Inflasi Lampung September 2026 Capai 3,51 Persen

Beras, Emas, dan BBM Jadi Penyumbang Utama

BANDAR LAMPUNG – Inflasi di Lampung lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) September 2026 sebesar 3,51 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,51 pada September 2025 menjadi 112,32.

Pada hari yang sama, BPS pusat mengumumkan inflasi nasional sebesar 3,28 persen dengan IHK 112,31, sehingga Lampung berada 0,23 poin persentase di atas nasional. Kedua IHK nyaris sama, tetapi Lampung sampai di sana dari titik awal yang lebih rendah dan melaju lebih cepat.

Perbandingan setahun terakhir menunjukkan hal itu. Pada September 2025, inflasi Lampung baru 1,17 persen, jauh di bawah nasional yang 2,65 persen. Dalam setahun, Lampung berbalik dari bawah nasional menjadi di atasnya. Agustus 2026 pun serupa, Lampung 3,53 persen, nasional 3,19 persen. Inflasi tahun berjalan (year to date/y-to-d) Lampung 2,30 persen, juga di atas nasional yang 2,17 persen, dan jauh melampaui 0,07 persen pada periode sama tahun lalu.

Secara bulanan (month to month/m-to-m), gambarnya berbeda. Inflasi Lampung hanya 0,14 persen, kurang dari separuh nasional yang 0,30 persen, dan sedikit di bawah September 2025 (0,16 persen). Artinya, tekanan harga di Lampung bulan ini lebih jinak dari tingkat nasional. Posisi di atas nasional dibentuk oleh kenaikan besar bulan-bulan sebelumnya. Titik baliknya Agustus, ketika inflasi tahunan Lampung melesat dua kali lipat dari 1,76 persen pada Juli menjadi 3,53 persen. September menjaga level itu. Sepanjang 2026, grafik Lampung naik-turun: 2,95 persen pada Februari, titik terendah 0,53 persen pada April, lalu kembali menanjak. Pola ini menandakan inflasi daerah sangat dipengaruhi komoditas bergejolak. Inflasi nasional 3,28 persen masih berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, sedangkan Lampung sedikit melampaui batas atasnya.

Yang paling menarik dari rilis ini adalah terkonsentrasinya sumber inflasi. Beras (0,33 persen), emas perhiasan (0,32 persen), dan bensin (0,29 persen) menyumbang sekitar 0,94 poin persentase, lebih dari seperempat total inflasi tahunan.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,31 persen dan inflasi 3,85 persen. Angka ini lebih rendah dari kelompok yang sama secara nasional, yang inflasinya 4,37 persen dengan andil 1,28 persen. Selain beras, minyak goreng (0,19 persen), cabai rawit (0,13 persen), dan sigaret kretek mesin (0,12 persen) ikut menaikkan angka. Dorongan itu sebenarnya lebih besar jika tidak diredam deflasi bawang merah (0,34 persen) dan telur ayam ras (0,09 persen).

Transportasi justru lebih panas di Lampung. Kelompok ini mencatat inflasi 5,54 persen dengan andil 0,59 persen, dibanding 4,84 persen dengan andil 0,58 persen secara nasional. Hampir separuh andil di Lampung berasal dari bensin, disusul mobil (0,08 persen) dan pelumas mesin (0,05 persen).

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi di Lampung, 7,71 persen dengan andil 0,50 persen, nyaris sama dengan nasional yang 7,77 persen dan andil 0,53 persen.

Sekitar dua pertiga andil kelompok ini di Lampung berasal dari emas perhiasan, sehingga lonjakannya lebih mencerminkan harga emas ketimbang kenaikan biaya hidup sehari-hari. Barang elektronik juga ikut menekan. Peralatan informasi dan komunikasi naik 14,56 persen, terutama karena telepon seluler (andil 0,11 persen) dan laptop (0,02 persen). Telepon seluler pula yang membuat kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat inflasi bulanan tertinggi di Lampung, 0,60 persen.

Pada basis bulanan, pendorong inflasi Lampung adalah cabai merah (0,12 persen), beras (0,10 persen), dan cabai rawit (0,06 persen). Secara nasional, cabai rawit (0,08 persen) dan cabai merah (0,06 persen) juga di depan, tetapi andil cabai merah dan beras di Lampung lebih besar, yakni dua kali lipat untuk cabai merah dan hampir tiga kali lipat untuk beras (0,03 persen secara nasional). Perbedaan paling mencolok ada pada daging ayam ras. Harganya menahan inflasi Lampung dengan deflasi 0,06 persen, padahal secara nasional justru menyumbang inflasi 0,05 persen. Bawang merah (0,09 persen) dan bawang putih (0,03 persen) ikut meredam inflasi bulanan Lampung. Kelompok perawatan pribadi menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi bulanan di Lampung, 0,41 persen, dengan emas perhiasan, shampo, dan parfum sebagai komoditas pemberatnya. Kelompok yang sama juga turun secara nasional, tetapi hanya 0,14 persen.

Dari empat kota/kabupaten yang dipantau di Lampung, semuanya mengalami inflasi tahunan. Kota Bandar Lampung tertinggi dengan 3,74 persen (IHK 110,97), disusul Kabupaten Mesuji 3,71 persen (IHK 116,93), Kota Metro 3,38 persen (IHK 111,11), dan Kabupaten Lampung Timur 3,00 persen (IHK 114,52). Dua daerah teratas berada di atas rata-rata nasional, sementara Kota Metro dan Lampung Timur di bawahnya. Di ibu kota provinsi, emas perhiasan (0,34 persen), bensin dan beras (masing-masing 0,25 persen), minyak goreng (0,20 persen), dan cabai rawit (0,16 persen) menjadi penyumbang terbesar. Bahkan di Lampung Timur yang inflasinya paling rendah, tekanan tetap datang dari beras (0,51 persen), bensin (0,35 persen), dan emas perhiasan (0,21 persen).

Secara bulanan, Kota Metro mencatat inflasi tertinggi, 0,39 persen, karena cabai merah (0,19 persen), beras, dan cabai rawit. Mesuji sebaliknya mengalami deflasi terdalam, 0,22 persen, setelah harga bawang merah (0,19 persen) dan bawang putih (0,17 persen) turun. Perbedaan ini menunjukkan harga pangan bergerak tidak seragam antarwilayah.

Dari data tersebut, ada tiga hal yang layak dicermati pemangku kebijakan dan pelaku usaha. Pertama, beras menjadi sumber tekanan pangan yang paling persisten di Lampung. Komoditas ini menjadi pendorong utama baik secara tahunan maupun bulanan, dan tercatat sebagai penyumbang utama di Bandar Lampung, Lampung Timur, dan Kota Metro, sehingga stabilisasi pasokan dan harganya menjadi kunci.

Kedua, sebagian penyumbang inflasi, seperti bensin, emas, dan perangkat elektronik, dipengaruhi kebijakan energi dan pasar global, sehingga ruang gerak pemerintah daerah banyak terbatas pada sisi pangan.

Ketiga, hortikultura menentukan volatilitas bulanan. Cabai mendorong inflasi sementara bawang menahannya, dan pergeseran harga keduanya bisa membalik arah inflasi dalam hitungan bulan.

Dengan inflasi tahunan Lampung bertahan di atas 3,5 persen dua bulan berturut-turut, dan inflasi nasional yang juga merambat naik dari 2,88 persen pada Juli ke 3,19 persen pada Agustus lalu 3,28 persen pada September, sorotan kini mengarah pada kemampuan daerah menjaga harga pangan strategis dan kelancaran distribusi hingga akhir tahun.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *