Telur Lampung Melimpah, Peternak Terjepit: Masalahnya Ada di Jagung dan Pakan

Peternak ayam petelur sedang menghadapi tekanan ganda. Harga telur di tingkat peternak rendah, sementara biaya pakan terus meningkat. Persoalan ini kembali disampaikan Pinsar Petelur Nasional dalam Rapat Dengar Pendapat Umum bersama Komisi IV DPR RI, Rabu, 7 Oktober 2026.

@Iwa Perkasa

Menurut Pinsar, harga jagung pipilan kering kadar air 15 persen kini mencapai Rp7.500–Rp8.000 per kilogram. Jagung menyusun sekitar separuh formulasi pakan. Katul juga naik hingga sekitar Rp6.000 per kilogram, sedangkan konsentrat berada di kisaran Rp9.000–Rp9.500. Dengan formulasi tersebut, biaya pakan diperkirakan mencapai Rp8.155 per kilogram.

Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak sejak April berada sekitar Rp19.000–Rp20.000 per kilogram dan sempat jatuh menjadi Rp17.100 pada Juni. Pinsar menghitung harga pokok produksi telur mencapai Rp26.911 per kilogram sehingga peternak berpotensi merugi Rp5.000–Rp7.000 per kilogram.

Persoalan ini penting bagi Lampung. Data BPS mencatat produksi telur ayam ras petelur Lampung pada 2025 mencapai 220.029 ton, menempatkannya di peringkat ketujuh nasional dan keempat di Sumatera. Angka itu merupakan data 2025, bukan produksi 2026, karena data tahunan 2026 belum tersedia.

Kabar baiknya, harga telur di Lampung masih stabil Rp25.000/kg. Yang menjadi persoalan adalah jagung. Meski daerah ini merupakan salah satu sentra jagung, berdasarkan laporan Bapanas pada pemantauan 7 September 2026, tercatat harga jagung pipilan kering di tingkat peternak Lampung mencapai Rp6.600 per kilogram, atau di atas harga acuan Rp5.500. Pemerintah memang menjalankan SPHP jagung pakan, tetapi persoalan ketersediaan dan distribusi masih menjadi perhatian. Paradoks in kerap muncul, padahal daerah ini basis produksi jagung sekaligus merupakan sentra telur, tetapi peternaknya tetap menghadapi tekanan biaya pakan.

Tingginya harga jagung pipilan otomatis menaikkan biaya pakan. Pakan mahal menekan margin. Produksi telur besar, sementara daya serap pasar terbatas, harga pun tertekan hingga  peternak akhirnya terjepit dari dua sisi.

Karena itu, persoalan telur Lampung tidak cukup diselesaikan dengan menaikkan harga telur atau menyediakan jagung murah sesaat. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang menghubungkan petani jagung, pabrik pakan, peternak, distribusi dan pasar.

Hilirisasi juga menjadi penting. Produksi telur yang besar harus memiliki pasar yang lebih luas, termasuk melalui pengolahan telur sehingga kelebihan pasokan tidak selalu berakhir sebagai tekanan harga.

Pekerjaan rumah Lampung bukan sekadar mengejar produksi, tetapi memastikan jagung, pakan, telur dan pasar tersambung dalam satu rantai ekonomi yang sehat.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *