Jangan Malas Mengaduk Kopi (2)

Jangan Sampai Kita Terbiasa dengan Rasa Pahit

Ada yang lebih berbahaya daripada meminum kopi pahit, yakni ketika kita terlalu terbiasa dengan kepahitannya hingga tak lagi bertanya mengapa kopi itu tidak kunjung manis.

Mula-mula kita mengernyit, mengeluh, lalu mencari gula. Namun, ketika kepahitan berlangsung terlalu lama, kita mulai menyesuaikan diri. Yang semula dianggap tidak wajar perlahan diterima sebagai kewajaran. Keluhan menjadi rutinitas, kekecewaan menjadi kebiasaan, dan harapan diam-diam diturunkan agar tidak terus berbenturan dengan kenyataan.

Kita tidak lagi berusaha mengubah rasa kopi. Kita hanya belajar menahan pahitnya.

Barangkali, di situlah masalah kehidupan bermula. Bukan semata-mata ketika keadaan memburuk, melainkan ketika kita kehilangan kepekaan untuk menyadari bahwa keadaan sebenarnya bisa diperbaiki.

Lampung dan kepahitan yang berulang

Lihatlah Lampung. Tanahnya subur, hasil pertaniannya beragam, dan peluang industrinya terbuka. Kopi, singkong, padi, dan jagung menjadi penopang ekonomi masyarakat. Namun, kekayaan potensi tidak otomatis menjamin kesejahteraan mereka yang mengolahnya.

Petani singkong, misalnya, bisa bekerja berbulan-bulan, tetapi tetap menghadapi ketidakpastian harga. Ketika panen tiba, ia tidak selalu punya pilihan untuk menunggu harga membaik. Biaya produksi harus dibayar, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan.

Dalam keadaan seperti ini, meminta petani bersabar bukanlah jawaban yang cukup. Kita perlu memeriksa tata niaga, posisi tawar, akses pasar, dan kebijakan yang menentukan pembagian nilai ekonomi.

Kesabaran memang kebajikan. Namun, menjadikan kesabaran sebagai jawaban permanen atas persoalan struktural adalah kekeliruan.

Hal serupa berlaku pada pembangunan. Kita boleh bangga terhadap investasi, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan infrastruktur. Tetapi kebanggaan itu perlu disertai pertanyaan. Berapa banyak pekerjaan berkualitas tercipta? Seberapa besar nilai tambah tinggal di Lampung? Apakah pendapatan petani membaik dan kesempatan ekonomi semakin terbuka?

Potensi adalah kemungkinan, bukan keberhasilan yang sudah selesai.

Daerah yang kaya bukan hanya daerah yang memiliki banyak sumber daya, melainkan daerah yang mampu mengubah kekayaan itu menjadi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya.

Masalah yang terus berulang memiliki kemampuan mengubah ukuran kewajaran kita.

Jalan rusak membuat kita terbiasa memperlambat kendaraan. Jalan yang mulus bolehlah ngebut sedikit. Begitu pula pelayanan, bila mengecewakan membuat kita datang dengan harapan lebih rendah. Janji perubahan yang berulang tanpa hasil membuat sebagian orang berhenti berharap. Apatis, lalu semua dianggap ngedabrus.

Kita menyebutnya adaptasi. Padahal, adaptasi memiliki dua wajah. Ia bisa menjadi kekuatan untuk bertahan sambil mencari jalan keluar, tetapi juga bisa menjadi perangkap ketika membuat kita menerima keadaan yang seharusnya diperbaiki.

Ada perbedaan antara bersabar menjalani proses dan berdamai dengan kegagalan yang terus berulang.

Kita harus memberi waktu kepada kebijakan untuk menunjukkan hasil. Namun, kata proses tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari evaluasi. Waktu yang berlalu tanpa pembelajaran hanya akan memperpanjang persoalan.

Ketika kesalahan terus berulang tanpa koreksi, ia berisiko berubah menjadi pola. Dan ketika pola itu diterima sebagai kewajaran, perubahan menjadi semakin sulit diperjuangkan.

Kekuasaan membutuhkan suara yang tidak nyaman

Dalam pemerintahan, jarak antara laporan dan kenyataan harus selalu diperiksa. Sebuah program mungkin terlihat berhasil di atas kertas, tetapi manfaatnya belum tentu dirasakan masyarakat secara sepadan.

Karena itu, kritik bukan musuh pembangunan. Kritik yang jujur membantu pemerintah mengenali kelemahan kebijakannya sendiri.

