Lampung Maju, Nilai Tukar Petani September di Atas Nasional dan Tertinggi Sepanjang Tahun

BANDAR LAMPUNG – Daya beli petani Lampung terus menguat dan kini jauh di atas rata-rata nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) September 2026 sebesar 137,63, naik 2,09 persen dibanding Agustus yang sebesar 134,81.

BPS mencatat NTP nasional sebesar 131,11, naik 1,49 persen dan disebut sebagai rekor tertinggi. Dengan begitu NTP Lampung unggul 6,52 poin atau sekitar 5 persen dari nasional, dan kenaikannya bulan ini juga lebih cepat. Secara tahunan, NTP Lampung melonjak 7,84 persen dari 127,62 pada September 2025. NTP membandingkan harga yang diterima petani dengan harga yang harus mereka bayar, sehingga angka ini menunjukkan seberapa banyak barang dan jasa yang bisa ditukar dari hasil panen.

Pola kenaikannya serupa di Lampung dan nasional. Indeks harga yang diterima petani (It) Lampung naik 2,25 persen, dari 175,26 menjadi 179,19, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya naik 0,16 persen, dari 130,00 menjadi 130,20. Secara nasional, It naik 1,93 persen dan Ib naik 0,44 persen. Kenaikan harga jual di Lampung lebih tinggi, sementara kenaikan biaya hidup dan produksi petani lebih ringan. Indeks konsumsi rumah tangga petani Lampung naik 0,21 persen, kurang dari nasional yang 0,38 persen. Indeks makanan, minuman, dan tembakau yang dibayar petani Lampung naik 0,25 persen, jauh di bawah nasional yang 0,55 persen. Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP), yang membandingkan harga jual dengan biaya produksi, naik 2,24 persen dari 139,68 menjadi 142,81. Biaya produksi dan penambahan barang modal tidak berubah, sehingga kenaikan harga jual langsung menjadi tambahan margin.

Kalau ditarik dari awal tahun, perjalanan NTP Lampung berbentuk huruf V. Tahun dibuka di angka 128,17 pada Januari, turun 1,52 persen dari 130,15 pada Desember 2025. NTP terus melemah, 126,81 pada Februari lalu sekitar 124,9 pada Maret, dan menyentuh titik terendah 123,93 pada April, turun empat bulan berturut-turut. Dari Januari ke April, NTP kehilangan 3,31 persen. Titik baliknya Mei, ketika NTP melompat 3,29 persen ke 128,01, ditopang hortikultura yang melonjak 17,58 persen karena harga tomat, cabai merah, dan sawi hijau. Setelah itu NTP naik lima bulan berturut-turut: 129,90 pada Juni, 132,64 pada Juli, 134,81 pada Agustus, dan 137,63 pada September. Dari dasar April, NTP sudah naik 13,70 poin atau sekitar 11 persen. Dibanding Januari, kenaikannya 9,46 poin atau 7,38 persen, dan dibanding Desember 2025 sebesar 5,75 persen. Dengan itu, September menjadi level tertinggi dalam sembilan bulan pertama 2026.

Kenaikan itu tidak merata antarsubsektor.

Tanaman pangan mencatat perbaikan paling mantap, dari 106,29 pada April menjadi 118,19 pada September, naik sekitar 11 persen. Pada September, NTP tanaman pangan naik 2,03 persen, dengan palawija melesat 4,37 persen karena permintaan ketela pohon dan jagung tinggi sementara stok kurang, dan padi naik 0,70 persen. Secara nasional, NTP tanaman pangan 119,24, tipis di atas Lampung. Perkebunan rakyat naik dari 152,98 pada April menjadi 173,74, tertinggi di antara semua subsektor di Lampung dan di atas nasional (171,67). Pada September, kenaikannya 2,39 persen karena harga karet terangkat oleh panen yang menurun akibat kemarau.

Hortikultura paling bergejolak. NTP-nya sempat melonjak ke 137,67 pada Mei, lalu turun ke 127,03 pada Agustus, dan kembali naik 4,55 persen ke 132,80 pada September. Indeks harga sayur-sayuran naik 9,04 persen karena stok cabai merah menipis, sebab banyak petani enggan menanam di musim kemarau, tetapi buah-buahan turun 1,89 persen dan tanaman obat anjlok 13,65 persen. Angka Lampung ini masih di atas nasional yang 129,50. Perikanan tangkap naik 1,94 persen menjadi 117,48 karena tangkapan teri sedikit di luar musimnya, dan perikanan budidaya naik 0,28 persen menjadi 96,63 karena stok udang payau terbatas menjelang panen. Keduanya masih lebih rendah dari posisi April (118,75 dan 98,67).

Sebaliknya, peternakan menjadi satu-satunya subsektor yang turun di Lampung, 0,81 persen menjadi 98,14. Harga sapi potong tertekan karena peternak yang kesulitan mencari pakan di musim kemarau memilih menjual ternaknya lebih murah. Padahal secara nasional, seluruh subsektor naik dan NTP peternakan berada di 102,91. Posisi peternak Lampung pun masih di bawah angka 100, sama seperti pembudidaya ikan, yang berarti harga yang mereka terima belum mampu mengimbangi biaya hidup dan produksi dibanding tahun dasar 2018.

Dibanding September tahun lalu, NTP seluruh subsektor di Lampung naik. Tanaman pangan mencatat lonjakan terbesar, 13,71 persen, dari 103,94 menjadi 118,19. Hortikultura naik 6,90 persen, perkebunan rakyat 5,14 persen, perikanan tangkap 3,81 persen, peternakan 0,76 persen, dan perikanan budidaya 0,16 persen.

Dari rangkaian data ini, ada beberapa hal yang layak dicermati.

Pertama, kenaikan NTP banyak ditopang harga yang terdongkrak oleh kemarau dan keterbatasan pasokan, bukan oleh peningkatan produksi. Harga karet naik karena panen turun, dan harga cabai naik karena petani tidak menanam. NTP yang tinggi tidak otomatis berarti pendapatan setiap rumah tangga petani naik.

Kedua, komoditas yang sama bisa menjadi kabar baik di kebun dan beban di pasar. Cabai merah mengangkat NTP hortikultura, tetapi juga menjadi pendorong terbesar inflasi bulanan Lampung pada September dengan andil 0,12 persen.

Ketiga, karena Ib naik jauh lebih lambat dari It, petani Lampung sekarang menikmati selisih yang lebar. Selisih itu akan menyempit bila harga pangan dan biaya hidup di perdesaan ikut merambat naik.

Keempat, peternak dan pembudidaya ikan membutuhkan perhatian khusus, terutama soal pakan dan biaya di musim kemarau.(IWA)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *