluruh sektor pertanian. Gambaran ini berbeda dari nasional. Pada Agustus, ekspor industri pengolahan nasional naik 12,48 persen menjadi US$22,29 miliar, sedangkan ekspor pertambangan dan lainnya turun 19,47 persen menjadi US$2,79 miliar. Di Lampung, pertambangan justru naik 63,12 persen secara tahunan pada Agustus.
Tujuan ekspor Lampung bergeser. Amerika Serikat tetap pasar terbesar dengan US$652,62 juta (15,18 persen) dan naik 1,73 persen, disusul Tiongkok US$491,55 juta yang melonjak 38,34 persen, lalu Pakistan US$322,76 juta yang turun 23,73 persen. Belanda mencatat US$322,10 juta, India US$271,56 juta (turun 31,33 persen), Bangladesh US$239,96 juta (naik 31,83 persen), Italia US$208,19 juta, Vietnam US$167,12 juta (naik 48,58 persen), Jerman US$130,54 juta, dan Kamboja US$94,10 juta. Menurut kawasan, Uni Eropa menyumbang US$916,98 juta atau 21,33 persen dan turun 1,70 persen, sementara ASEAN US$539,10 juta atau 12,54 persen dan naik 21,57 persen. Secara keseluruhan, ekspor ke negara tujuan utama naik 3,00 persen menjadi US$3.774,85 juta. Pada Agustus, Pakistan sudah bangkit ke US$72,71 juta (naik 44,43 persen secara tahunan) dan Bangladesh ke US$51,59 juta, sementara Uni Eropa turun 24,39 persen.
Dari data ini ada beberapa hal yang layak dicermati.
Pertama, momentum ekspor Lampung membaik dan Agustus bukan lonjakan sesaat, karena tren tiga bulan terakhir mengangkat kinerja yang sempat negatif.
Kedua, ketergantungan pada beberapa komoditas membuat kinerja ekspor rentan terhadap harga dan pasokan. Tiga golongan utama menguasai tiga perempat ekspor, sehingga gejolak harga minyak nabati, kopi, atau bahan bakar mineral cepat terasa.
Ketiga, ekspor pertanian primer melemah sementara komoditas olahan dan bahan bakar mineral menguat. Penurunan nilai kopi dan karet menarik dihubungkan dengan data Nilai Tukar Petani September, ketika harga karet di tingkat petani naik akibat panen menurun karena kemarau. Jika kedua data itu dibaca bersama, nilai ekspor karet yang turun bisa mencerminkan volume yang menyusut, bukan sekadar harga.
Keempat, penggerak ekspor nasional seperti nikel dan aluminium tidak termasuk sepuluh golongan utama Lampung, sehingga pertumbuhan ekspor Lampung belum bisa mengikuti laju nasional.