Pemerintah berhak menjelaskan capaian dan tantangan. Masyarakat berhak menguji hasilnya. Pers berkewajiban memeriksa fakta. Kritik pun harus bertanggung jawab, tidak menggantikan bukti dengan prasangka atau tuduhan.

Yang perlu dihindari adalah keadaan ketika pujian lebih disukai daripada kenyataan, sementara suara yang tidak nyaman perlahan-lahan tersisih.

Kekuasaan tidak kehilangan wibawa karena dikritik. Ia justru berisiko kehilangan arah ketika terlalu lama dibiarkan nyaman dalam pujian.

Lampung membutuhkan optimisme, tetapi bukan optimisme yang menutup mata. Kita boleh bangga terhadap pembangunan daerah tanpa menganggap semua kebijakan telah sempurna. Kita boleh mendukung pemimpin tanpa harus menyetujui setiap keputusannya.

Cinta kepada daerah tidak menuntut kita menyembunyikan kekurangannya. Justru karena peduli, kita ingin kekurangan itu diperbaiki.

Persoalannya menjadi lebih serius ketika kepahitan tidak hanya dialami, tetapi juga diwariskan.

Anak muda mulai percaya bahwa masa depan yang baik hanya tersedia di luar daerahnya. Petani menganggap harga rendah sebagai risiko yang tidak mungkin diubah. Masyarakat terbiasa dengan pelayanan yang tidak memuaskan. Harapan perlahan mengecil karena kenyataan terlalu sering mengecewakan.

Padahal, pembangunan seharusnya memperluas kemungkinan hidup, bukan membuat masyarakat semakin pandai menyesuaikan cita-cita dengan keterbatasan.

Lampung membutuhkan industri yang memberi nilai tambah, pertanian yang memperkuat posisi petani, pendidikan yang membuka kesempatan, dan pemerintahan yang mengukur keberhasilan melalui manfaat nyata. Semua itu tidak selesai dengan keluhan, tetapi juga tidak akan terwujud jika persoalan hanya diminta untuk diterima.

Kemarahan bisa menjadi energi awal, tetapi perubahan membutuhkan data, keberanian, kebijakan yang tepat, dan evaluasi yang konsisten.

Kita perlu tahu kapan harus menambah gula dan kapan cukup mengaduknya. Ada masalah yang memang membutuhkan tambahan sumber daya. Ada pula yang menuntut pembenahan tata kelola, distribusi manfaat, atau ketepatan prioritas.

Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan keduanya.

Kita masih berhak memperjuangkan rasa yang lebih baik

Bayangkan seseorang yang bertahun-tahun meminum kopi pahit. Ia tidak lagi mengernyit, bahkan menganggap orang yang menginginkan rasa manis sebagai orang yang terlalu banyak menuntut.

Apakah itu berarti kopinya sudah sempurna?

Tidak. Itu hanya membuktikan bahwa manusia bisa terbiasa dengan sesuatu yang terus-menerus dialaminya.

Begitu pula kehidupan. Terbiasa dengan ketimpangan tidak membuat kesempatan menjadi lebih adil. Terbiasa dengan harga yang merugikan petani tidak membuat mereka lebih sejahtera. Dan terbiasa diam tidak berarti persoalan telah selesai.

Kita tidak harus membenci kopi yang pahit. Kita hanya perlu menolak anggapan bahwa kepahitan adalah satu-satunya rasa yang tersedia.

Maka, lain kali ketika kopi terasa pahit, jangan buru-buru menyalahkan lidah. Periksa apakah gulanya sudah larut. Jika belum, ambillah sendok dan aduklah.

Dalam kehidupan, kita juga perlu memeriksa apa yang mengendap, mengapa manfaat belum merata, dan siapa yang memiliki kewenangan untuk memperbaikinya.

Jangan sampai kita begitu terbiasa dengan rasa pahit hingga lupa bahwa kita masih punya hak untuk memperjuangkan rasa yang lebih baik.

Untuk Lampung, pekerjaan itu belum selesai. Bukan sekadar membuat daerah ini tumbuh, melainkan memastikan bahwa masyarakat ikut menikmati hasilnya dan generasi berikutnya tidak harus menerima sebagai kewajaran sesuatu yang sebenarnya bisa diperbaiki hari ini.

Jangan malas mengaduk kopi. Ketika kepahitan sudah terasa biasa, yang kita butuhkan bukan lidah yang semakin kebal, melainkan keberanian untuk mengubah rasa.

Bersambung ke bagian ketiga: “Jangan Malas Mengaduk Kopi (3) — Siapa yang Menikmati Manisnya?”

@Iwa Perkasa

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *