Ada masa ketika kekuasaan terasa seperti rumah besar dengan pintu-pintu terkunci rapat. Orang-orang di dalamnya saling percaya, bukan selalu karena kesetiaan, melainkan karena memiliki kepentingan yang sama. Mereka berbagi ruang, menyusun langkah, menjaga rahasia, dan mungkin merasa tidak ada kekuatan dari luar yang mampu mengusik bangunan itu.
@Iwa Perkasa

Namun, rumah yang didirikan di atas fondasi rapuh tidak pernah benar-benar aman. Retaknya bisa bermula dari dalam. Bukan karena badai yang datang dari luar, melainkan karena tiang-tiang penyangganya mulai saling mencurigai, dan juga oleh perangai berpura-pura, padahal menjalankan siasat.
Perkara penyadapan yang belakangan menjadi perhatian publik mungkin hanya satu jendela kecil untuk melihat pertarungan yang lebih besar. Di baliknya, ada pertanyaan tentang hubungan kekuasaan, kepentingan, kesetiaan, dan rahasia yang selama ini mungkin tersimpan di antara orang-orang yang pernah berada dalam lingkaran yang sama.
Kita tentu tidak boleh buru-buru menyimpulkan siapa berada di pihak siapa. Apalagi menjadikan desas-desus sebagai kebenaran. Tetapi dinamika ini mengingatkan pada satu watak klasik kekuasaan, bahwa sekutu bisa bertahan selama kepentingan mereka berimpit. Begitu arah kepentingan berubah, tangan yang dahulu saling menggenggam bisa berubah menjadi tangan yang saling menunjuk.
Di sinilah metafora karma menemukan maknanya.
Karma kekuasaan bukan semata-mata ketika seseorang menerima perlakuan yang dahulu mungkin pernah ia berikan kepada orang lain. Lebih dalam dari itu, karma adalah ketika benih yang ditanam sendiri tumbuh menjadi pohon yang menaungi sekaligus mengancam penanamnya. Ketika cara-cara yang dahulu dianggap efektif untuk mempertahankan kekuasaan justru menjadi sumber ketakutan saat kekuasaan mulai retak. Saat siasat bertemu siasat.
Sejarah politik tidak kekurangan cerita tentang orang-orang yang pernah berjalan beriringan, kemudian saling berhadapan. Mereka mungkin pernah berbagi panggung, membagi peran, dan saling menjaga kepentingan. Namun, tidak ada jaminan bahwa kesepakatan di ruang tertutup akan bertahan ketika perebutan pengaruh dimulai.
Kekuasaan memiliki kemampuan aneh untuk membuat orang merasa tak terkalahkan. Ketika berada di puncak, batas antara kewenangan dan kesewenang-wenangan bisa menjadi kabur. Kritik dianggap gangguan. Pengawasan dipandang ancaman. Loyalitas lebih dihargai daripada integritas. Hukum dan etika kadang hanya diperlakukan sebagai pagar yang bisa dipindahkan ketika menghalangi jalan.
Dalam suasana seperti itu, kecurangan dapat tumbuh bukan sebagai tindakan individual, melainkan sebagai kebiasaan yang ditoleransi bersama. Masing-masing merasa aman karena yang lain memiliki kepentingan untuk menjaga rahasia yang sama.
Tetapi rahasia adalah mata uang yang berbahaya. Selama hubungan baik, ia menjadi alat saling melindungi. Ketika hubungan memburuk, ia berubah menjadi alat tawar, bahkan senjata. Orang yang paling banyak mengetahui rahasia sekutunya bisa menjadi orang yang paling ditakuti.
Maka, ketika lingkaran itu mulai pecah, yang muncul bukan hanya pertengkaran terbuka. Ada kecemasan, saling curiga, dan kemungkinan terbongkarnya hal-hal yang sebelumnya tertutup rapat.
Perkara penyadapan membawa publik pada pertanyaan yang lebih mendasar. Siapa mengawasi siapa? Untuk kepentingan apa? Apakah ada penyalahgunaan kewenangan? Siapa yang bertanggung jawab jika hak privasi dilanggar?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak boleh tenggelam oleh drama antartokoh. Penyadapan tanpa dasar hukum dan prosedur yang sah merupakan persoalan serius. Negara hukum tidak boleh membiarkan teknologi pengawasan menjadi alat untuk mengintimidasi, mengendalikan, atau menyelesaikan persaingan politik.
Jika ada dugaan keterlibatan pejabat atau kelompok tertentu, semuanya harus dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum yang transparan. Tidak cukup dengan potongan percakapan, narasi podcast, atau desas-desus yang beredar di ruang publik.
Namun, publik juga berhak mengetahui apakah perkara ini berdiri sendiri atau berkaitan dengan praktik kekuasaan yang lebih luas. Apakah yang sedang terlihat hanyalah ujung benang dari kusutnya hubungan di antara orang-orang yang pernah berada dalam satu lingkaran kepentingan?
Pertanyaan itu layak dijawab, bukan dengan spekulasi, melainkan dengan keberanian membuka fakta.
Kekuasaan tidak pernah benar-benar abadi
Ada kesalahan yang kerap dilakukan orang-orang ketika terlalu lama berada di sekitar pusat kekuasaan. Mereka mengira posisi adalah perlindungan, kedekatan adalah jaminan, dan kesepakatan adalah ikatan yang tidak mungkin putus. Mereka menyangka kesepakatan abadi, sekalipun jiwa dan pikirannya ingin berkuasa sendiri.
Padahal, kekuasaan selalu bergerak. Orang yang hari ini menentukan arah bisa esok kehilangan pengaruh. Mereka yang dahulu berdiri di belakang layar bisa tampil di depan. Dan orang-orang yang pernah merasa memiliki kendali atas banyak hal, suatu saat harus menghadapi pertanyaan yang sama seperti warga biasa.
Karma kekuasaan bekerja bukan melalui petir yang menyambar tiba-tiba. Ia bisa datang perlahan, melalui retaknya kepercayaan, berubahnya kesetiaan, terbukanya rahasia, dan runtuhnya perlindungan yang dahulu dianggap tak tergoyahkan.
Persengkongkolan yang dibangun dengan kecurangan untuk kekuasan pada akhirnya menghadapi persoalan paling mendasar. Setiap orang di dalamnya memiliki kepentingan sendiri, tidak ada kesetiaan yang benar-benar kokoh ketika perekat utamanya adalah keuntungan (kerakusan/mabuk kekuasaan)
Mungkin itulah ironi terbesar dari kekuasaan yang mabuk. Mereka sibuk membangun pagar untuk melindungi diri dari musuh, tetapi lupa bahwa keretakan paling berbahaya justru bisa tumbuh dari dalam rumah sendiri.
Dan ketika rumah itu mulai terbakar, mereka yang dahulu bersama-sama menyalakan api bisa saling menuduh siapa yang pertama membawa korek.
Kekuasaan dapat menyembunyikan kecurangan untuk sementara, tetapi tidak bisa menjamin rahasia akan tetap terkubur selamanya. Ketika persengkongkolan mulai memakan dirinya sendiri, karma kekuasaan sedang menemukan jalannya.
