BANDAR LAMPUNG — Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung pada 2026 mencapai 74,74, meningkat 0,76 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhannya sekitar 1,03 persen, lebih tinggi daripada rata-rata pertumbuhan tahunan periode 2020–2025 yang tercatat 0,81 persen.
@Iwa Perkasa
Capaian tersebut menjadi modal bagi Pemerintah Provinsi Lampung untuk mendorong percepatan pembangunan manusia dalam beberapa tahun ke depan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung bahkan membidik peningkatan yang lebih signifikan pada 2028–2029, dengan memperkuat akses pendidikan, infrastruktur, dan mutu pengajaran.
“Kami sudah memulainya, dan bertekad bulat mencatatkan angka lebih tinggi melalui sekolah terbuka dan perbaikan infrastruktur dan mutu pengajaran,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Thomas Amirico, Jumat (06/11/2026).
Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa tantangan pendidikan masih cukup besar. Dari empat indikator penyusun IPM, rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk berusia 25 tahun ke atas baru mencapai 8,70 tahun. Angka ini meningkat 0,09 tahun dibandingkan 2025.
Sementara itu, harapan lama sekolah (HLS) penduduk berusia tujuh tahun ke atas mencapai 12,80 tahun, hanya bertambah 0,01 tahun. Perbedaan perkembangan kedua indikator tersebut penting dicermati. Harapan lama sekolah menggambarkan peluang pendidikan yang diharapkan dapat ditempuh anak-anak, sedangkan rata-rata lama sekolah menunjukkan capaian pendidikan penduduk dewasa.
Dengan demikian, tantangannya bukan hanya memastikan anak-anak tetap bersekolah, tetapi juga memperbaiki capaian pendidikan generasi yang saat ini sudah memasuki usia produktif.
Di luar pendidikan, dimensi kesehatan dan standar hidup layak juga mengalami peningkatan. Umur harapan hidup saat lahir mencapai 74,93 tahun, bertambah 0,22 tahun. Adapun pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan mencapai Rp12,327 juta, naik Rp644 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan seluruh indikator tersebut menunjukkan perbaikan pembangunan manusia tidak hanya ditopang satu dimensi. Meski demikian, pendidikan tetap menjadi ruang penting untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia Lampung.
Tantangan itu juga terlihat dari kesenjangan antardaerah. BPS mencatat IPM Kota Bandar Lampung mencapai 81,84 dan Kota Metro 81,82. Keduanya telah masuk kategori pembangunan manusia sangat tinggi. Sebaliknya, Kabupaten Mesuji masih berada pada posisi terendah dengan IPM 70,04. Sebanyak 13 kabupaten lainnya berada dalam kategori pembangunan manusia tinggi.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan IPM provinsi belum otomatis menggambarkan pemerataan kualitas pembangunan manusia di seluruh wilayah. Akses pendidikan, ketersediaan fasilitas, distribusi tenaga pengajar, dan mutu pembelajaran perlu menjadi perhatian bersama.
Pengembangan sekolah terbuka yang disampaikan Thomas menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas akses pendidikan, terutama bagi masyarakat yang menghadapi hambatan untuk mengikuti pendidikan melalui jalur reguler. Namun, keberhasilannya perlu diukur bukan semata dari bertambahnya peserta didik, melainkan juga keberlanjutan belajar dan peningkatan capaian pendidikan.
Demikian pula pembangunan infrastruktur pendidikan. Ketersediaan ruang belajar dan fasilitas yang memadai perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi guru, kualitas proses pembelajaran, serta kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
IPM Lampung yang tumbuh lebih cepat pada 2026 merupakan perkembangan positif. Tetapi, lompatan berikutnya tidak cukup hanya mengejar angka indeks. Ukuran yang lebih mendasar adalah semakin banyak penduduk menuntaskan pendidikan, memperoleh keterampilan yang relevan, dan memiliki peluang hidup yang lebih baik.
Tantangan ini tidak ringan. Dinas Pendidikan Provinsi Lampung bersama dinas pendidikan kabupaten/kota harus membangun sinergi yang kuat. Target pertumbuhan IPM yang lebih tinggi, terutama pada indikator yang menjadi ranah sektor pendidikan, tidak boleh berhenti sebagai mimpi atau sekadar tertulis dalam dokumen perencanaan. Target itu harus diterjemahkan menjadi program, langkah terukur, dan hasil nyata yang dapat diwujudkan pada 2028–2029.
