Ekonomi Lampung tumbuh 5,28 persen pada 2025. Namun, siapa yang menikmati hasilnya? Membaca pertumbuhan, pertanian, dan kesejahteraan warga.
@Iwa Perkasa
Kopi yang manis belum tentu dinikmati semua orang dengan cara yang sama. Ada yang menanam pohonnya bertahun-tahun, memetik buahnya, mengolah bijinya, lalu menjualnya. Semua terlibat dalam secangkir kopi, tetapi bagian keuntungan yang mereka nikmati belum tentu sama.
Begitu pula dengan pembangunan. Daerah bisa mencatat pertumbuhan ekonomi, menarik investasi, dan menghasilkan komoditas dalam jumlah besar. Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa besar kekayaan yang dihasilkan, melainkan siapa yang ikut menikmati hasilnya.
Sebab, ekonomi yang tumbuh belum tentu membuat kesejahteraan tumbuh secara merata.
Lampung kaya, siapa yang menikmati?
Lampung memiliki modal ekonomi yang besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai produk domestik regional bruto (PDRB) Lampung atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp523,85 triliun pada 2025. Ekonominya tumbuh 5,28 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar Rp140,92 triliun atau hampir 27 persen dari total PDRB.
Angka itu menunjukkan betapa pentingnya sektor pertanian bagi ekonomi Lampung. Namun, besarnya kontribusi ekonomi belum otomatis menggambarkan seberapa baik kehidupan para pelakunya.
Pada Mei 2026, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 44,04 persen penduduk Lampung yang bekerja. Artinya, hampir separuh tenaga kerja menggantungkan penghidupan pada sektor ini. Namun, pada periode yang sama, 69,17 persen penduduk bekerja masih berada dalam kegiatan informal.
Data tersebut tidak berarti seluruh pekerja pertanian berstatus informal atau berpendapatan rendah. Namun, besarnya penyerapan tenaga kerja dan dominasi pekerjaan informal memperlihatkan tantangan yang tidak boleh diabaikan. Pertumbuhan perlu diikuti peningkatan produktivitas, kepastian pendapatan, dan kualitas pekerjaan.
Petani singkong, misalnya, menghadapi persoalan yang tak cukup dijawab dengan pujian terhadap potensi pertanian. Mereka membutuhkan harga yang layak, posisi tawar yang lebih kuat, akses pasar, dan tata niaga yang sehat.
Jika nilai tambah terbesar baru tercipta setelah bahan mentah meninggalkan tangan petani, Lampung perlu memastikan produsen lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk menikmati manfaat pengolahan dan perdagangan.
Pertumbuhan untuk siapa?
Investasi masuk, industri berkembang, dan infrastruktur dibangun. Semua itu penting bagi kemajuan daerah. Tetapi keberhasilannya perlu diuji melalui manfaat yang dirasakan masyarakat.
Apakah petani memperoleh harga yang lebih baik? Apakah anak muda semakin mudah mendapatkan pekerjaan berkualitas? Apakah usaha kecil memiliki kesempatan berkembang? Apakah pendapatan masyarakat meningkat seiring pertumbuhan ekonomi?
Pertanyaan ini penting karena pertumbuhan 5,28 persen pada 2025 dan berlanjut sedikit lebih baik tahun ini adalah ukuran kinerja ekonomi secara agregat, bukan bukti bahwa seluruh kelompok masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan dengan kadar yang sama.
Hilirisasi juga perlu dinilai dengan ukuran yang lebih luas daripada jumlah pabrik atau besarnya investasi. Keberhasilannya harus terlihat pada tumbuhnya industri lokal, keterlibatan petani dan usaha kecil, penciptaan pekerjaan berkualitas, serta meningkatnya nilai tambah yang tinggal di Lampung.
Pembangunan bukan sekadar membuat kue ekonomi semakin besar, melainkan memperluas kesempatan agar lebih banyak warga memperoleh bagian yang layak.
Jangan hanya mengaduk permukaan
Dalam secangkir kopi, gula bisa mengendap di dasar. Permukaannya mungkin terasa manis, tetapi tegukan terakhir menyisakan rasa berbeda.
Pembangunan pun dapat terlihat menjanjikan di permukaan, sementara persoalan mendasar belum terselesaikan. Investasi bertambah, tetapi hubungan industri dengan produsen lokal belum kuat. Produksi meningkat, tetapi pendapatan petani belum tentu membaik. Ekonomi tumbuh, tetapi pekerjaan berkualitas belum menjangkau semua orang.
Karena itu, pemerintah perlu mengukur keberhasilan lebih jauh daripada serapan anggaran, jumlah proyek, atau nilai investasi. Yang juga harus diperiksa ialah perubahan pendapatan masyarakat, mutu pekerjaan, produktivitas usaha lokal, dan pemerataan kesempatan ekonomi.
Pers perlu terus menguji klaim keberhasilan dengan data. Masyarakat berhak meminta penjelasan. Pelaku usaha pun perlu membangun kemitraan yang membuat produsen lokal tumbuh bersama industri, bukan sekadar menjadi pemasok bahan baku.
Kritik semacam ini bukan penolakan terhadap kemajuan. Justru sebaliknya, kritik membantu memastikan bahwa pembangunan tidak berhenti pada angka yang terlihat baik, tetapi menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan.
Manis yang harus dibagi
Kita tidak perlu curiga terhadap setiap keberhasilan. Investasi patut disambut, industri perlu tumbuh, dan pemerintah layak mendapat apresiasi ketika kebijakannya membawa hasil nyata.
Namun, keberhasilan tidak boleh berhenti pada seremoni dan angka. Ia harus terlihat dalam pendapatan yang membaik, pekerjaan yang lebih layak, kesempatan usaha yang terbuka, dan pelayanan publik yang semakin bermutu.
Lampung tidak kekurangan potensi. Tantangannya ialah mengubah kekayaan tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang memperbaiki kehidupan masyarakat.
Kita kembali pada secangkir kopi. Menanam, memetik, mengolah, menyeduh, dan menyajikannya merupakan rangkaian kerja yang saling bergantung. Bagian setiap orang memang tidak harus sama, tetapi mereka yang berkontribusi semestinya memiliki kesempatan dan imbalan yang layak.
Jadi, ketika kopi terasa manis, jangan hanya bertanya apakah rasanya enak. Tanyakan juga siapa yang menanamnya, siapa yang mengolahnya, dan siapa yang menikmati keuntungan terbesarnya.
Begitu pula ketika Lampung tumbuh. Jangan hanya bertanya seberapa tinggi pertumbuhannya, tetapi juga siapa yang ikut sejahtera.
Sebab, pembangunan yang benar-benar berhasil bukan hanya ketika ekonomi daerah semakin besar, melainkan ketika semakin banyak warganya mampu menikmati hasil dari pertumbuhan itu.
Jangan malas mengaduk kopi. Manisnya pembangunan baru berarti ketika manfaatnya tidak berhenti di permukaan.*****
