Mengintegrasikan wisata religi, kuliner, dan produk UMKM, Loka Alba disiapkan menjadi ruang ekonomi baru di pusat Bandar Lampung. Seberapa besar peluangnya menggerakkan usaha lokal?
@Iwa Perkasa
Loka Alba merupakan bagian dari kompleks Masjid Raya Al-Bakrie Lampung di Enggal, Bandar Lampung. Kawasan ini dikembangkan sebagai pusat kuliner dan oleh-oleh khas Lampung sekaligus ruang pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Nomics belum memperoleh penjelasan resmi mengenai asal-usul dan filosofi nama Loka Alba. Namun, loka dalam bahasa Sanskerta berarti dunia, alam, tempat, atau ruang. Sementara alba dalam bahasa Latin berarti putih dan berkaitan pula dengan fajar. Keduanya bukan gabungan kata dalam bahasa Arab. Karena itu, nama tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai istilah Islam.

Nomics dapat merasakan, sepertinya kawasan ini sengaja dikembangkan sebagai pusat ekonomi baru berbasis UMKM untuk mengkapitalisasi momentum ramainya tamu yang akan datang ke Lampung pada 2027. Ada dua event besar, POR Korpri dan Porwanas.
Pemerintah Provinsi Lampung mendukung pengembangan kawasan ini. Dalam pembahasan pengelolaan Loka Alba, Jumat (6/11/2026), Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan menyampaikan rencana integrasi kompleks masjid dengan Lapangan Saburai. Konsepnya memadukan kegiatan keagamaan, edukasi, kuliner, olahraga, dan aktivitas masyarakat.
Sebagaimana diberitakan dalam rilis resmi Biro Administrasi Pimpinan Pemprov Lampung, Loka Alba direncanakan memiliki 72 tenan. Sebanyak lima dialokasikan untuk Pemprov Lampung, lima untuk Pemkot Bandar Lampung, dua untuk pihak masjid, dan 60 lainnya dikelola operator Siger Foodies. Produk UMKM lokal akan diprioritaskan melalui mekanisme kurasi. Soft opening ditargetkan pada 27 November 2026.
Lokasi di pusat Kota Bandar Lampung menjadi modal penting. Arus jamaah, wisatawan, komunitas, dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan Enggal berpotensi menjadi pasar bagi produk kuliner dan oleh-oleh khas Lampung.
Dampaknya bisa meluas ke rantai usaha, mulai dari pemasok bahan baku, produsen makanan, pengolah hasil pertanian, pengemasan, transportasi, hingga tenaga kerja.
Lampung memiliki beragam produk yang dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai tambah, seperti kopi, olahan singkong, pisang, lada, dan makanan tradisional. Loka Alba berpeluang menjadi etalase produk unggulan kabupaten dan kota. Pengunjung tidak hanya datang untuk beribadah atau menikmati kawasan, tetapi juga mengenal dan membeli produk lokal.
Peluang ini sekaligus dapat mendukung agenda hilirisasi. Produk pertanian tidak cukup dijual sebagai bahan mentah. UMKM perlu didorong meningkatkan kualitas olahan, kemasan, standar keamanan pangan, dan daya saing.

Keberhasilan Loka Alba bergantung pada tata kelolanya. Mekanisme kurasi harus transparan dan memberi ruang bagi UMKM kecil, bukan hanya pelaku usaha yang telah memiliki modal dan jaringan pemasaran kuat.
Biaya sewa, persyaratan masuk, pola kemitraan, dan kesempatan berjualan perlu diperhatikan. Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Lampung bersama pemerintah kabupaten/kota dapat mengambil peran dalam menyiapkan pemasok, mendampingi peningkatan mutu produk, dan menghubungkan UMKM dengan pasar.
Pengelola juga perlu menetapkan ukuran keberhasilan yang terukur, seperti jumlah UMKM lokal yang terlibat, tenaga kerja terserap, perkembangan omzet, serta keterlibatan pemasok dari berbagai daerah. Dengan begitu, manfaat ekonomi tidak hanya diukur dari jumlah gerai atau keramaian pengunjung.
Integrasi dengan Lapangan Saburai juga membuka peluang menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang publik untuk olahraga, kegiatan komunitas, wisata keluarga, dan aktivitas ekonomi. Namun, persoalan parkir, lalu lintas, kebersihan, keamanan, dan penataan pedagang harus dikelola bersama oleh Pemprov dan Pemkot Bandar Lampung.
Masjid dan pemberdayaan ekonomi umat
Masjid sejak lama memiliki fungsi sosial selain sebagai tempat ibadah. Melalui Loka Alba, Masjid Raya Al-Bakrie berpeluang memperluas peran itu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Aktivitas komersial perlu berjalan berdampingan dengan kenyamanan beribadah. Kegiatan keagamaan, edukasi, dan sosial juga harus tetap menjadi bagian penting dari identitas kawasan tersebut.
Loka Alba diproyeksikan dapat menjadi simpul ekonomi baru di pusat Bandar Lampung. Namun, keberhasilannya tidak cukup ditentukan oleh megahnya kawasan atau banyaknya gerai yang dibuka. Ukuran utamanya adalah seberapa jauh kawasan ini membuka pasar bagi produk lokal, menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
*****
