Baru 25 Persen Sekolah Indonesia Ajarkan Coding dan AI, Lampung Mulai dari Mana?

Baru 25 persen sekolah Indonesia ajarkan coding dan AI. China, Singapura, dan Korea Selatan sudah melangkah. Bagaimana kesiapan sekolah di Lampung?

@Iwa Perkasa

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan baru sekitar 25 persen sekolah di Indonesia yang mengajarkan coding dan kecerdasan buatan (AI). Pernyataan itu disampaikan dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) di Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat malam (2/10). Di sejumlah negara Asia, AI sudah masuk ruang kelas, sementara di Lampung, laporan yang tersedia masih berfokus pada pembenahan fasilitas sekolah.

Di Indonesia, coding dan AI dibuka sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas 5 SD hingga SMA atau sederajat, dan dijalankan bertahap sejak tahun ajaran 2025/2026. Menurut penjelasan Kemendikdasmen pada 2025, alokasinya 72 jam per tahun untuk kelas 5, 7, 8, dan 10, serta 64 jam untuk kelas 6 dan 9, sedangkan di kelas 11 dan 12 diintegrasikan dengan pelajaran lain.

Sekolah boleh menyelenggarakannya dalam bentuk kokurikuler atau ekstrakurikuler. Abdul Mu’ti menyebut pelaksanaannya membutuhkan pelatihan guru, dan Kemendikdasmen berupaya memasukkan coding dan AI ke dalam RUU Sisdiknas. Pemerintah juga mengembangkan pendekatan STEM 5M: mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful.

Langkah serupa sudah lebih jauh di sejumlah negara Asia. Di China, mulai musim gugur 2025 seluruh murid SD dan SMP di Beijing dan beberapa distrik lain belajar AI. Kelas 3 mempelajari dasar-dasarnya, kelas 4 berfokus pada data dan coding, dan kelas 5 mempelajari agen cerdas dan algoritma. Beijing mewajibkan minimal delapan jam pelajaran AI per tahun. Laporan ABC News Australia menyebut sekolah di sebagian wilayah China diwajibkan mengajarkan AI minimal enam jam setahun untuk kelas rendah dan satu jam setiap dua pekan untuk kelas tinggi. Tujuannya, menurut laporan NPR, menyiapkan tenaga profesional yang melek AI. Kementerian Pendidikan China pada 2024 juga meminta sekolah mulai mengenalkan AI sejak SD kelas bawah.

Singapura memasukkan literasi AI ke kurikulum. Menteri Pendidikan Desmond Lee menyatakan pemerintah berupaya menghindari cognitive offloading, yaitu kebiasaan menyerahkan proses berpikir kepada mesin. Laporan ABC juga mencatat adanya penelitian yang mulai menyoroti potensi risiko teknologi ini terhadap kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa.

Pengalaman Korea Selatan menunjukkan sisi lain. Negara itu meluncurkan buku teks digital bertenaga AI untuk matematika, bahasa Inggris, dan informatika pada Maret 2025. Menurut laporan Privacy International, program tersebut menelan lebih dari 1,2 triliun won dana publik. Program ini digugat guru dan orang tua, dengan alasan risiko privasi data, bertambahnya waktu layar, dan minimnya konsultasi. Pada 4 Agustus 2025, Majelis Nasional mengubah statusnya dari buku teks resmi menjadi materi pendukung. Adopsi turun hampir separuh dalam satu semester, dan hanya 2.095 sekolah yang masih memakainya.

Di Lampung, program revitalisasi sekolah menjadi sorotan. Dalam laporan progres Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Lampung, 627 sekolah di provinsi ini direnovasi sepanjang 2025, dengan pencairan dana 97,19 persen atau sekitar Rp500 miliar. Lampung Selatan menjadi penerima terbanyak dengan 102 sekolah.

Untuk 2026, Kemendikdasmen menyatakan 1.544 satuan pendidikan di Lampung layak diverifikasi sebagai calon penerima. Di Tulang Bawang, per akhir April, 38 sekolah telah selesai direvitalisasi dengan anggaran Rp41,6 miliar, dan 62 sekolah lain (9 PAUD, 38 SD, dan 15 SMP) telah diverifikasi untuk tahap berikutnya. Salah satunya SMP Negeri 2 Menggala, yang menerima Rp2,15 miliar untuk lima ruang kelas baru, ruang administrasi, UKS, dan toilet.

Untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB, Pemprov Lampung mengusulkan 235 sekolah. Pada akhir Juli, 108 sekolah (83 SMA, 22 SMK, dan 3 SLB) masuk daftar penanganan. Dalam keterangan terpisah pada Agustus, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Thomas Amirico menyebut 140 SMA dan SMK di 15 kabupaten/kota dipastikan mendapat perbaikan. Sekolah dengan kerusakan bangunan di atas 70 persen menjadi prioritas, seluruh dananya berasal dari APBN, dan Pemprov belum menyiapkan alokasi khusus dari APBD 2026 untuk infrastruktur sekolah. Di Lampung Utara, 123 satuan pendidikan (79 SD, 7 SMP, dan 37 PAUD) menerima revitalisasi. Per 30 September, 31 SD telah memasuki tahap pelaksanaan dan 47 lainnya menuju penandatanganan perjanjian kerja sama.

Di sisi digital, laporan April menyebut kesiapan satuan pendidikan di Lampung untuk Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 mencapai 99,96 persen untuk SD/MI, 99,77 persen untuk SMP/MTs, 94 persen untuk pendidikan kesetaraan, dan 74 persen untuk SLB. Di Lampung Barat, TKA SD pada 21 April sudah memakai laptop.

Sebanyak 111.165 siswa SMA, SMK, SLB, dan Paket C di Lampung akan mengikuti TKA pada 26 Oktober hingga 8 November 2026. Disdikbud menyiapkan strategi pengajaran ganda (double teaching) untuk menguatkan pembelajaran di kelas. Menurut Thomas Amirico, TKA “bukan sekadar tes”, melainkan alat memetakan kemampuan akademik siswa secara akurat. Data jumlah sekolah di Lampung yang sudah mengajarkan coding dan AI belum tersedia dalam laporan yang dihimpun.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *