BPS menyoroti pertumbuhan konsumsi restoran dan hotel serta mobilitas masyarakat. Namun, apakah traveling cukup membuktikan daya beli masyarakat masih kuat?
JAKARTA – Daya beli masyarakat Indonesia dinilai masih terjaga. Salah satu penopangnya adalah meningkatnya mobilitas masyarakat, termasuk perjalanan wisata, serta pengeluaran untuk restoran dan hotel. Namun, apakah ramainya aktivitas jalan-jalan dan konsumsi rekreatif cukup untuk membuktikan bahwa daya beli masyarakat benar-benar kuat?
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Hari Wibowo dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat dalam pertemuan di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Pemerintah menilai anggapan bahwa daya beli masyarakat melemah perlu dilihat bersama indikator aktivitas ekonomi lainnya. Konsumsi masyarakat tidak hanya tercermin dari pembelian barang kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dari pengeluaran untuk transportasi, perjalanan, penginapan, restoran, dan berbagai layanan.
BPS mencatat konsumsi pada sektor restoran dan hotel tumbuh di atas 6% pada semester I-2026. Peningkatan mobilitas masyarakat turut mendukung aktivitas di sektor transportasi dan pariwisata.
Perubahan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin banyak membelanjakan uang untuk jasa dan pengalaman, bukan hanya barang. Transaksi digital, termasuk pembayaran menggunakan QRIS, juga menjadi bagian dari perubahan pola konsumsi tersebut.
Namun, meningkatnya pengeluaran untuk perjalanan dan rekreasi tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh masyarakat memiliki daya beli yang kuat. Aktivitas konsumsi di satu sektor perlu dibaca bersama pendapatan rumah tangga, inflasi, kondisi ketenagakerjaan, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok.
Di sinilah persoalannya. Orang yang masih mampu bepergian atau makan di restoran belum tentu mewakili kondisi seluruh masyarakat. Sebaliknya, meningkatnya pengeluaran untuk jasa juga tidak otomatis berarti masyarakat sedang berfoya-foya. Untuk memahami kondisi sebenarnya, diperlukan gambaran yang lebih menyeluruh tentang siapa yang berbelanja, berapa besar pengeluarannya, dan bagaimana kondisi keuangan rumah tangga mereka.
Pemerintah juga menyoroti persoalan pasokan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi inflasi. Ketika permintaan meningkat tetapi ketersediaan barang terbatas, harga dapat terdorong naik. Karena itu, menjaga pasokan dan stabilitas harga tetap penting agar peningkatan aktivitas ekonomi tidak diikuti tekanan biaya hidup yang semakin berat.
Perubahan pola konsumsi memang dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Namun, indikator tersebut tidak boleh dibaca secara terpisah dari realitas rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi restoran dan hotel perlu dilihat bersama perkembangan daya beli kelompok berpenghasilan rendah, harga kebutuhan pokok, serta pendapatan pekerja.
Pertanyaan tentang daya beli tidak cukup dijawab dengan melihat ramainya tempat wisata, hotel, restoran atau club malam. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat masih mampu memenuhi kebutuhan pokok, memiliki sisa pendapatan setelah membayar kebutuhan rutin, dan menikmati peningkatan kesejahteraan secara nyata.
Sebab, ekonomi yang sehat bukan hanya ekonomi yang membuat orang mampu bepergian, tetapi juga ekonomi yang membuat masyarakat dapat hidup layak tanpa terus-menerus khawatir tentang biaya hidup.(iwa)
